Syiahindonesia.com - Salah satu metode paling sistematis yang digunakan Syiah dalam menyebarkan ajaran menyimpang adalah melalui produksi dan distribusi buku-buku keagamaan yang berisi riwayat palsu, tafsir menyimpang, serta doktrin ideologis yang dibungkus dengan istilah ilmiah dan kecintaan kepada Ahlul Bait. Buku-buku ini sering diterjemahkan ke berbagai bahasa, disebarkan secara gratis, atau dipasarkan dengan tampilan akademis agar tampak kredibel di mata umat Islam awam. Di balik tampilan tersebut, tersembunyi upaya serius untuk merusak fondasi akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan menanamkan keraguan terhadap Al-Qur’an, Sunnah, serta generasi sahabat Nabi ﷺ.
Buku sebagai Sarana Paling Efektif Penyebaran Ideologi
Sejak dahulu, buku adalah alat utama dalam membentuk cara berpikir umat. Syiah memahami betul bahwa ceramah bisa dilupakan, tetapi tulisan yang dibaca berulang-ulang akan membentuk keyakinan. Karena itu, mereka memproduksi banyak kitab yang tidak sekadar membahas sejarah atau fikih, tetapi secara perlahan menggiring pembaca untuk menerima konsep imamah, kemaksuman imam, serta kebencian terhadap para sahabat Nabi ﷺ.
Masalah utama dari buku-buku tersebut bukan hanya perbedaan pendapat, tetapi sumber rujukan yang digunakan sering kali tidak memiliki standar ilmiah Islam yang sahih. Riwayat tanpa sanad, kisah tanpa perawi yang terpercaya, dan tafsir yang dipaksakan menjadi ciri umum literatur Syiah.
Kitab Hadis Syiah dan Masalah Keotentikan
Syiah memiliki kitab-kitab hadis sendiri yang sangat berbeda dengan kitab hadis Ahlus Sunnah. Banyak riwayat dalam kitab-kitab tersebut bertentangan secara frontal dengan Al-Qur’an dan hadis sahih. Bahkan, tidak sedikit hadis yang secara terang-terangan merendahkan Rasulullah ﷺ atau menuduh para sahabat sebagai pengkhianat.
Dalam Islam, hadis harus diverifikasi dengan ketat melalui sanad dan matan. Rasulullah ﷺ sendiri memperingatkan bahaya berdusta atas namanya:
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
“Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Peringatan ini menunjukkan bahwa pemalsuan hadis bukan dosa ringan, melainkan kejahatan besar terhadap agama.
Tafsir Palsu yang Dipaksakan demi Imamah
Banyak buku Syiah berisi tafsir Al-Qur’an yang dipaksakan untuk mendukung doktrin imamah. Ayat-ayat yang berbicara tentang ketaatan, kepemimpinan, atau keutamaan orang beriman ditakwil secara sepihak agar seolah-olah merujuk kepada Ali radhiyallahu ‘anhu dan imam-imam setelahnya. Tafsir semacam ini mengabaikan konteks ayat, penjelasan Nabi ﷺ, dan pemahaman para sahabat.
Padahal Allah Ta’ala memerintahkan agar Al-Qur’an dipahami dengan metode yang benar:
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
“Jika kalian berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.”
(QS. An-Nisa: 59)
Ayat ini menegaskan bahwa rujukan tafsir adalah wahyu dan sunnah, bukan klaim kelompok atau tokoh tertentu.
Buku Sejarah Palsu dan Fitnah terhadap Sahabat
Upaya Syiah menyesatkan umat juga tampak jelas dalam buku-buku sejarah versi mereka. Banyak buku tersebut menggambarkan sejarah Islam awal sebagai rangkaian pengkhianatan terhadap Ahlul Bait, dengan menjadikan para sahabat sebagai tokoh antagonis. Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu ‘anhum digambarkan sebagai perampas kekuasaan, sementara umat Islam Sunni diposisikan sebagai pewaris “kesalahan sejarah”.
Narasi ini sangat berbahaya karena merusak kepercayaan terhadap generasi yang Allah sendiri muliakan. Allah Ta’ala berfirman:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.”
(QS. At-Taubah: 100)
Menyebarkan buku yang mencela sahabat berarti menentang ayat ini secara langsung.
Buku Doa dan Ritual yang Tidak Bersumber dari Sunnah
Selain kitab sejarah dan hadis, Syiah juga menyebarkan buku-buku doa dan amalan yang berisi permohonan kepada para imam, seruan ghaib, dan ritual yang tidak pernah diajarkan Rasulullah ﷺ. Doa-doa ini sering diklaim berasal dari imam maksum, sehingga dianggap lebih tinggi daripada doa Nabi ﷺ sendiri.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ ﷺ
“Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ.”
(HR. Muslim)
Mengutamakan doa dan ritual buatan manusia di atas sunnah Nabi ﷺ adalah penyimpangan serius dalam ibadah.
Strategi Penyebaran Buku Syiah di Tengah Umat
Di banyak negara, termasuk Indonesia, buku-buku Syiah sering disebarkan melalui jalur intelektual: diskusi akademik, komunitas literasi, kajian kampus, dan media daring. Isinya dikemas dengan bahasa netral, penuh istilah filsafat dan sejarah, sehingga pembaca awam tidak langsung menyadari muatan ideologis di dalamnya.
Sering kali, buku-buku ini tidak menyebutkan identitas Syiah secara terbuka di awal, melainkan baru menampakkan penyimpangan setelah pembaca larut dalam narasi yang dibangun.
Dampak Buku Palsu terhadap Akidah Umat
Pengaruh buku palsu Syiah sangat berbahaya karena bekerja secara perlahan. Umat mulai meragukan sahabat, mempertanyakan keotentikan hadis Sunni, mencurigai Al-Qur’an, dan akhirnya menerima imamah sebagai kebenaran alternatif. Semua ini terjadi tanpa paksaan, tetapi melalui proses pembacaan yang berulang dan sistematis.
Inilah sebabnya para ulama Sunni sangat menekankan pentingnya sanad, rujukan, dan bimbingan ulama dalam membaca buku-buku agama. Ilmu agama tidak boleh diambil sembarangan dari tulisan yang tidak jelas sumber dan manhajnya.
Sikap Ahlus Sunnah terhadap Buku-Buku Menyesatkan
Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengajarkan sikap tegas namun ilmiah terhadap buku-buku yang menyesatkan. Buku semacam ini harus diwaspadai, dikritisi, dan dijelaskan penyimpangannya dengan hujjah, bukan diikuti atas nama toleransi atau keterbukaan intelektual. Toleransi tidak berarti mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan.
Allah Ta’ala memperingatkan:
وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dan janganlah kalian mencampuradukkan yang hak dengan yang batil dan menyembunyikan kebenaran, padahal kalian mengetahuinya.”
(QS. Al-Baqarah: 42)
Ayat ini menjadi dasar kewajiban menjelaskan kesesatan, termasuk yang tersebar melalui buku.
Peran Umat Islam dalam Menghadapi Propaganda Tertulis
Umat Islam dituntut untuk lebih selektif dalam membaca buku-buku keislaman, memastikan penulis dan penerbitnya berakidah lurus, serta merujuk kepada ulama yang dikenal amanah dalam ilmu. Pendidikan akidah yang kuat adalah benteng utama agar umat tidak mudah terpengaruh oleh tulisan yang tampak ilmiah tetapi berisi racun ideologis.
Penutup
Buku-buku palsu Syiah bukan sekadar karya tulis biasa, tetapi instrumen ideologis yang dirancang untuk menyesatkan umat Islam dari dalam. Dengan merusak pemahaman tentang sahabat, Al-Qur’an, Sunnah, dan tauhid, buku-buku tersebut menjadi ancaman serius bagi akidah umat. Oleh karena itu, kewaspadaan, ilmu, dan komitmen kepada manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah kunci untuk menjaga kemurnian Islam dari fitnah tertulis yang terus disebarkan secara sistematis.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: