Breaking News
Loading...

Kesalahan Fatal Syiah dalam Memahami Konsep Wahyu

Syiahindonesia.com – Konsep wahyu merupakan fondasi utama dalam Islam, karena dari wahyulah seluruh akidah, syariat, dan manhaj kehidupan seorang Muslim dibangun. Kesalahan dalam memahami wahyu akan berdampak langsung pada rusaknya bangunan agama secara keseluruhan. Para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah sejak dahulu telah mengingatkan bahwa Syiah memiliki pemahaman yang menyimpang dalam konsep wahyu, baik dari sisi sumber, kesinambungan, maupun otoritas penafsirannya. Penyimpangan ini bukan perkara cabang, melainkan menyentuh inti ajaran Islam yang sangat berbahaya bagi kemurnian agama.

Konsep Wahyu dalam Islam Menurut Ahlus Sunnah

Dalam Islam, wahyu adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ melalui perantaraan Malaikat Jibril, dan telah berakhir dengan wafatnya Rasulullah ﷺ. Allah Ta’ala berfirman:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ
“Muhammad itu bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup para nabi.”
(QS. Al-Ahzab: 40)

Ayat ini menjadi dasar kuat bahwa wahyu telah sempurna dan tidak ada lagi komunikasi wahyu setelah Nabi Muhammad ﷺ. Ahlus Sunnah meyakini bahwa Al-Qur’an dan Sunnah yang sahih sudah cukup sebagai pedoman hidup hingga akhir zaman.

Klaim Syiah tentang Wahyu yang Tidak Berakhir

Salah satu kesalahan fatal Syiah adalah keyakinan implisit bahwa para imam mereka memiliki akses khusus terhadap ilmu gaib dan pengetahuan ilahiah yang menyerupai wahyu. Walaupun Syiah sering menghindari istilah “wahyu”, namun konsep ilham imam, ucapan imam sebagai hujjah mutlak, dan pengetahuan imam tentang perkara gaib secara substansi menyerupai wahyu.

Ulama Sunni menegaskan bahwa menganggap ada manusia setelah Nabi ﷺ yang memiliki otoritas ilahiah dalam agama adalah bentuk penyimpangan serius. Hal ini bertentangan dengan prinsip bahwa wahyu telah sempurna dan agama telah ditutup.

Imam Dijadikan Sumber Agama

Syiah menjadikan imam sebagai pusat agama, bukan sekadar pemimpin umat. Dalam praktiknya, ucapan imam dapat mengalahkan Al-Qur’an dan Sunnah jika dianggap bertentangan. Inilah kesalahan besar dalam memahami konsep wahyu, karena Islam tidak mengenal otoritas agama yang ma’shum selain Nabi ﷺ.

Rasulullah ﷺ bersabda:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي
“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama berpegang kepada keduanya: Kitab Allah dan Sunnahku.”
(HR. Malik, Al-Hakim)

Hadis ini dengan jelas menunjukkan bahwa sumber petunjuk umat hanyalah Al-Qur’an dan Sunnah, bukan imam-imam tertentu.

Keyakinan tentang Mushaf yang Berbeda

Dalam literatur klasik Syiah terdapat riwayat-riwayat yang menyiratkan adanya mushaf selain Al-Qur’an yang ada di tangan kaum Muslimin, seperti Mushaf Fatimah. Meskipun sebagian Syiah modern berusaha menafsirkan ulang konsep ini, keberadaan keyakinan tersebut menunjukkan adanya masalah serius dalam pemahaman mereka tentang wahyu dan penjagaan Al-Qur’an.

Padahal Allah Ta’ala telah menjamin keutuhan wahyu-Nya:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur’an dan Kami pula yang menjaganya.”
(QS. Al-Hijr: 9)

Ahlus Sunnah sepakat bahwa Al-Qur’an yang ada hari ini adalah wahyu yang utuh dan terjaga tanpa tambahan atau pengurangan.

Wahyu Digantikan dengan Tafsir Ideologis

Kesalahan lain Syiah adalah menjadikan tafsir Al-Qur’an sebagai alat pembenaran ideologi imamah. Banyak ayat Al-Qur’an ditakwil secara berlebihan agar seolah-olah mendukung kepemimpinan Ali dan para imam, meskipun konteks dan penafsiran para sahabat tidak demikian.

Pendekatan ini bertentangan dengan manhaj Ahlus Sunnah yang menafsirkan Al-Qur’an berdasarkan penjelasan Nabi ﷺ, pemahaman sahabat, dan kaidah bahasa Arab, bukan berdasarkan kepentingan mazhab.

Mengabaikan Sunnah Sahabat dalam Menjaga Wahyu

Para sahabat adalah generasi yang langsung menerima wahyu dari Rasulullah ﷺ dan menyampaikannya kepada umat. Allah Ta’ala memuji mereka dalam banyak ayat, salah satunya:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ
“Orang-orang yang terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka.”
(QS. At-Taubah: 100)

Syiah justru mencela mayoritas sahabat. Ini merupakan kesalahan fatal, karena meruntuhkan kredibilitas para penjaga wahyu itu sendiri.

Dampak Penyimpangan Konsep Wahyu

Kesalahan Syiah dalam memahami wahyu berdampak luas pada seluruh aspek agama, mulai dari akidah, ibadah, hingga hukum. Ketika wahyu tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang telah sempurna dan terjaga, maka pintu penyimpangan akan terbuka lebar, dan agama berubah menjadi alat ideologi kelompok.

Di Indonesia, penyebaran pemahaman semacam ini sangat berbahaya karena dapat merusak akidah umat awam yang belum memiliki bekal ilmu yang kuat.

Penutup

Kesalahan fatal Syiah dalam memahami konsep wahyu terletak pada pengingkaran terhadap finalitas risalah Nabi Muhammad ﷺ, pengangkatan imam sebagai otoritas ilahiah, serta pengaburan makna wahyu yang sejati. Ahlus Sunnah wal Jama’ah menegaskan bahwa keselamatan umat hanya dapat diraih dengan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman generasi salaf. Oleh karena itu, kewaspadaan, edukasi, dan penguatan akidah menjadi keharusan untuk menjaga Islam dari penyimpangan yang mengatasnamakan agama.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: