Syiahindonesia.com - Para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah sejak generasi awal hingga masa kini secara konsisten memperingatkan bahaya ajaran Syiah terhadap kemurnian akidah Islam. Peringatan ini bukan didorong oleh sentimen politik, kebencian mazhab, atau perbedaan cabang fikih, melainkan berangkat dari kajian ilmiah yang mendalam terhadap sumber-sumber ajaran Syiah yang terbukti menyimpang dari Al-Qur’an, Sunnah Rasulullah ﷺ, dan ijma’ para sahabat. Dalam pandangan ulama Sunni, Syiah bukan sekadar mazhab fikih alternatif, tetapi sebuah sistem keyakinan yang membawa konsep-konsep baru dalam agama yang berpotensi merusak fondasi tauhid dan persatuan umat Islam.
Standar Akidah dalam Ahlus Sunnah wal Jama’ah
Ahlus Sunnah wal Jama’ah memiliki standar akidah yang jelas dan baku, yaitu bersumber dari Al-Qur’an, Sunnah Nabi ﷺ yang sahih, serta pemahaman para sahabat dan generasi salafus shalih. Akidah tidak boleh dibangun di atas klaim tokoh, garis keturunan, mimpi, atau riwayat tanpa sanad yang sahih. Prinsip ini menjadi pagar utama agar Islam tetap murni sebagaimana diturunkan Allah kepada Rasul-Nya.
Allah Ta’ala berfirman:
فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا
“Jika mereka beriman sebagaimana kalian beriman, maka sungguh mereka telah mendapat petunjuk.”
(QS. Al-Baqarah: 137)
Ayat ini dipahami oleh para ulama sebagai penegasan bahwa standar keimanan adalah keimanan para sahabat, bukan pemahaman kelompok yang muncul belakangan.
Konsep Imamah yang Merusak Tauhid
Salah satu alasan utama mengapa ulama Sunni memandang Syiah sebagai ancaman akidah adalah doktrin imamah. Dalam ajaran Syiah, imamah bukan sekadar urusan kepemimpinan politik, tetapi dijadikan sebagai rukun agama yang menentukan sah atau tidaknya iman seseorang. Para imam Syiah diyakini maksum, memiliki ilmu ghaib, dan menjadi perantara mutlak antara Allah dan manusia.
Konsep ini bertentangan langsung dengan tauhid dan risalah Islam. Allah Ta’ala menegaskan:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ
“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku.”
(QS. Al-Kahfi: 110)
Jika Rasulullah ﷺ sendiri menegaskan bahwa beliau adalah manusia yang hanya dibedakan oleh wahyu, maka pengangkatan imam sebagai figur maksum dan superhuman merupakan bentuk ghuluw yang berbahaya.
Penghinaan terhadap Para Sahabat Nabi ﷺ
Ancaman besar lainnya adalah sikap Syiah terhadap para sahabat Nabi ﷺ. Banyak kitab rujukan Syiah yang mencela, melaknat, bahkan mengkafirkan mayoritas sahabat, khususnya Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu ‘anhum. Padahal para sahabat adalah perantara sampainya Al-Qur’an dan Sunnah kepada umat Islam.
Allah Ta’ala berfirman:
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ
“Sungguh Allah telah ridha kepada orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon.”
(QS. Al-Fath: 18)
Ulama Sunni menegaskan bahwa mencela para sahabat berarti meragukan keadilan pembawa agama, yang pada akhirnya mengguncang seluruh bangunan Islam.
Tuduhan Tahrif Al-Qur’an dalam Literatur Syiah
Meskipun sebagian Syiah kontemporer berusaha menampilkan wajah moderat, fakta sejarah menunjukkan bahwa banyak ulama Syiah klasik meyakini terjadinya tahrif (perubahan) dalam Al-Qur’an. Keyakinan ini jelas merupakan kekufuran menurut ijma’ ulama Sunni, karena menuduh Allah gagal menjaga kitab-Nya.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.”
(QS. Al-Hijr: 9)
Ayat ini menjadi dalil qath’i bahwa Al-Qur’an terjaga hingga hari kiamat, sehingga siapa pun yang meragukannya telah keluar dari prinsip dasar Islam.
Istighotsah dan Doa kepada Selain Allah
Ulama Sunni juga menilai Syiah sebagai ancaman akidah karena praktik doa dan istighotsah kepada imam-imam yang telah wafat. Dalam banyak ritual Syiah, para imam dijadikan tempat memohon pertolongan, ampunan, dan perlindungan, sebuah praktik yang bertentangan dengan tauhid uluhiyah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ
“Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.”
(HR. Tirmidzi)
Ulama Sunni memandang praktik ini sebagai bentuk kesyirikan yang menyerupai penyembahan berhala, meskipun menggunakan simbol-simbol Islam.
Taqiyah sebagai Alat Penipuan Akidah
Doktrin taqiyah dalam Syiah juga menjadi sorotan serius para ulama Sunni. Taqiyah tidak lagi sekadar keringanan dalam kondisi terpaksa, tetapi dijadikan metode dakwah, penyamaran, dan pembenaran kebohongan demi kepentingan mazhab. Hal ini membuat umat sulit membedakan antara wajah asli dan wajah yang ditampilkan Syiah di ruang publik.
Islam dibangun di atas kejujuran dan keterbukaan dalam akidah. Rasulullah ﷺ bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ
“Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran menuntun kepada kebaikan.”
(HR. Muslim)
Karena itu, ulama Sunni memandang taqiyah versi Syiah sebagai ancaman serius bagi kejelasan akidah umat.
Dampak Nyata terhadap Persatuan Umat Islam
Sejarah membuktikan bahwa di banyak wilayah, keberadaan Syiah sering diiringi konflik sektarian, pertumpahan darah, dan perpecahan sosial. Hal ini bukan kebetulan, tetapi konsekuensi dari doktrin yang membagi umat menjadi “pengikut imam” dan “musuh Ahlul Bait”. Umat tidak lagi disatukan oleh tauhid, tetapi dipisahkan oleh loyalitas mazhab.
Allah Ta’ala memperingatkan:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Berpegangteguhlah kalian semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.”
(QS. Ali ‘Imran: 103)
Ulama Sunni menilai bahwa ajaran Syiah justru mendorong perpecahan yang dilarang oleh ayat ini.
Kesepakatan Ulama Sunni tentang Bahaya Syiah
Dari masa Imam Malik, Imam Ahmad, hingga ulama kontemporer, banyak ulama Sunni menulis peringatan keras tentang Syiah. Mereka menilai Syiah sebagai ancaman akidah karena penyimpangan-penyimpangan mendasar yang tidak mungkin dikompromikan, terutama dalam tauhid, Al-Qur’an, dan Sunnah.
Peringatan ini bukan ajakan untuk berbuat zalim atau anarkis, melainkan seruan ilmiah agar umat Islam waspada, berilmu, dan tidak tertipu oleh propaganda yang dibungkus dengan slogan cinta Ahlul Bait.
Penutup
Ulama Sunni menganggap Syiah sebagai ancaman bagi akidah Islam karena ajarannya menyentuh dan merusak fondasi utama agama, mulai dari tauhid, otoritas wahyu, kehormatan para sahabat, hingga konsep doa dan ibadah. Kewaspadaan terhadap Syiah bukanlah sikap ekstrem, tetapi bentuk penjagaan terhadap kemurnian Islam sebagaimana diwariskan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Dengan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah menurut pemahaman salaf, umat Islam akan tetap kokoh menghadapi setiap fitnah yang mengancam akidah mereka.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: