Breaking News
Loading...

Penyimpangan Konsep Wilayah dalam Syiah yang Bertentangan dengan Islam

 


Syiahindonesia.com -
Salah satu doktrin paling mendasar dan kontroversial dalam ajaran Syiah adalah konsep wilayah (wilāyah), yang mereka jadikan sebagai pilar akidah dan ukuran keimanan seseorang. Dalam praktik dan literatur Syiah, wilayah tidak lagi dipahami sebagai bentuk kecintaan, loyalitas, dan penghormatan yang wajar kepada orang-orang shalih, melainkan berubah menjadi doktrin absolut yang menempatkan para imam sebagai otoritas ilahi yang wajib ditaati tanpa syarat. Penyimpangan inilah yang menjadikan konsep wilayah Syiah bertentangan secara prinsipil dengan ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi ﷺ sesuai pemahaman para sahabat.


Makna Wilayah dalam Islam yang Benar

Dalam Islam, wilayah bermakna loyalitas, kecintaan, dan pertolongan yang didasarkan pada iman kepada Allah dan ketaatan kepada Rasul-Nya. Wilayah tidak pernah dijadikan sebagai rukun iman baru atau standar keislaman seseorang. Al-Qur’an dengan jelas menetapkan bahwa wali kaum mukminin hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan kaum beriman secara umum.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿ إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا ﴾
“Sesungguhnya wali kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ma’idah: 55)

Ayat ini tidak pernah dipahami oleh para sahabat sebagai penetapan kepemimpinan ilahi bagi individu tertentu setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, melainkan sebagai penegasan ikatan iman di antara kaum Muslimin.


Wilayah dalam Syiah sebagai Doktrin Akidah

Berbeda dengan Islam Ahlus Sunnah, Syiah menjadikan wilayah sebagai doktrin akidah yang bersifat mutlak. Menurut mereka, iman seseorang tidak sah kecuali dengan mengakui wilayah Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه dan seluruh imam keturunannya. Bahkan, dalam sebagian kitab Syiah, orang yang tidak meyakini wilayah para imam dianggap kafir atau lebih buruk dari orang kafir.

Pandangan ini jelas menyimpang karena menambahkan syarat keimanan yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ. Islam tidak pernah mensyaratkan pengakuan terhadap figur tertentu setelah Nabi sebagai penentu keselamatan iman seseorang.


Wilayah dan Pengkultusan Imam

Penyimpangan terbesar konsep wilayah Syiah terlihat pada pengkultusan imam. Imam tidak hanya diposisikan sebagai pemimpin umat, tetapi dianggap maksum, mengetahui hal gaib, dan memiliki otoritas spiritual absolut atas manusia. Wilayah dalam Syiah menjadikan imam sebagai perantara keselamatan, bahkan diyakini memiliki wewenang menentukan nasib manusia di akhirat.

Padahal Rasulullah ﷺ sendiri menegaskan keterbatasan manusia dalam sabdanya:

« يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ، اعْمَلِي فَإِنِّي لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا »
“Wahai Fatimah binti Muhammad, beramallah engkau, karena aku tidak dapat menolongmu dari Allah sedikit pun.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika Rasulullah ﷺ saja tidak mengklaim otoritas keselamatan mutlak, maka menjadikan imam sebagai penentu iman dan keselamatan adalah bentuk penyimpangan yang sangat serius.


Wilayah sebagai Alat Politik dan Kekuasaan

Dalam sejarah, konsep wilayah Syiah tidak hanya bersifat teologis, tetapi juga digunakan sebagai alat politik. Kepatuhan mutlak kepada imam dijadikan legitimasi untuk menolak kepemimpinan sah umat Islam dan membenarkan pemberontakan, konflik, serta perpecahan. Wilayah dalam Syiah berubah menjadi ideologi politik yang memecah belah umat, bukan sarana menjaga persatuan.

Islam justru menekankan persatuan dan ketaatan kepada pemimpin kaum Muslimin selama tidak memerintahkan maksiat. Rasulullah ﷺ bersabda:

« عَلَيْكُمْ بِالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي عُسْرِكُمْ وَيُسْرِكُمْ »
“Wajib atas kalian mendengar dan taat dalam keadaan sulit maupun mudah.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa stabilitas umat lebih diutamakan daripada klaim ideologis yang memicu perpecahan.


Dampak Penyimpangan Wilayah terhadap Umat Islam

Penyimpangan konsep wilayah Syiah telah melahirkan sikap eksklusif, fanatisme buta, dan kebencian terhadap mayoritas umat Islam. Umat dibagi menjadi “pengikut wilayah” dan “musuh wilayah”, yang pada akhirnya merusak ukhuwah Islamiyah. Di banyak wilayah dunia Islam, konsep ini menjadi pemicu konflik berkepanjangan yang melemahkan kekuatan umat secara keseluruhan.

Di Indonesia, penyebaran paham wilayah Syiah berpotensi menimbulkan keguncangan akidah dan sosial jika tidak diantisipasi dengan pemahaman Islam yang lurus dan menyeluruh.


Wilayah Menurut Pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Ahlus Sunnah memahami wilayah sebagai kecintaan kepada seluruh sahabat Nabi ﷺ, Ahlul Bait, dan kaum beriman tanpa sikap ghuluw (berlebihan). Tidak ada individu yang dijadikan pusat iman atau objek loyalitas mutlak selain Allah dan Rasul-Nya. Inilah ajaran Islam yang seimbang, adil, dan menjaga kemurnian tauhid.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿ وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ﴾
“Dan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi wali bagi sebagian yang lain.” (QS. At-Taubah: 71)

Ayat ini menegaskan bahwa wilayah dalam Islam bersifat kolektif dan inklusif, bukan eksklusif dan sektarian.


Penutup

Penyimpangan konsep wilayah dalam Syiah merupakan bentuk penambahan akidah yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Dengan menjadikan wilayah imam sebagai standar iman dan keselamatan, Syiah telah menyimpang dari prinsip tauhid dan merusak persatuan umat Islam. Memahami hakikat wilayah yang benar menurut Al-Qur’an dan Sunnah adalah langkah penting untuk menjaga kemurnian Islam dan melindungi umat dari ajaran yang menyesatkan.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: