Syiahindonesia.com - Sejarah Islam adalah rekaman emas perjalanan wahyu, perjuangan Rasulullah SAW, dan kegemilangan para sahabat dalam menyebarkan dakwah ke seluruh penjuru dunia. Sejarah yang tepercaya menjadi jembatan bagi generasi hari ini untuk memahami syariat secara utuh. Namun, kelompok Syiah Rafidhah menyadari bahwa narasi sejarah yang asli dan otentik ini adalah batu sandungan terbesar bagi tegaknya doktrin teologi mereka. Oleh karena itu, secara sistematis mereka berusaha menghapus, mendistorsi, dan mengganti jejak sejarah Islam yang asli dengan narasi baru yang penuh dendam dan khurafat. Berikut adalah beberapa strategi utama yang mereka gunakan untuk memanipulasi sejarah umat Islam.
1. Rekayasa Total Terhadap Era Khulafaur Rasyidin
Dalam catatan sejarah Islam yang asli dan diakui dunia, era kepemimpinan Abu Bakar, Umar, dan Utsman adalah masa ekspansi dakwah, kodifikasi Al-Qur'an, dan stabilitas sosial yang luar biasa. Hubungan antara ketiga khalifah tersebut dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib juga berjalan sangat harmonis dan penuh saling menghormati.
Syiah berusaha menghapus jejak keharmonisan ini dengan menciptakan sejarah tandingan. Mereka menggambarkan era tersebut sebagai zaman kegelapan, konspirasi politik, dan penindasan sistematis terhadap keturunan Nabi. Dengan menghapus narasi kejayaan Khulafaur Rasyidin, Syiah ingin menanamkan persepsi bahwa mayoritas sahabat adalah pengkhianat, sehingga seluruh produk hukum dan sejarah yang lahir dari era mereka harus ditolak.
2. Memalsukan Riwayat Melalui Modifikasi Kitab Klasik
Salah satu cara paling berbahaya yang dilakukan oleh para akademisi dan penerbit Syiah adalah melakukan infiltrasi dan distorsi terhadap kitab-kitab sejarah klasik karya ulama Ahlussunnah. Mereka mencetak ulang kitab-kitab tarikh kuno dengan membuang bagian-bagian yang memuji para sahabat atau yang menceritakan penyimpangan sekte Syiah di masa lalu.
Sebaliknya, mereka memasukkan riwayat-riwayat palsu (hadits maudhū') dan kisah-kisah fiktif ke dalam catatan kaki atau lampiran untuk mengelabui pembaca awam. Akibatnya, generasi muda Muslim yang kurang teliti dapat terkecoh dan mengira bahwa kisah-kisah miring tentang sahabat Nabi tersebut memang diakui oleh sejarawan Sunni terdahulu.
3. Mengubah Fokus Hari Besar Islam Menjadi Ritual Sektarian
Islam memiliki hari-hari bersejarah yang berorientasi pada ibadah dan persatuan universal, seperti Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, dan Hari Arafah. Syiah berusaha mengaburkan signifikansi hari-hari besar ini dengan menciptakan dan memprioritaskan kalender sejarah mereka sendiri yang sarat akan polarisasi politik masa lalu.
Mereka mendidik pengikutnya untuk lebih mengagungkan "Hari Raya Ghadir Khum" (yang diklaim sebagai hari penunjukan Ali sebagai nabi/khalifah) daripada Idul Fitri. Mereka juga mengeksploitasi momentum bulan Muharram secara berlebihan melalui ritual meratap dan menyiksa diri, guna memastikan bahwa emosi umat selalu tertuju pada dendam kematian Sayyidina Husain, sekaligus menghapus ingatan tentang keutamaan puasa Asyura yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
4. Politisasi Peninggalan Arkeologis dan Makam Sejarah
Di wilayah-wilayah yang berada di bawah pengaruh kekuasaan atau geografi Syiah, terdapat upaya sistematis untuk mengubah identitas situs-situs bersejarah Islam. Makam para sahabat Nabi yang lurus sering kali diabaikan, dirusak, atau bahkan diubah narasinya menjadi makam tokoh-tokoh Syiah.
Sebaliknya, mereka membangun bangunan-bangunan megah di atas makam tokoh-tokoh yang memiliki rekam jejak merusak Islam, seperti makam Abu Lu'lu'ah Al-Majusi (pembunuh Khalifah Umar bin Khattab) yang di beberapa tempat dihormati bagai pahlawan. Politisasi situs arkeologi ini bertujuan untuk mengaburkan fakta fisik tentang siapa sebenarnya para pejuang Islam yang sejati dan siapa para pengkhianatnya.
Perbandingan Narasi Sejarah: Fakta Islam vs Distorsi Syiah
Mengapa Umat Islam di Indonesia Harus Waspada?
Upaya penghapusan dan pendistorsian sejarah ini sudah mulai masuk ke dalam literatur-literatur akademis, buku bacaan sekolah, hingga konten media sosial di Indonesia. Targetnya adalah para mahasiswa dan generasi muda:
Membuat Umat Ragu pada Agamanya: Jika sejarah awal Islam dianggap penuh dengan kelicikan politik, anak muda akan kehilangan kebanggaan terhadap peradaban Islam.
Memutus Sanad Ilmu: Ketika kepercayaan terhadap para sahabat Nabi hilang, maka runtuhlah otoritas hadits-hadits shahih yang menjadi rujukan fiqih kita sehari-hari.
Mempermudah Infiltrasi Ideologi: Dengan mengaburkan fakta sejarah, Syiah dapat dengan mudah mengemas diri mereka sebagai korban yang teraniaya demi menarik empati publik.
Kesimpulan
Upaya Syiah dalam menghapus dan mengubah jejak sejarah Islam yang asli adalah ancaman nyata bagi keutuhan akidah dan ilmu pengetahuan umat. Islam tidak membutuhkan sejarah yang direkayasa atau dipenuhi dengan dongeng kebencian untuk terlihat mulia. Sejarah Islam yang asli adalah sejarah yang jujur, terang benderang, dan membanggakan. Menjaga otentisitas sejarah dari distorsi kaum Rafidhah adalah bagian dari jihad ilmiah untuk mempertahankan kemurnian dinul Islam hingga akhir zaman.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: