Dalam Islam, Hari Kiamat adalah peristiwa yang pasti terjadi, waktunya dirahasiakan oleh Allah ﷻ, dan seluruh makhluk tanpa kecuali akan dibangkitkan untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatannya. Allah ﷻ berfirman dengan sangat tegas:
يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي
“Mereka bertanya kepadamu tentang Kiamat: kapankah terjadinya? Katakanlah: sesungguhnya pengetahuan tentangnya hanya di sisi Tuhanku.”
(QS. Al-A’raf: 187)
Ayat ini dengan jelas menutup semua pintu spekulasi manusia tentang waktu dan mekanisme khusus hari kiamat, namun dalam ajaran Syiah, pembahasan hari akhir sering dikaitkan secara berlebihan dengan kemunculan imam Mahdi versi mereka, seolah-olah hari kiamat tidak memiliki makna sentral tanpa kehadiran imam tersebut, padahal Al-Qur’an tidak pernah mengaitkan keimanan kepada hari kiamat dengan keyakinan terhadap imam tertentu.
Salah satu penyimpangan besar Syiah dalam akidah hari kiamat adalah konsep Al-Raj’ah, yaitu keyakinan bahwa sebagian imam dan musuh-musuh mereka akan dihidupkan kembali ke dunia sebelum hari kiamat untuk menerima pembalasan. Konsep ini tidak memiliki dasar yang sahih dalam Al-Qur’an maupun hadits Nabi ﷺ, bahkan bertentangan dengan prinsip dasar kebangkitan yang dijelaskan Islam, yaitu bahwa manusia dibangkitkan pada hari kiamat, bukan bolak-balik hidup di dunia untuk agenda kelompok tertentu.
Allah ﷻ berfirman tentang kebangkitan:
ثُمَّ إِنَّكُمْ بَعْدَ ذَٰلِكَ لَمَيِّتُونَ ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ
“Kemudian sesungguhnya kamu setelah itu benar-benar akan mati, kemudian sesungguhnya kamu pada hari kiamat akan dibangkitkan.”
(QS. Al-Mu’minun: 15–16)
Ayat ini menegaskan urutan yang jelas: hidup, mati, lalu kebangkitan pada hari kiamat, tanpa konsep raj’ah sebagaimana diyakini Syiah. Keyakinan raj’ah ini menunjukkan adanya penambahan ajaran baru dalam perkara akidah yang tidak pernah diajarkan Rasulullah ﷺ kepada umatnya.
Penyimpangan lain dalam akidah Syiah tentang hari kiamat adalah pengaitan hisab dan syafaat secara mutlak kepada para imam, bukan kepada kehendak Allah semata. Dalam banyak literatur Syiah, imam digambarkan memiliki peran menentukan siapa yang masuk surga dan siapa yang masuk neraka, seolah-olah keputusan akhir berada di tangan imam, bukan Allah ﷻ. Padahal Islam mengajarkan bahwa syafaat hanya terjadi dengan izin Allah dan tidak dimiliki siapa pun secara mutlak.
Allah ﷻ berfirman:
مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ
“Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya?”
(QS. Al-Baqarah: 255)
Ahlus Sunnah meyakini bahwa Nabi Muhammad ﷺ akan diberikan syafaat oleh Allah, bukan karena kedudukan pribadi semata, tetapi karena izin dan kehendak Allah. Adapun Syiah menjadikan syafaat sebagai alat penguat loyalitas kepada imam, sehingga keimanan kepada hari kiamat tercampur dengan kultus manusia.
Selain itu, Syiah juga menyimpang dalam memahami keadilan Allah pada hari kiamat dengan meyakini bahwa kecintaan kepada Ahlul Bait versi mereka dapat menjadi jaminan keselamatan akhirat, meskipun seseorang melakukan dosa besar atau penyimpangan akidah. Pemahaman ini bertentangan dengan prinsip keadilan Ilahi yang ditegaskan Al-Qur’an, bahwa setiap manusia akan dihisab sesuai amalnya, bukan berdasarkan afiliasi kelompok.
Allah ﷻ berfirman:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya), dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya).”
(QS. Az-Zalzalah: 7–8)
Ayat ini meniadakan konsep keselamatan kolektif berbasis kelompok, apalagi berbasis klaim cinta kepada imam tertentu. Setiap individu bertanggung jawab penuh atas amal dan akidahnya di hadapan Allah pada hari kiamat.
Rasulullah ﷺ sendiri telah memperingatkan umat agar tidak tertipu oleh klaim keselamatan tanpa amal dan iman yang lurus. Dalam hadits yang masyhur, beliau bersabda:
يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ اعْمَلِي فَإِنِّي لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا
“Wahai Fatimah binti Muhammad, beramallah, karena aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari (azab) Allah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menghancurkan keyakinan bahwa hubungan nasab, kedekatan dengan tokoh tertentu, atau loyalitas kepada figur tertentu dapat menjamin keselamatan di hari kiamat tanpa iman dan amal yang benar.
Sebagai kesimpulan, penyimpangan akidah Syiah tentang hari kiamat tampak jelas dalam konsep raj’ah, pengkultusan imam dalam hisab dan syafaat, serta pengaburan keadilan Allah dalam pembalasan akhirat. Semua penyimpangan ini berakar dari metode akidah yang tidak tunduk kepada Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi justru menundukkan keduanya kepada doktrin Imamah. Oleh karena itu, umat Islam di Indonesia harus memahami bahaya penyimpangan ini agar tidak terjerumus dalam keyakinan yang merusak iman kepada hari akhir, yang merupakan salah satu rukun iman paling fundamental dalam Islam.
(albert/syiahindonesia.com)
0 komentar: