Syiahindonesia.com - Perkembangan teknologi digital dan media sosial telah mengubah cara manusia berinteraksi, belajar, dan menyerap informasi, termasuk dalam urusan agama. Di satu sisi, media sosial bisa menjadi sarana dakwah yang bermanfaat jika digunakan dengan benar sesuai Al-Qur’an dan Sunnah. Namun di sisi lain, media sosial juga menjadi alat yang sangat efektif untuk menyebarkan pemikiran menyimpang, propaganda ideologis, dan ajaran sesat, termasuk ajaran Syiah yang secara sistematis memanfaatkan platform digital untuk mempengaruhi umat Islam awam di Indonesia dengan cara yang halus, emosional, dan sering kali penuh manipulasi narasi.
Syiah menyadari bahwa media sosial memiliki jangkauan luas, cepat, murah, dan mampu menembus batas geografis serta latar belakang pendidikan. Oleh karena itu, mereka tidak lagi hanya mengandalkan majelis tertutup atau diskusi langsung, tetapi beralih ke platform seperti Facebook, Instagram, YouTube, TikTok, Telegram, dan X (Twitter) untuk menyebarkan konten yang dikemas seolah-olah islami, moderat, dan penuh kasih sayang. Padahal di balik kemasan tersebut, tersembunyi agenda ideologis untuk merusak akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah secara perlahan namun konsisten.
Salah satu strategi utama Syiah di media sosial adalah menyamarkan identitas ajaran mereka. Banyak akun, kanal, dan halaman yang tidak secara terang-terangan menyebut diri sebagai Syiah, melainkan menggunakan nama-nama umum bernuansa Islam seperti “pecinta ahlul bait”, “kajian keluarga Rasul”, atau “sejarah Islam yang terlupakan”. Dengan cara ini, umat Islam awam tidak menyadari bahwa mereka sedang mengonsumsi konten Syiah, hingga perlahan-lahan menerima doktrin khas seperti imamah, kemaksuman imam, dan narasi negatif terhadap para sahabat Nabi رضي الله عنهم.
Selain itu, Syiah sangat piawai memanfaatkan isu-isu emosional untuk menarik simpati, terutama isu kezaliman, penindasan, dan tragedi sejarah. Peristiwa Karbala misalnya, terus-menerus diangkat di media sosial dengan narasi yang dipelintir, dramatis, dan penuh air mata, seolah-olah seluruh sejarah Islam adalah kisah pengkhianatan para sahabat terhadap keluarga Nabi ﷺ. Padahal, Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandang sejarah Islam dengan adil dan seimbang, tidak membangun akidah di atas kisah tragis yang dipelintir demi kepentingan ideologi.
Syiah juga sering menggunakan potongan ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi ﷺ di media sosial, namun ditafsirkan secara serampangan dan keluar dari pemahaman para sahabat. Mereka mengutip ayat tanpa konteks, lalu mengaitkannya dengan konsep imamah atau keutamaan imam-imam mereka. Padahal Allah ﷻ telah memperingatkan bahaya memelintir wahyu demi kepentingan hawa nafsu:
﴿فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ﴾
“Maka adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengikuti ayat-ayat yang samar darinya untuk menimbulkan fitnah dan mencari-cari takwilnya.” (QS. Ali ‘Imran: 7). Ayat ini sangat relevan dengan metode Syiah yang gemar memelintir dalil demi membenarkan ajaran mereka.
Di media sosial, Syiah juga aktif menyerang Ahlus Sunnah dengan cara yang licik dan provokatif. Mereka tidak selalu menyerang secara frontal, tetapi menggunakan pertanyaan-pertanyaan menyesatkan seperti mempertanyakan keadilan para sahabat, meragukan kodifikasi hadis Sunni, atau menuduh ulama Ahlus Sunnah sebagai penguasa zalim. Pertanyaan-pertanyaan ini dirancang untuk menimbulkan keraguan (syubhat) di hati umat Islam, padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:
«دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ»
“Tinggalkanlah apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu.” (HR. Tirmidzi). Namun Syiah justru menjadikan keraguan sebagai pintu masuk untuk menyusupkan kesesatan.
Tidak kalah berbahaya, Syiah memanfaatkan algoritma media sosial dengan sangat cerdas. Mereka memahami bahwa konten yang kontroversial, emosional, dan provokatif lebih mudah viral. Maka dibuatlah video singkat, potongan ceramah, atau kutipan tokoh tertentu yang dipelintir, sehingga memancing perdebatan dan meningkatkan jangkauan. Dari sinilah ajaran Syiah menyebar luas, bahkan ke kalangan anak muda Muslim yang minim bekal akidah dan ilmu agama.
Syiah juga kerap menampilkan diri sebagai korban dan pihak yang tertindas di media sosial. Mereka mengklaim dizalimi, difitnah, dan dilarang berdakwah, sehingga memancing simpati sebagian umat Islam yang tidak memahami hakikat ajaran Syiah. Padahal, penolakan terhadap Syiah bukanlah bentuk kezaliman, melainkan upaya menjaga kemurnian akidah Islam sebagaimana diwariskan Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Allah ﷻ berfirman:
﴿وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا﴾
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu umat yang wasath (pertengahan).” (QS. Al-Baqarah: 143). Sikap wasath ini menuntut kewaspadaan terhadap segala bentuk penyimpangan, termasuk yang dibungkus dengan narasi toleransi palsu.
Lebih dari itu, Syiah menggunakan media sosial untuk merekrut simpatisan secara bertahap. Awalnya hanya diajak diskusi ringan, kemudian diarahkan ke grup tertutup di Telegram atau WhatsApp, lalu diberi materi ideologis yang semakin keras dan eksklusif. Metode ini sangat mirip dengan cara kerja sekte-sekte sesat yang menargetkan individu-individu yang sedang mengalami krisis identitas, kekecewaan sosial, atau minim pemahaman agama.
Dampak dari penyebaran kesesatan Syiah melalui media sosial sangat serius bagi umat Islam Indonesia. Akidah menjadi rancu, persatuan umat terancam, dan generasi muda terpapar pemahaman agama yang menyimpang tanpa mereka sadari. Oleh karena itu, umat Islam wajib meningkatkan literasi agama dan digital sekaligus, agar tidak mudah tertipu oleh konten yang tampak islami namun sejatinya menyesatkan.
Solusi utama menghadapi fenomena ini adalah kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman para sahabat dan ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Pendidikan akidah harus diperkuat sejak dini, dakwah di media sosial harus diisi oleh para dai yang lurus akidahnya, dan umat Islam harus diajarkan untuk kritis terhadap sumber informasi agama. Rasulullah ﷺ bersabda:
«تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي»
“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya: Kitab Allah dan Sunnahku.” (HR. Malik).
Dengan berpegang teguh pada prinsip ini, umat Islam Indonesia dapat membentengi diri dari propaganda Syiah di media sosial dan menjaga kemurnian akidah Islam dari segala bentuk kesesatan yang dibungkus dengan kemasan modern dan digital.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: