Breaking News
Loading...

Syaihindonesia.com, Jakarta - Di tengah perang saudara yang berkecamuk, warga Yaman di wilayah terpencil di Yaman utara, terpaksa makan dedaunan untuk mencegah kelaparan.

Banyak keluarga, terutama anak-anak yang kelaparan, tidak makan apa pun kecuali daun pohon anggur lokal, yang direbus menjadi pasta hijau asam.

Pusat kesehatan utama di Distrik Aslam dibanjiri puluhan anak-anak yang kurus kering, seperti dilaporkan Associated Press, Sabtu, 16 September 2018.

Dalam foto 25 Agustus 2018 ini, seorang gadis makan daun rebus dari pohon anggur lokal untuk mencegah kelaparan, di distrik Aslam, Hajjah, Yaman yang sangat miskin. Distrik Aslam tidak mendapat akses bantuan internasional di tengah perang saudara 3 tahun di negara itu. (Foto AP / Hammadi Issa)

Anak-anak balita yang sangat kurus, dengan mata menonjol, duduk di bak mandi plastik yang digunakan perawat untuk menimbang berat anak-anak. Kulit tipis anak-anak itu menunjukkan tungkai tulang mereka seperti pensil dan lutut yang melengkung. Perawat mengukur lengan bawah mereka, yang hanya memiliki diameter beberapa sentimeter, menandai tahap terburuk malnutrisi di Yaman.

Setidaknya 20 anak diketahui telah meninggal karena kelaparan tahun ini di provinsi yang mencakup distrik tersebut, selama lebih dari tiga tahun dalam perang sipil yang menghancurkan negara ini. Pejabat setempat mengatakan jumlah sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi, karena beberapa keluarga melaporkannya ketika anak-anak mereka meninggal di rumah.

Dalam foto 25 Agustus 2018 ini diambil dari video bayi yang sedang menyusu yang bernama Zahra, yang sangat kekurangan gizi dari ibunya, di Aslam, Haji, Yaman. Perang saudara Yaman telah merusak kemampuan negara yang sudah rapuh itu untuk memberi makan penduduknya. Sekitar 2,9 juta perempuan dan anak-anak mengalami kekurangan gizi akut, dan 400.000 anak lain berjuang untuk hidup karena menderita kelaparan. (Foto AP / Hammadi Issa)

Di sebuah desa di dekat pusat kesehatan, seorang gadis berusia 7 bulan, Zahra, menangis dan menggapai dengan tangannya yang kurus, memohon ibunya memberinya makan. Sayangnya, ibunya juga kekurangan gizi dan sering tidak dapat menyusui Zahra.

"Sejak hari dia lahir, saya belum punya uang untuk membeli susu atau membeli obatnya," kata ibu Zahra.

Zahra baru-baru ini dirawat di pusat kesehatan. Di rumah dia tidak memiliki apa pun dan orang tuanya tidak mampu menyewa mobil atau sepeda motor untuk membawanya kembali ke klinik.

Jika mereka tidak membawanya ke rumah sakit, Zahra akan meninggal, kata Mekkiya Mahdi, kepala pusat kesehatan. Tempo

************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

0 komentar: