Breaking News
Loading...

Fakta Penyebaran Ajaran Syiah di Batam
Masjid Agung Batam
Syiahindonesia.com - "Waspada! Syiah melanda kota Batam." Demikian yang ditulis oleh seorang blogger muslim yang mengelola sebuah blog beralamatkan di siarislam.blogpsot.co.id.

Dalam blog tersebut diungkap bagaiamana eksistensi Syiah di Batam. Berikut kami laporkan tulisan dari blogger yang menamai blognya dengan blog "Dunia Islam."


***

WASPADA!!! SYIAH MELANDA KOTA BATAM. Aroma Syiah pada Buletin Jumat Masjid Raya Batam Edisi Jumat / 17 Oktober 2014 terbongkar dengan topik utamanya adalah mengupas tentang GADIR QUM DALAM PANDANGAN SUNNI dan SYIAH. Tersentak hati dan perasaan saya mengapa sampai hari gini kok masih ada orang yang tetap menyandingkan Islam dengan Syiah. Apakah belum sampai ditelinga-telinga kaum mukminin bahwasanya agama Syiah dan Islam adalah JAUH BERBEDA, ibarat minyak dan air tak dapat disatukan sampai kapanpun.

Akhirnya saya sadar, inilah strategi jitu yang dihembuskan oleh orang-orang Syiah khususnya Syiah Batam untuk terus merongrong akidah Islam yang murni, khususnya bagi orang-orang awam. Bukti sudah jelas dan terpampang secara gamblang bahwasanya tanpa disadari Syiah telah masuk dibalik kepengurusan Mesjid Raya Batam.



Dan tak pernah habis saya berpikir adalah bagaimana bisa paham dan AJARAN SESAT SYIAH ini bisa masuk pada salah satu Masjid Terbesar Batam? jawabannya adalah kaum Syiah menganut paham Taqiyah (bersembunyi, berbohong dibalik Islam). Seperti dikutip dari Eramuslim.com, pengertian taqiyah adalah salah satu prinsip agama Syiah. Taqiyah dilakukan kepada orang selain Syi’ah, seperti ungkapan bahwa Quran Syi’ah adalah sama dengan Quran Ahlussunnah. Padahal ungkapan ini hanyalah kepura-puraan mereka. tidak mau menampakkan kesyi’ahannya dengan menyimpan semua akidahnya di dalam dada dengan cara taqiyah. Orang Syi’ah begitu bersemangat melontarkan slogan ‘La syarqiyah wala gharbiyah walakin islamiyah’diterjemahkan dengan ‘tidak Syi’ah tidak juga Suni tetapi Islam’, sesudah terpola dengan tidak mempermasalahkan Syi’ah , barulah mereka muati dakwahnya dengan akidah Syi’ah. Mereka juga bertaqiyah dengan pura-pura mengakui pemerintahan Islam selain Syi’ah. Padahal kakikatnya orang Syi’ah sangat membenci dan menganggap pemerintahan tersebut telah merampas.

Tapi bukankah di Batam ada MUI (Majelis Ulama Indonesia)? ini harus menjadi tugas dan PR untuk MUI membongkar lebih dalam sejauh mana Syiah Menguasai Batam.

Untuk mengetahui apa itu Ghadir Qum ada baiknya terlebih dahulu mengetahui Sejarah Ghadir Qum yang Benar.

Mari kita perhatikan klaim dari salah satu website Syi’ah

The Thaqalayn Muslim Association mengatakan:
Pada tahun ke-18, Dzulhijah, sesudah menyelesaikan Haji perpisahan beliau (Hajjatul wida’a), Rasulullah SAWW berangkat dari Mekah menuju ke Madinah. Beliau dengan seluruh rombongan kaum muslimin, sejumlah lebih dari 100,000 orang, berhenti di Ghadir Khum, sebuah daerah padang pasir yang letaknya strategis sampai sekarang, berada diantara Mekah dan Madinah (dekat dengan Juhfah pada hari ini). Pada hari-hari itu, Ghadir Khum sebagai tempat titik keberangkatan, dimana kaum muslimin dari berbagai daerah yang pulang dari melaksanakan haji dari daerah-daerah sekitar mulai berpencar menuju tujuan daerah masing-masing.

Situs Syi’ah tersebut mengklaim bahwa “Ghadir Khum sebagai tempat titik keberangkatan, dimana kaum muslimin dari berbagai daerah yang pulang dari melaksanakan haji dari daerah-daerah sekitar mulai berpencar menuju tujuan daerah masing-masing”. Peta yang terlihat sederhana akan menunjukkan betapa tidak masuk akalnya klaim ini.


 Apakah Rasional, kaum muslimin dari Mekah, Tha’if, Yaman dan lain-lain mengambil rute menuju Ghadir Khum terlebih dahulu untuk menuju daerah mereka masing-masing? saya harap pembaca bisa memahami betapa tidak masuk akalnya klaim mereka tersebut. Apalagi tidak terdapat satu riwayatpun bahwa Rasulullah sebelumnya telah memerintahkan seluruh kaum muslimin untuk pergi ke Ghadir Khum saat mereka masih berkumpul di Mekah. Perhatikan gambaran rute saat kaum muslimin berangkat haji ke Mekah

 Kemudian setelah ibadah haji selesai, menurut klaim syi’ah Ghadir Khum adalah titik keberangkatan bagi kaum muslimin dari berbagai daerah untuk pulang menuju daerahnya masing-masing. Berarti kaum muslimin yang berada di sebelah selatan Mekah seperti Yaman, Tha’if dan lain-lain yang berlawanan arah dengan Ghadir Khum mengambil rute ke ghadir khum dulu yang jaraknya sekitar 250 km dari Mekah, kemudian dari sana baru balik lagi ke rumah masing-masing. kira-kira butuh berapa hari perjalanan jika hal tersebut benar-benar dilakukan. gambaran rutenya seperti ini :

 dan yang masuk akal adalah rute seperti ini:

 Oleh karena itu, klaim Syi’ah bahwa Nabi shalallahu alaihi wassalam menunjuk Ali ra dihadapan seluruh kaum muslimin adalah sangat tidak mungkin sehubungan dengan fakta bahwa Nabi shalallahu alaihi wassalam tidak berkhotbah mengenai penunjukkan Ali ra di pidato perpisahan di Arafah. Sedangkan peristiwa Ghadir Khum, saya melihat betapa tidak mungkinnya bahwa tempat itu menjadi tempat penunjukkan Ali ra sebagai khalifah berikutnya. Sesungguhnya versi mainstream kaum muslimin jauh lebih masuk akal.

Hadits Ghadir Khum

Untuk hadits Ghadir Khum yang tershahih adalah apa yang tercantum dalam shahih Bukhari:

Diriwayatkan oleh Buraidah ra:
Nabi shalallahu alaihi wassalam mengirimkan Ali kepada Khalid untuk membawa harta Khumus (dari harta rampasan perang) dan saya membenci Ali, dan Ali selesai mandi junub (sesudah mencampuri seorang budak wanita yang merupakan bagian dari khumus). Saya katakan kepada Khalid “Tidak kah kamu melihat ini (Ali)?” ketika kami menjumpai Nabi shalallahu alihi wassalam, saya menyebutkan hal itu kepada beliau. Beliau (Nabi shalallahu alaihi wassalam) berkata, “Ya Buraidah! Apakah kamu membenci Ali?” Saya menjawab, “Ya” Beliau berkata, “Apakah kamu membencinya, untuk dia berhak lebih dari itu mengambil dari Khumus.”     
(Shahih Bukhari, Kitab Al-Maghazi, 5/163 No. 4350)

Hadits di atas adalah versi Ghadir Khum yang diriwayatkan dalam shahihain, tanpa menyebutkan sama sekali kata “Maula”. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : untuk perkataan beliau shalallahu ‘alaihi wasallam “siapa yang menganggap aku Maula nya, Ali adalah Maula nya”, ini tidak terdapat dalam kitab Shahih (Bukhari dan Muslim), tetapi ini adalah satu dari kabar-kabar yang diriwayatkan oleh para ulama dan mengenai keshahihannya orang masih memperdebatkannya.”

dua tambahan tersebut adalah :

    Tambahan pertama : “Man Kuntu Mawla fa’ Ali Mawla.”
    Tambahan kedua : “Allahummu wali man waalah wa ‘adi man ‘adaah.”


Tambahan yang pertama secara umum diterima, dan yang kedua lebih lemah tetapi beberapa ulama berpendapat bahwa tambahan itu shahih. Sejauh yang diketahui, tambahan-tambahan yang lain tidak terdapat di kitab-kitab shahih bahkan maudu’ atau palsu. Umumnya, Syi’ah mengisi dasar argumentasi mereka atas dua tambahan ini, tetapi tidak diragukan setelah itu semua dibantah, mereka akan seringkali kemudian berlindung dengan menggunakan sumber-sumber yang tidak jelas untuk membuat tambahan-tambahan lebih lanjut seperti Nabi shalallahu alaihi wassalam mengatakan Ali ra adalah Washi, khalifah, Imam dan lain-lain. Itu semua adalah palsu, dan sejarah telah menjadi saksi kaum Syi’ah telah biasa membuat hadits-hadits palsu. Syi’ah dapat membuat daftar referensi tidak jelas yang begitu panjang tentang Ghadir Khum karena mereka sendirilah yang bertanggung jawab terhadap begitu banyaknya riwayat-riwayat palsu sehubungan dengan Ghadir Khum.

Kita telah melihat di atas versi Ghadir Khum dalam shahih bukhari dan dalam hadits tersebut sama sekali tidak tercantum tambahan kata “Maula”. Sedangkan tambahan kata “Maula” baru dapat ditemukan dalam variasi hadits dalam kitab-kitab yang lain seperti berikut ini:

Buraidah ra meriwayatkan:
“Saya menyerang Yaman dengan Ali dan saya melihat kekerasan hati dari dirinya, lalu ketika saya kembali menghadap Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan menyebut tentang Ali dan mengkritiknya, saya melihat wajah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berubah dan beliau berkata : “Ya Buraidah, Bukankah saya lebih dekat/lebih berhak atas orang-orang beriman daripada diri mereka sendiri?” Saya jawab “Benar ya Rasulullah”, beliau berkata “Siapa yang menganggap aku Maula-nya maka Ali adalah Maula-nya juga”
(Musnad Ahmad 5/347 No. 22995) Syaikh Al-Arnauut mengatakan sanad hadits ini shahih sesuai dengan syarat Syaikhain, (An-Nasaa’i dalam Sunan al-Kubra 5/45 No. 8145), (Al-Hakim dalam al-Mustadrak 3/119 No. 4578), Abu Nu’aim, Ibnu Jarir dan yang lainnya.

Syi’ah mengklaim bahwa kata “Maula” di sini adalah berarti “Pemimpin”. Ini adalah penterjemahan yang keliru dari kata tersebut yang mereka mengklaim bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam telah menunjuk Ali ra sebagai pengganti beliau. Pada kenyataannya, kata “Maula” – seperti kata dalam bahasa Arab yang lainnya- mempunyai banyak makna. Orang syi’ah yang awwam mungkin akan terkejut jika mereka mengetahui bahwa sesungguhnya definisi yang paling banyak digunakan untuk kata Maula adalah “pelayan” bukan “pemimpin”. Seorang mantan budak yang menjadi pelayan dan tidak mempunyai hubungan suku disebut sebagai seorang “Maula”, seperti Salim yang dipanggil Salim Maula Abu Hudzaifah karena dia adalah pelayan Abu Hudzaifah.

Hanya diperlukan membuka sebuah kamus bahasa Arab untuk menjumpai berbagai macam definisi dari kata “Maula”. Ibnu Al-Atsir mengatakan bahwa kata “Maula” dapat digunakan untuk mengartikan diantaranya : Tuan, Pemilik, Penolong, Pembebas, Yang membantu, Kekasih, Pendukung, Budak, Pelayan, Saudara Ipar, Saudara Sepupu, Teman dan lain-lain.

Kesimpulannya kata Maula mempunyai banyak makna, untuk mengetahui makna yang tepat dari kata tersebut harus diperhatikan konteks saat kata tersebut diucapkan. Berdasarkan konteks yang ada, kata Maula yang disebutkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam di Ghadir Khum berarti “Sahabat dekat” atau “teman yang dicintai” atau “Karib” dan bukan Khalifah ataupun Imamah.

Sudah rahasia umum bahwasanya Syiah adalah Agama ciptaan manusia bernama Abdullah Bin Saba’ dia seorang Yahudi. Syiah merupakan perancangan (konspirasi) Yahudi dengan cara mengkultuskan (mensucikan) Ali bin Abi Talib dan Ahli Bait.

Abdullah bin Saba’ adalah seorang Yahudi dari San’a, Yaman. Si Munafik ini datang ke Madinah dimasa pemerintahan Khalifah Usman bin Affan radiallahu ‘anhu dengan berpura-pura sebagai seorang yang alim. Dialah juga perancang terhadap pembunuhan Khalifah Usman bin Affan dan membangkitkan hura-hara dalam kalangan para sahabat radiallahu ‘anhum.

Maka sudah dipastikan dan disimpulkan bahwasanya SYIAH TIDAK SAMA DENGAN ISLAM. Bagaimana bisa mengatakan mereka islam sementara Rukunnya saja berbeda. Namun lucunya pada penggalan terakhir buletin jumat tersebut agar tidak memperdebatkan perbedaan antara Sunni dan Syiah

Untuk menolak kebenaran buletin diatas, mari kita belajar lagi pelajaran SD - SMA bahkan kuliah tentang Rukun Islam dan Rukun Iman yang langsung diambil dari Hadist Shahih, dan anda bandingkan dengan Agama Syiah Laknatulloh.

Rukun Islam:
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
”Islam dibangun di atas 5 rukun: Syahadat laa ilaaha illallah dan bahwa Muhamamd utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berangkat haji, dan puasa ramadhan.” (HR. Bukhari 8 & Muslim 16).

Rukun Agama Syiah:
Dari Abu Ja’far – alaihis salam – dia mengatakan:
Islam dibangun di atas 5 rukun: shalat, zakat, puasa, haji, dan wilayah. Beliau menyerukan paling keras untuk rukun wilayah. Namun manusia hanya mengambil 4 rukun pertama, dan meninggalkan ini (yaitu rukun wilayah).

Rukun Iman dalam Islam ada 6:
Dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang iman:
Iman adalah kamu beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman terhadap takdir yang baik maupun yang buruk. (HR. Bukhari 50, Muslim 8, Nasai 4990, dan yang lainnya).

Rukun Iman dalam Syi’ah ada 5:
Tokoh Syiah, Syaikh al-Muntadzari mengatakan:
”Ushuluddin (prinsip iman) ada lima: tauhid, keadilan, nubuwah (kenabian), imamah, dan al-Ma’ad (qiyamat).” (Minal Mabda’ ila al-Ma’ad, al-Muntadzari, 181).

[Tambahan Syahadat antara Islam dan Syiah juga berbeda]
Silakan tonton video berikut ini. Pada video seorang yang ingin masuk agama Syi'ah harus mengikrarkan syahadat baru, tentu saja syahadatnya ala Syi'ah. Di antara isi syahadat Syi'ah adalah mengutuk para sahabat Nabi (Abu Bakar, Umar, dan Utsman). Juga mengutuk istri Nabi 'Aisyah dan Hafshoh (lihat menit ke: 02:13). Di video ini Syahadat ala Syi'ah dipandu oleh seorang pendeta Syi'ah yang sangat terkenal yaitu "Yasir Habib".

Bagaimana perasaan kita sebagai umat Islam melihat para sahabat Nabi dan Istri-istri Nabi dikutuk oleh Syi'ah?

Dan bahkan salah satu ajaran Syi'ah adalah mengkafirkan para sahabat Nabi dan istri-istri Nabi. Dalam kitab Thaharah, Khomaini menyebut sahabat Nabi itu lebih jijik daripada A****G dan B**I.

Agama Syi'ah sangat membahayakan negara kesatuan republik Indonesia. Ada fatwa Khomeini yang mewajibkan Syiah untuk revolusi di negara masing-masing. Dan buktinya sudah terjadi di negara Iran. Setelah mereka berhasil memberontak maka jadilah negara Iran sekarang ini negara Syi'ah tulen. Apakah kita umat Islam akan membiarkannya begitu saja? apakah kita umat Islam ingin agar terjadi lagi peristiwa seperti pemberontakan G 30 S PKI yang merongrong keutuhan republik Indonesia?

Lihat juga Daftar dan Kumpulan Video Kesesatan Syiah

Ayo, mari kita bersatu... kuatkan iman... tingkatkan takwa... buka mata kita... kita bangunkan saudara-saudara kita yang belum mengerti tentang bahayanya Syi'ah. Ayo sebarkan informasi ini... tag teman-teman kita...

=========================================================================
Tips menangkal akidah Syiah bisa diajukan sebagai bahan diskusi ke kalangan Syiah dari level awam, sampai level ulama. Setidaknya, logika ini bisa dipakai sebagai “anti virus” untuk menangkal propaganda dai-dai Syiah yang ingin menyesatkan Ummat Islam dari jalan yang lurus.

Kalau Anda berbicara dengan orang Syiah, atau ingin mengajak orang Syiah bertaubat dari kesesatan, atau diajak berdebat oleh orang Syiah, atau Anda mulai dipengaruhi dai-dai Syiah; coba kemukakan 10 LOGIKA DASAR di bawah ini. Sehingga kita bisa membuktikan, bahwa ajaran mereka sesat dan tidak boleh diikuti.

LOGIKA 1: “Nabi dan Ahlul Bait”

Tanyakan kepada orang Syiah: “Apakah Anda mencintai dan memuliakan Ahlul Bait Nabi?” Dia pasti akan menjawab: “Ya! Bahkan mencintai Ahlul Bait merupakan pokok-pokok akidah kami.” Kemudian tanyakan lagi: “Benarkah Anda sungguh-sungguh mencintai Ahlul Bait Nabi?” Dia tentu akan menjawab: “Ya, demi Allah!”

Lalu katakan kepada dia: “Ahlul Bait Nabi adalah anggota keluarga Nabi. Kalau orang Syiah mengaku sangat mencintai Ahlul Bait Nabi, seharusnya mereka lebih mencintai sosok Nabi sendiri? Bukankah sosok Nabi Muhammad Shallallah ‘Alaihi Wasallam lebih utama daripada Ahlul Bait-nya? Mengapa kaum Syiah sering membawa-bawa nama Ahlul Bait, tetapi kemudian melupakan Nabi?”

Faktanya, ajaran Syiah sangat didominasi oleh perkataan-perkataan yang katanya bersumber dari Fathimah, Ali, Hasan, Husein, dan anak keturunan mereka. Kalau Syiah benar-benar mencintai Ahlul Bait, seharusnya mereka lebih mendahulukan Sunnah Nabi, bukan sunnah dari Ahlul Bait beliau. Syiah memuliakan Ahlul Bait karena mereka memiliki hubungan dekat dengan Nabi. Kenyataan ini kalau digambarkan seperti: “Lebih memilih kulit rambutan daripada daging buahnya.”

LOGIKA 2: “Ahlul Bait dan Isteri Nabi”

Tanyakan kepada orang Syiah: “Siapa saja yang termasuk golongan Ahlul Bait Nabi?” Nanti dia akan menjawab: “Ahlul Bait Nabi adalah Fathimah, Ali, Hasan, Husein, dan anak-cucu mereka.” Lalu tanyakan lagi: “Bagaimana dengan isteri-isteri Nabi seperti Khadijah, Saudah, Aisyah, Hafshah, Zainab, Ummu Salamah, dan lain-lain? Mereka termasuk Ahlul Bait atau bukan?” Dia akan mengemukakan dalil, bahwa Ahlul Bait Nabi hanyalah Fathimah, Ali, Hasan, Husein, dan anak-cucu mereka.

Kemudian tanyakan kepada orang itu: “Bagaimana bisa Anda memasukkan keponakan Nabi (Ali) sebagai bagian dari Ahlul Bait, sementara isteri-isteri Nabi tidak dianggap Ahlul Bait? Bagaimana bisa cucu-cucu Ali yang tidak pernah melihat Rasulullah dimasukkan Ahlul Bait, sementara isteri-isteri yang biasa tidur seranjang bersama Nabi tidak dianggap Ahlul Bait? Bagaimana bisa Fathimah lahir ke dunia, jika tidak melalui isteri Nabi, yaitu Khadijah Radhiyallahu ‘Anha? Bagaimana bisa Hasan dan Husein lahir ke dunia, kalau tidak melalui isteri Ali, yaitu Fathimah? Tanpa keberadaan para isteri shalihah ini, tidak akan ada yang disebut Ahlul Bait Nabi.”

Faktanya, dalam Surat Al Ahzab ayat 33 disebutkan: “Innama yuridullahu li yudzhiba ‘ankumul rijsa ahlal baiti wa yuthah-hirakum that-hira.” (bahwasanya Allah menginginkan menghilangkan dosa dari kalian, para ahlul bait, dan mensucikan kalian sesuci-sucinya). Dalam ayat ini isteri-isteri Nabi masuk kategori Ahlul Bait, menurut Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bahkan selama hidupnya, mereka mendapat sebutan Ummul Mu’minin (ibunda orang-orang Mukmin) Radhiyallahu ‘Anhunna.

LOGIKA 3: “Islam dan Sahabat”

Tanyakan kepada orang Syiah: “Apakah Anda beragama Islam?” Maka dia akan menjawab dengan penuh keyakinan: “Tentu saja, kami adalah Islam. Kami ini Muslim.” Lalu tanyakan lagi ke dia: “Bagaimana cara Islam sampai Anda, sehingga Anda menjadi seorang Muslim?” Maka orang itu akan menerangkan tentang silsilah dakwah Islam. Dimulai dari Rasulullah, lalu para Shahabatnya, lalu dilanjutkan para Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in, lalu dilanjutkan para ulama Salafus Shalih, lalu disebarkan oleh para dai ke seluruh dunia, hingga sampai kepada kita di Indonesia.”

Kemudian tanyakan ke dia: “Jika Anda mempercayai silsilah dakwah Islam itu, mengapa Anda sangat membenci para Shahabat, mengutuk mereka, atau menghina mereka secara keji? Bukankah Anda mengaku Islam, sedangkan Islam diturunkan kepada kita melewati tangan para Shahabat itu. Tidak mungkin kita menjadi Muslim, tanpa peranan Shahabat. Jika demikian, mengapa orang Syiah suka mengutuk, melaknat, dan mencaci-maki para Shahabat?”

Faktanya, kaum Syiah sangat membingungkan. Mereka mencaci-maki para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum dengan sangat keji. Tetapi di sisi lain, mereka masih mengaku sebagai Muslim. Kalau memang benci Shahabat, seharusnya mereka tidak lagi memakai label Muslim. Sebuah adagium yang harus selalu diingat: “Tidak ada Islam, tanpa peranan para Shahabat!”

LOGIKA 4: “Seputar Imam Syiah”

Tanyakan kepada orang Syiah: “Apakah Anda meyakini adanya imam dalam agama?” Dia pasti akan menjawab: “Ya! Bahkan imamah menjadi salah satu rukun keimanan kami.” Lalu tanyakan lagi: “Siapa saja imam-imam yang Anda yakini sebagai panutan dalam agama?” Maka mereka akan menyebutkan nama-nama 12 imam Syiah. Ada juga yang menyebut 7 nama imam (versi Ja’fariyyah).

Lalu tanyakan kepada orang Syiah itu: “Mengapa dari ke-12 imam Syiah itu tidak tercantum nama Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hanbali? Mengapa nama empat imam itu tidak masuk dalam deretan 12 imam Syiah? Apakah orang Syiah meragukan keilmuan empat imam madzhab tersebut? Apakah ilmu dan ketakwaan empat imam madzhab tidak sepadan dengan 12 imam Syiah?”

Faktanya, kaum Syiah tidak mengakui empat imam madzhab sebagai bagian dari imam-imam mereka. Kaum Syiah memiliki silsilah keimaman sendiri. Terkenal dengan sebutan “Imam 12″ atau Imamah Itsna Asyari. Hal ini merupakan bukti besar, bahwa Syiah bukan Ahlus Sunnah. Semua Ahlus Sunnah di muka bumi sudah sepakat tentang keimaman empat Imam tersebut. Para ahli ilmu sudah mafhum, jika disebut Al Imam Al Arba’ah, maka yang dimaksud adalah empat imam madzhab rahimahumullah.

LOGIKA 5: “Allah dan Imam Syiah”

Tanyakan kepada orang Syiah: “Siapa yang lebih Anda taati, Allah Ta’ala atau imam Syiah?” Tentu dia akan akan menjawab: “Jelas kami lebih taat kepada Allah.” Lalu tanyakan lagi: “Mengapa Anda lebih taat kepada Allah?” Mungkin dia akan menjawab: “Allah adalah Tuhan kita, juga Tuhan imam-imam kita. Maka sudah sepantasnya kita mengabdi kepada Allah yang telah menciptakan imam-imam itu.”

Kemudian tanyakan ke orang itu: “Mengapa dalam kehidupan orang Syiah, dalam kitab-kitab Syiah, dalam pengajian-pengajian Syiah; mengapa Anda lebih sering mengutip pendapat imam-imam daripada pendapat Allah (dari Al Qur’an)? Mengapa orang Syiah jarang mengutip dalil-dalil dari Kitab Allah? Mengapa orang Syiah lebih mengutamakan perkataan imam melebihi Al Qur’an?”

Faktanya, sikap ideologis kaum Syiah lebih dekat ke kemusyrikan, karena mereka lebih mengutamakan pendapat manusia (imam-imam Syiah) daripada ayat-ayat Allah. Padahal dalam Surat An Nisaa’ ayat 59 disebutkan, jika terjadi satu saja perselisihan, kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah sikap Islami, bukan melebihkan pendapat imam di atas perkataan Allah.

LOGIKA 6: “Ali dan Jabatan Khalifah”

Tanyakan kepada orang Syiah: “Menurut Anda, siapa yang lebih berhak mewarisi jabatan Khalifah setelah Rasulullah wafat?” Dia pasti akan menjawab: “Ali bin Abi Thalib lebih berhak menjadi Khalifah.” Lalu tanyakan lagi: “Mengapa bukan Abu Bakar, Umar, dan Ustman?” Maka kemungkinan dia akan menjawab lagi: “Menurut riwayat saat peristiwa Ghadir Khum, Rasulullah mengatakan bahwa Ali adalah pewaris sah Kekhalifahan.”

Kemudian katakan kepada orang Syiah itu: “Jika memang Ali bin Abi Thalib paling berhak atas jabatan Khalifah, mengapa selama hidupnya beliau tidak pernah menggugat kepemimpinan Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar, dan Khalifah Utsman? Mengapa beliau tidak pernah menggalang kekuatan untuk merebut jabatan Khalifah? Mengapa ketika sudah menjadi Khalifah, Ali tidak pernah menghujat Khalifah Abu Bakar, Umar, dan Ustman, padahal dia memiliki kekuasaan? Kalau menggugat jabatan Khalifah merupakan kebenaran, tentu Ali bin Abi Thalib akan menjadi orang pertama yang melakukan hal itu.”

Faktanya, sosok Husein bin Ali Radhiyallahu ‘Anhuma berani menggugat kepemimpinan Dinasti Umayyah di masa Yazid bin Muawiyyah, sehingga kemudian terjadi Peristiwa Karbala. Kalau putra Ali berani memperjuangkan apa yang diyakininya benar, tentu Ali Radhiyallahu ‘Anhu lebih berani melakukan hal itu.

LOGIKA 7: “Ali dan Husein”

Tanyakan ke orang Syiah: “Menurut Anda, mana yang lebih utama, Ali atau Husein?” Maka dia akan menjawab: “Tentu saja Ali bin Abi Thalib lebih utama. Ali adalah ayah Husein, dia lebih dulu masuk Islam, terlibat dalam banyak perang di zaman Nabi, juga pernah menjadi Khalifah yang memimpin Ummat Islam.” Atau bisa saja, ada pendapat di kalangan Syiah bahwa kedudukan Ali sama tingginya dengan Husein.

Kemudian tanyakan ke dia: “Jika Ali memang dianggap lebih mulia, mengapa kaum Syiah membuat peringatan khusus untuk mengenang kematian Husein saat Hari Asyura pada setiap tanggal 10 Muharram? Mengapa mereka tidak membuat peringatan yang lebih megah untuk memperingati kematian Ali bin Abi Thalib? Bukankah Ali juga mati syahid di tangan manusia durjana? Bahkan beliau wafat saat mengemban tugas sebagai Khalifah.”

Faktanya, peringatan Hari Asyura sudah seperti “Idul Fithri” bagi kaum Syiah. Hal itu untuk memperingati kematian Husein bin Ali. Kalau orang Syiah konsisten, seharusnya mereka memperingati kematian Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu lebih dahsyat lagi.

Logika 8: “Syiah dan Wanita”

Tanyakan ke orang Syiah: “Apakah dalam keyakinan Syiah diajarkan untuk memuliakan wanita?” Dia akan menjawab tanpa keraguan: “Tentu saja. Kami diajari memuliakan wanita, menghormati mereka, dan tidak menzhalimi hak-hak mereka?” Lalu tanyakan lagi: “Benarkah ajaran Syiah memberi tempat terhormat bagi kaum wanita Muslimah?” Orang itu pasti akan menegaskan kembali.

Kemudian katakan ke orang Syiah itu: “Jika Syiah memuliakan wanita, mengapa mereka menghalalkan nikah mut’ah? Bukankah nikah mut’ah itu sangat menzhalimi hak-hak wanita? Dalam nikah mut’ah, seorang wanita hanya dipandang sebagai pemuas seks belaka. Dia tidak diberi hak-hak nafkah secara baik. Dia tidak memiliki hak mewarisi harta suami. Bahkan kalau wanita itu hamil, dia tidak bisa menggugat suaminya jika ikatan kontraknya sudah habis. Posisi wanita dalam ajaran Syiah, lebih buruk dari posisi hewan ternak. Hewan ternak yang hamil dipelihara baik-baik oleh para peternak. Sedangkan wanita Syiah yang hamil setelah nikah mut’ah, disuruh memikul resiko sendiri.”

Faktanya, kaum Syiah sama sekali tidak memberi tempat terhormat bagi kaum wanita. Hal ini berbeda sekali dengan ajaran Sunni. Di negara-negara seperti Iran, Irak, Libanon, dll. praktik nikah mut’ah marak sebagai ganti seks bebas dan pelacuran. Padahal esensinya sama, yaitu menghamba seks, menindas kaum wanita, dan menyebarkan pintu-pintu kekejian. Semua itu dilakukan atas nama agama. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

LOGIKA 9: “Syiah dan Politik”

Tanyakan ke orang Syiah: “Dalam pandangan Anda, mana yang lebih utama, agama atau politik?” Tentu dia akan berkata: “Agama yang lebih penting. Politik hanya bagian dari agama.” Lalu tanyakan lagi: “Bagaimana kalau politik akhirnya mendominasi ajaran agama?” Mungkin dia akan menjawab: “Ya tidak bisa. Agama harus mendominasi politik, bukan politik mendominasi agama.”

Lalu katakan ke orang Syiah itu: “Kalau perkataan Anda benar, mengapa dalam ajaran Syiah tidak pernah sedikit pun melepaskan diri dari masalah hak Kekhalifahan Ali, tragedi yang menimpa Husein di Karbala, dan kebencian mutlak kepada Muawiyyah dan anak-cucunya? Mengapa hal-hal itu sangat mendominasi akal orang Syiah, melebihi pentingnya urusan akidah, ibadah, fiqih, muamalah, akhlak, tazkiyatun nafs, ilmu, dll. yang merupakan pokok-pokok ajaran agama? Mengapa ajaran Syiah menjadikan masalah dendam politik sebagai menu utama akidah mereka melebihi keyakinan kepada Sifat-Sifat Allah?”

Faktanya, ajaran Syiah merupakan contoh telanjang ketika agama dicaplok (dianeksasi) oleh pemikiran-pemikiran politik. Bahkan substansi politiknya terfokus pada sikap kebencian mutlak kepada pihak-pihak tertentu yang dianggap merampas hak-hak imam Syiah. Dalam hal ini akidah Syiah mirip sekali dengan konsep Holocaust yang dikembangkan Zionis internasional, dalam rangka memusuhi Nazi sampai ke akar-akarnya. (Bukan berarti pro Nazi, tetapi disana ada sisi-sisi kesamaan pemikiran).

LOGIKA 10. “Syiah dan Sunni”

Tanyakan ke orang Syiah: “Mengapa kaum Syiah sangat memusuhi kaum Sunni? Mengapa kebencian kaum Syiah kepada Sunni, melebihi kebencian mereka kepada orang kafir (non Muslim)?” Dia tentu akan menjawab: “Tidak, tidak. Kami bersaudara dengan orang Sunni. Kami mencintai mereka dalam rangka Ukhuwwah Islamiyyah. Kita semua bersaudara, karena kita sama-sama mengerjakan Shalat menghadap Kiblat di Makkah. Kita ini sama-sama Ahlul Qiblat.”

Kemudian katakan ke dia: “Kalau Syiah benar-benar mau ukhuwwah, mau bersaudara, mau bersatu dengan Sunni; mengapa mereka menyerang tokoh-tokoh panutan Ahlus Sunnah, seperti Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar, Khalifah Utsman, isteri-isteri Nabi (khususnya Aisyah dan Hafshah), Abu Hurairah, Zubair, Thalhah, dan lain-lain? Mencela, memaki, menghina, atau mengutuk tokoh-tokoh itu sama saja dengan memusuhi kaum Sunni. Tidak pernah ada ukhuwwah atau perdamaian antara Sunni dan Syiah, sebelum Syiah berhenti menista para Shahabat Nabi, selaku panutan kaum Sunni.”

Fakta yang perlu disebut, banyak terjadi pembunuhan, pengusiran, dan kezhaliman terhadap kaum Sunni di Iran, Irak, Suriah, Yaman, Libanon, Pakistan, Afghanistan, dll. Hal itu menjadi bukti besar bahwa Syiah sangat memusuhi kaum Sunni. Hingga anak-anak Muslim asal Palestina yang mengungsi di Irak, mereka pun tidak luput dibunuhi kaum Syiah. Hal ini pula yang membuat Syaikh Qaradhawi berubah pikiran tentang Syiah. Jika semula beliau bersikap lunak, akhirnya mengakui bahwa perbedaan antara Sunni dan Syiah sangat sulit disatukan. Dalam lintasan sejarah kita mendapati bukti lain, bahwa kaum Syiah tidak pernah terlibat perang melawan negara-negara kufar. Justru mereka sering bekerjasama dengan negara kufar dalam rangka menghadapi kaum Muslimin. Hancurnya Kekhalifahan Abbasiyyah di Baghdad, sikap permusuhan Dinasti Shafawid di Mesir, era Perang Salib di masa Shalahuddin Al Ayyubi, serta Khilafah Turki Utsmani, di atas semua itu terekam fakta-fakta pengkhianatan Syiah terhadap kaum Muslimin. Begitu juga, jatuhnya Afghanistan dan Iraq ke tangan tentara Sekutu di era modern, tidak lepas dari jasa-jasa para anasir Syiah dari Iran.

wallahu a’lam bisshawaab

(nisyi/syiahindonesia.com)

************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: