Dalam ajaran Syiah, terutama Syiah Itsna Asyariyah (Imamiyah Dua Belas), konsep Imam Mahdi bukan sekadar pemimpin spiritual, melainkan figur yang mereka yakini memiliki kedudukan ilahiyah (ketuhanan) secara tidak langsung. Walaupun Syiah secara eksplisit tidak mengakui Imam Mahdi sebagai “Tuhan” dalam arti kata yang sama dengan Allah, konsep mereka tentang keimaman menjadikan Imam Mahdi memiliki sifat-sifat yang hanya layak bagi Allah, seperti ma‘shum (tidak mungkin salah), mengetahui yang gaib, mengatur alam, dan menjadi perantara turunnya rahmat Allah.
Inilah yang oleh para ulama Sunni disebut sebagai bentuk ghuluw (pengkultusan berlebihan) yang menyerempet pada kesyirikan.
1. Konsep Imamah dalam Syiah = Ketuhanan Terselubung
Syiah meyakini bahwa para imam adalah makhluk yang ditunjuk langsung oleh Allah, dan kewajiban beriman kepada imam sama dengan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
Mereka mengatakan:
“Barang siapa tidak mengenal imam zamannya, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah.”
(Ushul al-Kafi, jilid 1, hal. 377)
Padahal dalam Islam versi Ahlus Sunnah, iman hanya diwajibkan kepada Allah, Rasul-Nya, dan ajaran Islam, bukan kepada manusia mana pun setelah Nabi ﷺ wafat.
Lebih ekstrem lagi, dalam kitab Al-Kafi disebutkan:
“Sesungguhnya bumi tidak akan tegak kecuali dengan adanya imam; imam mengetahui yang halal dan haram, dan segala sesuatu diserahkan kepadanya.”
(Ushul al-Kafi, jilid 1, hal. 178)
Pernyataan ini menunjukkan bahwa imam diposisikan sebagai pengatur kehidupan manusia dan bahkan alam, peran yang sejatinya hanya milik Allah ﷻ.
2. Imam Mahdi Disebut Sebagai “Rabb al-Ardh” (Tuhan Bumi)
Beberapa riwayat dalam literatur Syiah menggambarkan Imam Mahdi sebagai “Rabb al-Ardh” — yakni tuhan bumi yang mengatur segala urusan makhluk.
Dalam Bihar al-Anwar karya Allamah Majlisi, disebutkan:
“Jika bukan karena hujjah (Imam Mahdi), niscaya bumi ini akan hancur.”
(Bihar al-Anwar, jilid 23, hal. 5)
Pernyataan ini secara tersirat menempatkan Imam Mahdi sebagai penopang eksistensi alam, yang dalam akidah Islam adalah kekuasaan Allah semata.
Allah berfirman:
اللَّهُ الَّذِي يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا
“Allah-lah yang menahan langit dan bumi agar tidak lenyap.”
(QS. Fāṭir: 41)
Artinya, menisbatkan fungsi tersebut kepada makhluk merupakan penyelewengan terhadap tauhid rububiyyah.
3. Keyakinan Syiah tentang Ilmu Gaib Imam Mahdi
Syiah juga mengklaim bahwa Imam Mahdi mengetahui perkara gaib:
“Sesungguhnya para imam mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi.”
(Ushul al-Kafi, jilid 1, hal. 260)
Padahal Allah ﷻ dengan tegas menolak klaim seperti itu:
قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ
“Katakanlah: Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib selain Allah.”
(QS. An-Naml: 65)
Dengan demikian, Syiah telah memberikan sifat ketuhanan kepada imam mereka, termasuk Imam Mahdi.
4. Doa dan Ibadah kepada Imam Mahdi
Dalam praktiknya, banyak Syiah berdoa melalui perantara (tawassul) kepada Imam Mahdi, bahkan memohon langsung kepadanya, seperti:
“Wahai Mahdi, kabulkanlah permohonanku! Wahai penolong zaman, tolonglah aku!”
Padahal doa adalah ibadah murni yang hanya boleh ditujukan kepada Allah, sebagaimana firman-Nya:
فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا
“Maka janganlah kamu menyeru (berdoa) kepada siapa pun di samping Allah.”
(QS. Al-Jinn: 18)
Maka, memohon langsung kepada Imam Mahdi adalah syirik, karena menjadikan makhluk sebagai sekutu Allah dalam ibadah.
5. Imam Mahdi sebagai Pengampun Dosa
Beberapa teks Syiah menggambarkan Imam Mahdi sebagai pemberi ampunan dan pembawa rahmat, padahal hanya Allah yang memiliki kuasa tersebut:
“Imam adalah penebus dosa umat dan pemberi syafaat di hari kiamat.”
(Bihar al-Anwar, jilid 24, hal. 192)
Dalam Islam, hanya Allah yang mengampuni dosa:
وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ
“Dan siapakah yang dapat mengampuni dosa selain Allah?”
(QS. Ali Imran: 135)
Kesimpulan
Keyakinan Syiah terhadap Imam Mahdi telah melewati batas keimanan yang benar dan masuk ke dalam ghuluw (pengagungan berlebihan) yang menafikan tauhid murni. Mereka:
-
Menjadikan Imam Mahdi sebagai sumber rahmat dan penopang alam;
-
Menganggapnya mengetahui yang gaib;
-
Berdoa kepadanya dan memohon pertolongan;
-
Menisbatkan kepadanya sifat-sifat ilahi.
Semua ini bertentangan dengan akidah Islam yang diajarkan Rasulullah ﷺ dan para sahabat.
Pandangan Ulama Sunni
Imam Ibn Taymiyyah rahimahullah menegaskan:
“Barang siapa menganggap imam memiliki kekuasaan atas alam atau mengetahui perkara gaib, maka ia telah melakukan kekufuran yang nyata.”
(Majmu’ al-Fatawa, 11/473)
Penutup
Dalam Islam, hanya Allah ﷻ yang Maha Mengatur, Maha Mengetahui, dan Maha Penolong.
Menjadikan Imam Mahdi — atau siapa pun — sebagai sosok yang disembah, dimintai pertolongan, atau diyakini memiliki sifat-sifat ketuhanan adalah penyimpangan besar dari ajaran tauhid.
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ • اللَّهُ الصَّمَدُ
“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa, Allah tempat bergantung segala sesuatu.”
(QS. Al-Ikhlash: 1–2)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: