Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com, Damaskus – Seiring menurunnya ekskalasi pertempuran di Suriah, banyak militan asing pendukung Presiden Suriah Bashar Assad kembali ke negara asal mereka. Beberapa darinya adalah pengungsi Syiah Afghanistan yang didukung Iran.

Sejak 2011, Iran telah mengirim ribuan pengungsi Afghanistan tanpa paspor ke Suriah untuk bertempur bersama milisi Syiah Lebanon, Hizbullah dan pasukan elit Garda Revolusi Iran (IRGC).

Militan Afghanistan ini tergabung dalam Brigade Fatimiyoun, kelompok asing terbesar kedua yang bertempur untuk Assad di Suriah. Pada puncak perang, laporan media memperkirakan jumlah mereka antara 10.000 dan 12.000 pejuang.

Salah satu militan Afghanistan yang kembali adalah Hamid yang berusia 22 tahun, yang memimpin salah satu unit dalam Brigade Fatimiyoun. Dia berusia 17 ketika pindah ke Iran untuk mencari pekerjaan.

“Setelah bekerja di sana selama enam bulan, pemerintah Iran memberi saya dua pilihan: kembali ke Afghanistan atau berperang di Suriah,” kata Hamid kepada VOA. “Saya memilih untuk bergabung dengan Brigade Fatimiyoun [di Suriah] karena saya membutuhkan uang untuk melunasi hutang saya.”

Iran telah merekrut pengungsi Afghanistan untuk berperang di Suriah dengan janji kewarganegaraan dan peningkatan standar hidup bagi keluarga mereka. Sekitar 3 juta warga Afghanistan tinggal di Iran, tetapi banyak yang tidak memiliki hak dasar dan hidup tanpa status formal di negara itu.

“Saya dijanjikan kewarganegaraan Iran, gaji bulanan $ 1.000 (Rp 14 juta), dan hak untuk memiliki rumah dan mobil sekembalinya dari Suriah,” kata Hamid, yang kembali ke Afghanistan pada 2016.

“Tapi itu semua bohong. Saya diberikan residensi lima tahun, yang membutuhkan pembaruan bulanan. Saya tidak dibayar sama sekali, apalagi hak untuk memiliki rumah atau mobil. ”

Menerima Pelatihan Militer Dikirim ke Suriah

Sebelum dikerahkan ke Suriah pada tahun 2015, Hamid dan rekrutan Afghanistan lainnya menerima satu bulan pelatihan militer di lokasi pegunungan dekat kota Iran Yazd. Dia kemudian ditunjuk oleh IRGC untuk memimpin satu unit yang terdiri dari 140 militan Afghanistan di provinsi Aleppo, Suriah, tempat mereka memerangi kelompok-kelompok militan Islam seperti Jabhah Nusrah.

“Setelah enam bulan pertempuran di Suriah, saya tertembak dan kembali ke Iran,” kata Hamid. “Saya menghabiskan tiga bulan di Iran, tetapi saya tidak dirawat. Jadi saya harus kembali ke Afghanistan. Ayah saya menjual sebidang tanah suburnya dan mengirim saya ke India untuk dirawat.”

Tidak jelas berapa banyak orang Syiah Afghanistan telah pulang dari Suriah, meskipun beberapa perkiraan menyebutkan jumlahnya ribuan. Para analis percaya bahwa militer Iran mengerahkan warga Afghanistan dalam perang Suriah untuk alasan ekonomis.

“Bagi rezim Iran, membunuh orang-orang ini di Suriah jauh lebih tidak bermasalah daripada membunuh warga Iran di sana,” kata Sadradeen Kinno, seorang peneliti Suriah yang secara dekat mengikuti kelompok-kelompok militan di Suriah.

“Setidaknya Iran tidak perlu khawatir tentang kemarahan publik yang tumbuh di dalam Iran karena terbunuhnya para militan yang didukung Iran di Suriah,” tambahnya.

Doktrin Syiah Iran

Banyak militan Afghanistan bertempur di Suriah dengan alasan keuangan. Namun, beberapa dari mereka telah diindoktrinasi oleh pejabat Iran atas dasar sektarian untuk memerangi sebagian besar oposisi Sunni.

“Tujuan kami adalah untuk membersihkan Islam dari orang-orang [murtad] Takfiris di Suriah dan kemudian di tanah air kami,” kata seorang mantan pejuang Afghanistan kepada VOA tanpa mau disebut nama karena alasan keamanan.

Dia mengatakan bahwa militan Afghanistan “tidak memiliki pengalaman dalam pertempuran di daerah pegunungan saat kami akan dikerahkan ke Latakia [provinsi di Suriah barat].”

“Komandan kami memberi tahu kami, ‘Kamu lebih baik belajar bagaimana berperang di pegunungan sehingga kamu akan siap untuk perang masa depan kita di Afghanistan untuk membangun negara Islam yang sebenarnya’,” tambahnya.

Ancaman terhadap Afghanistan

Beberapa ahli mengatakab bahwa retorika dan keyakinan tersebut dapat menimbulkan “ancaman nyata” bagi Afghanistan, negara yang sudah bergejolak.

“Mereka jelas merupakan ancaman bagi keamanan Afghanistan,” kata pensiunan Jenderal Afghanistan Atiqullah Amarkhil. “Mereka adalah sekelompok gerilyawan terlatih yang telah berjuang sebagai tentara bayaran [di Suriah] dan tidak tahu apa-apa selain pertempuran.”

Amarkhil mengatakan bahwa sebagian besar militan Syiah Afghanistan yang bertempur di Suriah tidak berpendidikan. “Karena itu mereka akan melakukan perampokan dan pembunuhan atau memulai perang sipil atau sektarian atas perintah Iran,” ujarnya.

Dia mengatakan para pejabat Afghanistan telah sering membahas masalah ini dengan pemerintah Iran, meminta agar tidak mengembalikan para pejuang ini ke Afghanistan karena mereka adalah bagian dari Pasukan Revolusi Iran dan perlu disimpan di Iran.

Hamid, yang mantan militan Afghanistan di Suriah, menyuarakan keprihatinan yang sama. “Saya telah mendengar bahwa beberapa pejuang [Brigade Fatimiyoun] diberitahu bahwa mereka akan diperlengkapi untuk berperang di Afghanistan,” katanya, seraya menambahkan bahwa Iran telah mencuci otak mereka.

“Alasannya mungkin memerangi Negara Islam, tetapi begitu berada di Afghanistan para militan ini akan ditugaskan untuk melawan pemerintah Afghanistan,” kata Hamid.

Bantuan Selama Masa-masa Sulit

Dalam pertemuan baru-baru ini dengan keluarga militan Afghanistan, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan bahwa banyak warga Afghanistan telah membantu Iran selama masa-masa sulit.

“Mereka membantu kami sejak awal revolusi, dan selama perang yang dipaksakan [dengan Irak], dan sekarang sepanjang periode mempertahankan Kuil [di Suriah],” katanya.

Iran telah sering mengatakan bahwa kehadiran militernya di Suriah sebagian besar untuk melindungi situs-situs suci Syiah di sana. Namun, Iran juga telah memainkan peran utama dalam mengacaukan Suriah dan bagian lain di Timur Tengah.

Didukung oleh pasukan Iran dan kekuatan udara Rusia, para militan Syiah Afghanistan telah memainkan peran utama dalam mempertahankan pasukan rezim Assad di seluruh Suriah, termasuk pertempuran melawan Negara Islam di Aleppo, Hama, Homs dan Deir Zour.

“Beberapa dari mereka masih aktif di Suriah, tetapi berkurang dari sebelumnya. Hal ini karena situasi keamanan telah membaik bagi pemerintah Suriah,” kata Aymenn Jawad al-Tamimi, seorang peneliti di Forum Timur Tengah, yang berbasis di AS. Kiblat.net

************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

0 komentar: