Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Bagi mereka, lelaki hanya wajib menutupi batang dzakarnya saja, adapun dubur dan selainnya, maka tidak wajib untuk ditutupi. Disebutkan dalam kitab mereka:

عَنْ أَبِي الْحَسَنِ الْمَاضِي (عليه السلام) قَالَ الْعَوْرَةُ عَوْرَتَانِ: الْقُبُلُ وَالدُّبُرُ، فَأَمَّا الدُّبُرُ مَسْتُورٌ بِالْأَلْيَتَيْنِ فَإِذَا سَتَرْتَ الْقَضِيبَ وَالْبَيْضَتَيْنِ فَقَدْ سَتَرْتَ الْعَوْرَةَ

Dari Abil Hasan Al Madhi Alaihissalam: Dia berkata: "Aurat ada dua: Alat kemaluan dan dubur, adapun dubur sudah tertutupi oleh kedua daging dubur. Maka jika kamu telah menutupi batang dzakar dan dua buah dzakarnya maka kamu telah menutupi aurat"

Dalam riwayat lain disebutkan:

وَأَمَّا الدُّبُرُ فَقَدْ سَتَرَتْهُ الْأَلْيَتَانِ وَأَمَّا الْقُبُلُ فَاسْتُرْهُ بِيَدِكَ

"Adapun dubur, maka telah ditutupi oleh 2 daging dubur, adapun alat kemaluan, maka tutupilah ia dengan tanganmu"[1]

Begitulah agama jorok syiah mengajarkan. Hanya wajib untuk menutupi batang dzakar. Adapun dubur, maka tidak wajib untuk ditutup.

Bagaimana dengan ajaran Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam?? Ternyata ajaran Rasul dan syi'ah sungguh berbeda jauh.

Jangankan dubur dan kemaluan, Rasulullah telah memerintahkan kaum muslimin untuk menutupi paha mereka. Karena paha termasuk bagian dari aurat.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

غَطِّ فَخِذَكَ فَإِنَّهَا مِنَ العَوْرَةِ

"Tutupilah pahamu, karena paha termasuk bagian dari aurat"[2]

Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda:

غَطِّ فَخِذَكَ، فَإِنَّ فَخِذَ الرَّجُلِ مِنْ عَوْرَتِهِ

"Tutuplah pahamu, karena paha lelaki termasuk bagian dari auratnya"[3]
 
Penulis: Muhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikel: alamiry.net (Kajian Al Amiry)

Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.

Ikuti status kami dengan menekan tombol like pada halaman FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry

[1] Al Kaafi 6/501
[2] HR Tirmidzi
[3] HR Ahmad

0 komentar: