Breaking News
Loading...

Syiah dan Kesalahan Mereka dalam Memahami Makna Takdir


Syiahindonesia.com
– Salah satu penyimpangan mendasar dalam ajaran Syiah adalah pemahaman mereka terhadap konsep takdir (القَدَر). Dalam Islam, takdir merupakan bagian dari rukun iman yang harus diyakini oleh setiap Muslim sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

"أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ"
“Engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir baik dan buruknya.”
(HR. Muslim)

Namun, ajaran Syiah telah menyelewengkan makna takdir dengan cara yang sangat berbeda dari akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Mereka memanipulasi konsep ini agar sesuai dengan doktrin imamah, yaitu keyakinan bahwa seluruh urusan dunia dan akhirat berada di bawah kendali para imam maksum.


1. Syiah Menganggap Imam Memiliki Kuasa atas Takdir

Dalam akidah Ahlus Sunnah, Allah-lah satu-satunya pengatur segala sesuatu, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam urusan takdir. Allah berfirman:

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir).”
(QS. Al-Qamar: 49)

Namun Syiah meyakini bahwa para imam maksum memiliki kendali atas alam semesta, termasuk rezeki, kehidupan, kematian, dan ampunan dosa. Dalam kitab Al-Kafi karya Al-Kulaini — salah satu kitab utama mereka — disebutkan bahwa imam adalah:

“Pemegang kendali bumi dan langit, yang melalui mereka Allah menurunkan hujan dan menumbuhkan tumbuhan.”

Pernyataan ini jelas merupakan kesyirikan yang nyata, karena menganggap makhluk memiliki kekuasaan yang hanya layak bagi Allah ﷻ.


2. Menolak Konsep Qadha dan Qadar yang Sempurna

Ahlus Sunnah meyakini bahwa qadha (keputusan Allah) dan qadar (ketetapan Allah) mencakup seluruh perbuatan manusia, tanpa menghilangkan kebebasan berusaha.
Sedangkan Syiah cenderung mengambil posisi tengah antara Jabariyah (fatalis) dan Qadariyah (penolak takdir).

Mereka mengatakan:

“Tidak ada paksaan dan tidak pula kebebasan penuh, namun suatu urusan di antara dua hal itu.”

Ungkapan ini tampak moderat, namun hakikatnya mengaburkan peran Allah sebagai pengatur mutlak, karena mereka menganggap sebagian urusan diserahkan kepada imam.


3. Menghubungkan Takdir dengan Imamah

Syiah mengajarkan bahwa iman seseorang tidak sah tanpa mengakui imamah Ali dan keturunannya, bahkan menganggap penentangan terhadap imam akan membawa nasib buruk di dunia dan akhirat.
Dengan demikian, mereka menjadikan imamah sebagai bagian dari takdir keselamatan, bukan tauhid atau amal saleh.

Padahal Allah berfirman:

مَن يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِن دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا
“Barang siapa berbuat kejahatan, niscaya akan dibalas dengan kejahatan itu, dan ia tidak akan mendapatkan pelindung atau penolong selain Allah.”
(QS. An-Nisa: 123)

Ayat ini menunjukkan bahwa nasib akhir manusia bergantung pada amalnya sendiri, bukan pada loyalitas kepada imam atau keluarga tertentu.


4. Doktrin “Al-Bada’”: Allah Bisa Mengubah Takdir

Salah satu ajaran paling berbahaya dalam Syiah adalah konsep “al-bada’” (البداء), yaitu keyakinan bahwa Allah dapat berubah pikiran setelah menetapkan sesuatu.

Mereka mengatakan bahwa Allah bisa menentukan suatu hal, kemudian menggantinya ketika “mengetahui” hal baru.
Konsep ini jelas bertentangan dengan sifat ‘Ilmullah (pengetahuan Allah yang sempurna).

Allah ﷻ berfirman:

مَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا
“Dan Tuhanmu tidaklah lupa.”
(QS. Maryam: 64)

وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ
“Dan di sisi-Nya kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia.”
(QS. Al-An’am: 59)

Dengan demikian, ajaran al-bada’ adalah bentuk penghinaan terhadap kesempurnaan ilmu dan kehendak Allah.


5. Akibat Kesalahan Pemahaman Takdir

Karena kesalahpahaman ini, banyak pengikut Syiah:

  • Menyandarkan hidupnya kepada imam, bukan kepada Allah.

  • Menganggap doa hanya sah jika disampaikan melalui perantara imam.

  • Meyakini bahwa imam dapat menolak musibah atau mengubah qadar.

Hal ini menjauhkan mereka dari hakikat tauhid dan menjerumuskan ke dalam perbuatan syirik, yaitu memalingkan doa dan tawakal kepada selain Allah.


6. Pemahaman Ahlus Sunnah yang Lurus

Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini bahwa:

  1. Allah mengetahui segala sesuatu sebelum terjadi.

  2. Allah menetapkan segalanya dalam Lauh al-Mahfuzh.

  3. Tidak ada satu pun yang keluar dari kehendak-Nya.

  4. Manusia diberi kebebasan berusaha dalam batas qadar-Nya.

Imam Ahmad rahimahullah berkata:

“Barang siapa menolak qadar, maka ia telah kafir terhadap Al-Qur’an.”

Dan Imam al-Bukhari rahimahullah menyebutkan dalam Kitab al-Qadar:

“Segala sesuatu terjadi dengan ketetapan Allah, baik dan buruknya.”


Kesimpulan

Syiah telah menyimpang jauh dalam memahami takdir. Mereka:

  • Memberi kuasa ketuhanan kepada imam,

  • Menolak kesempurnaan ilmu Allah,

  • Mencampuradukkan qadar dengan loyalitas kepada manusia.

Padahal Islam yang benar mengajarkan bahwa takdir sepenuhnya berada di tangan Allah, bukan di tangan makhluk mana pun, termasuk para imam.

Setiap Muslim hendaknya kembali kepada pemahaman Ahlus Sunnah wal Jamaah — bahwa takdir adalah rahasia Allah, dan kewajiban kita hanyalah beriman, berusaha, serta bertawakal kepada-Nya.


(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: