Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Untuk kepastiannya tidak ada yang tahu kecuali Allah SWT dan kelompok Syi’ah itu sendiri. Semoga saja hal itu tidak terjadi dengan kewaspadaan kita sejak dini. Ingat Syi’ah tidak membutuhkan mayoritas. Syi’ah cukup tumbuh dengan minoritas. Karenanya umat Muslim harus waspada, tandas Abdul Chair.

Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (Wasekjen MUI), Ustadz Tengku Zulkarnain menghimbau para tokoh, ulama dan umat Islam agar mewaspadai gerakan Syi’ah. Sebab selama ini, Syi’ah selalu membuat masalah, sehingga menimbulkan konflik dan membuat resah masyarakat.

Pengaruh revolusi Iran telah memprovokasi para penganut ajaran Syi’ah di Indonesia untuk melakukan gerakan perlawanan kepada pemerintah. Mereka pernah membentuk kelompok bernama Ikhwanul Muslimin (IM).

Gerakan ini tidak ada hubungannya dengan Ikhwanul Muslimin di Mesir. Hanya namanya saja yang sama. Tujuan organisasi tersebut adalah pengkaderan melalui pesantren kilat dan mengorbankan revolusi di Indonesia.

Demi mencapai tujuan, IM membentuk struktur organisasi revolusi bernama Koordinator Komando. Gerakan IM tersebut memanfaatkan tragedi berdarah Tanjung Priok tanggal 12 September 1984 dan isu Kristenisasi.

Kemudian menghasilkan kesepakatan untuk melakukan aksi balas dendam. Caranya, melakukan peledakan bom di berbagai tempat atau yang diistilahkan Husein al-Habsyi dengan sebutan “irama tom-tom”.

Salah satu tema sentral makar adalah pilihan perjuangan dengan mencontoh Revolusi Iran. Terungkap ada empat tahapan dalam melaksanakan perjuangan tersebut. Pertama, mobilisasi massa. Kedua, imamah atau pengangkatan imam. Ketiga, referendum syariat Islam. Keempat, proklamasi negara Islam.

Khomeini menyatakan bahwa Syi’ah Iran akan mengekspor Revolusi Iran ke seluruh penjuru dunia. Serta menjadikan Iran sebagai pusat kekuatan Syi’ah di dunia. Slogannya adalah “Tidak Barat, Tidak Timur,” dan “Bukan Sunni, bukan Syi’ah”. Slogan ini terbukti mampu menarik perhatian dan dukungan kepada Iran.

Melihat beragam konflik yang disebabkan oleh Syiah di atas, maka Ustadz Tengku pun kembali menegaskan, “Di mana ada Syi’ah, maka timbul kerusuhan. Seperti di Lebanon, Suriah, Iran. Setiap ada Syi’ah, maka akan terjadi konflik di negara tersebut.”

Namun, lagi-lagi Ali Husein, sekretaris Islamic Cultural Centre (ICC), menampik segala kegelisahan masyarakat akan jati diri Syiah yang diklaim buruk selama ini. Ia pun menyebutkan bahwa mereka akan terus menjalin komunikasi dan pendekatan dengan para ulama, organisasi masyarakat  Islam, Universitas Islam, dan pihak terkait lainnya.

“Dengan menyebarkan buku-buku Syi’ah yang bersumber asli dari Syi’ah agar mereka semakin mengenal kami seutuhnya. Tanpa ada yang dilebih-lebihkan,” ujar Ai, selaku anggota syi’ah, kepada Gontornews.com.

Ia juga menambahkan, “Walau orang luar terus mengatakan hal ‘jelek’ soal kami. Kami akan tetap berusaha merangkul semua lapisan. Terlebih isu ekspor revolusi Iran itu salah besar.” Musuh sejati umat Muslim adalah Israel dan Amerika Serikat, bukan Syi’ah, tudingnya.

Ali kembali menambahkan, sejatinya kami (Syi’ah) bersumber yang sama yakni dari al-Qur’an dan hadits Rasulullah SAW. Hanya saja dalam meneladani hadits Rasulullah SAW kami langsung mengambilnya dari sumber terdekat Rasulullah SAW, yakni keluarganya sendiri (ahlul bait).

Berbeda dengan saudara Sunni, yang mengambilnya dari para sahabat Rasul SAW. “Dimana-mana seorang anak (keluarga inti) pasti jauh lebih mengenal sosok ayahnya. Berbeda dengan seorang teman dari ayah dalam mengenal pribadi temannya (ayah) itu sendiri,” jawab Ali. Gontornews.com

************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

0 komentar: