Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Pemberontak Syi'ah Houtsi, yang didukung oleh Iran, telah melakukan "kejahatan keji" terhadap rakyat Yaman, pemimpin propaganda Syi'ah Houtsi yang membelot dari kelompok itu pada hari Jum'at mengatakan.

Abdelsalem Jaber mengatakan syarat-syarat sudah matang untuk "penyelesaian cepat proses pembebasan" Yaman dari kendali pemberontak Syi'ah Houtsi.

Berbicara di sebuah konferensi pers di Riyadh pada hari Ahad (11/11/2018), Jaber, menteri informasi, mengatakan pemberontak Syi'ah kaki tangan Iran itu memiliki daftar panjang kelakuan buruk, termasuk mengubah institusi negara menjadi kelompok-kelompok yang bertikai yang diperintah oleh milisi.

"Tahanan di penjara Houtsi sedang diperlakukan tidak manusiawi," kata Jaber, menambahkan bahwa apa yang terjadi di daerah-daerah yang dikuasai Syi'ah Houtsi "adalah pekerjaan milisi" yang bersaing memperebutkan "pusat kekuasaan."

Jaber adalah anggota paling senior dari pemberontak Syi'ah Houtsi yang  membelot ke pihak pemerintah sejak perang Yaman dimulai pada tahun 2014.

Jaber tiba di Arab Saudi bersama keluarganya setelah melarikan diri dari ibukota Sana'a, Moammer al-Iryani, menteri informasi pemerintah Yaman, mengatakan pada hari Sabtu.

Mengkonfirmasi dugaan lama bahwa kaum Syi'ah Houtsi dibantu oleh Iran dan negara-negara lain, Jaber mengatakan Yaman menolak "dominasi asing dari negara itu."

Jaber mengatakan dominasi Syi'ah Houtsi berada di hari-hari terakhirnya, menambahkan bahwa "rakyat Yaman telah menolak ketidakadilan Houtsi dan sedang menunggu kesempatan untuk menyingkirkan mereka."

Pembelotan Jaber datang dengan latar belakang bentrokan lanjutan di kota pelabuhan Laut Merah Hodeidah, fasilitas penting yang pemerintah Yaman yang didukung oleh koalisi pimpinan Saudi sedang berusaha rebut kembali dari pemberontak Syi'ah Houtsi.

Pertempuran telah berkobar di timur Hodeidah antara pemberontak Syi'ah Houtsi dan pasukan pemerintah yang didukung oleh serangan udara dan helikopter.

"Pertempuran di sini berubah menjadi pertempuran jalanan," kata seorang pejabat pemerintah pada hari Sabtu.

Pasukan pemerintah pada hari Sabtu merebut kontrol Rumah Sakit 22 Mei sebagai bagian dari serangan.

Amnesty International, kelompok pengawas hak asasi manusia internasional, telah mengatakan milisi Syi'ah Houtsi melakukan "militerisasi yang disengaja" terhadap rumah sakit setelah mereka menempatkan penembak jitu di atapnya. Voa-islam.com

0 komentar: