Syiahindonesia.com - Ribuan orang anggota komunitas Alawi berdemonstrasi pada Selasa (25/11/2025) di seluruh wilayah pesisir Alawi Suriah untuk memprotes serangan balasan yang baru-baru ini menargetkan komunitas minoritas tersebut, lapor AFP (25/11).
Protes ini merupakan yang terbesar di wilayah Alawi sejak jatuhnya penguasa lama Suriah Bashar al-Assad, yang berasal dari komunitas tersebut, Desember lalu, menyusul serangan yang dipimpin kelompok Islamis.
Para pengunjuk rasa di kota pelabuhan Latakia meneriakkan slogan-slogan, termasuk “Rakyat Suriah adalah satu” dan “Kepada seluruh dunia, dengarkan kami, kaum Alawi tidak akan tunduk”.
Pasukan keamanan Suriah dikerahkan di kota tersebut tetapi tidak melakukan intervensi.
“Kami adalah satu bangsa yang bersatu. Kami ingin faksi-faksi bersenjata di wilayah ini pergi, keadilan bagi para martir kami di pesisir, dan pembebasan para tahanan kami… Kami tidak tahu apa yang dituduhkan kepada mereka,” kata Joumana, 58 tahun, seorang pengacara, yang menolak menyebutkan nama keluarganya.
Demonstrasi juga terjadi di wilayah pesisir lainnya seperti Tartus dan Jableh, di mana ratusan orang membentangkan spanduk menuntut “federalisme” dan “pembebasan tahanan”, kata seorang koresponden AFP.
Pemantau Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia yang berbasis di Inggris mengatakan bahwa 9.000 mantan personel militer, sebagian besar Alawi, yang telah menyerahkan diri kepada otoritas baru, masih ditahan.
Bentrokan pecah di Jableh antara peserta demonstrasi dan demonstrasi balasan oleh pendukung otoritas, dan suara tembakan terdengar, kata koresponden tersebut. Beberapa orang mengalami luka ringan.
Kemudian pada hari Selasa, Observatorium mengatakan orang-orang merusak properti Alawi dan melontarkan hinaan kepada anggota komunitas di Latakia.
Protes tersebut terjadi setelah seruan di media sosial dari Dewan Tertinggi Alawi Islam di Suriah dan Luar Negeri.
Seruan tersebut menyusul gelombang pembalasan terhadap komunitas tersebut di pusat kota Homs setelah sepasang suami istri Badui Muslim dibantai dengan brutal pada hari Ahad, dengan grafiti sektarian ditemukan di lokasi kejadian yang diduga dilakukan komunitas Alawi.
Setelah muncul tuduhan bahwa kaum Alawi berada di balik pembunuhan tersebut, toko-toko dan rumah-rumah dirusak di distrik-distrik yang dihuni komunitas tersebut, sebelum pihak berwenang memberlakukan jam malam dan kemudian menyatakan bahwa pembunuhan tersebut adalah tindakan kriminal dan bukan sektarian.
Seorang pengunjuk rasa bernama Mona (25) mengatakan bahwa apa yang terjadi di Homs tidak dapat diterima.
“Kami menuntut kebebasan dan keamanan, diakhirinya pembunuhan dan penculikan,” katanya, yang juga menolak menyebutkan nama belakangnya.
“Kami menginginkan federalisme untuk pesisir Suriah,” tambahnya.
Observatorium untuk Hak Asasi Manusia mencatat 42 demonstrasi pada hari Selasa.
Kekerasan sektarian yang melanda pusat Alawi Suriah pada bulan Maret menewaskan setidaknya 1.426 anggota komunitas minoritas tersebut, menurut pihak berwenang, yang mengatakan kekerasan tersebut bermula dari serangan terhadap pasukan pemerintah oleh pendukung Assad.
SOHR mengatakan lebih dari 1.700 orang tewas.
Sebuah komisi PBB menemukan pada bulan Agustus bahwa kekerasan tersebut meluas dan sistematis, dengan beberapa kasus merupakan kejahatan perang.
Pada bulan Juli, bentrokan sektarian yang mematikan di provinsi Sweida yang mayoritas penduduknya Druze menewaskan lebih dari 2.000 orang, menurut SOHR. (hanoum/arrahmah.id)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: