Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Di dalam situasi Iraq yang memburuk  serta runtuhnya masyarakat dan peraturan hukum, laporan-laporan menunjukkan bahwa secara luas ekstrimis Syiah yang tidak berpendidikan dibayar lebih tinggi daripada profesor-profesor universitas.

Upah bulanan yang dihasilkan oleh kelompok bersenjata Syiah (disebutnya sebagai jihadis yang dikenal dengan Hashd Al-Sha’abi dalam bahasa Arab), yang bertempur di bawah dukungan Popular Mobilisation Forces (PMF) telah menjaga dominasi milisi-milisi di sepanjang Iraq  dan kemampuannya untuk menarik anggota baru dengan upah lebih tinggi daripada yang bisa mereka terima di manapun yang lebih banyak menuntut pekerjaan secara intelektual.

Seorang pejabat Iraq, yang namanya tidak ingin dipublikasikan mengatakan pada Al-Araby Al-Jadeed, mengatakan upah bulanan para milisi telah meningkat menjadi 1,162,000 dinar Iraq (sekitar 1000 dollar). Jumlah tersebut lebih tinggi daripada yang diterima sarjana, menyebabkan banyak orang mencari kehidupan yang lebih baik di luar negeri dan terjadinya brain drain (imigrasi orang-orang terpelajar dari sebuah negara) di Iraq.

Jatuhnya Baghdad memulai Zaman Batu Iraq

Pemerintah Iraq, yang secara resmi mengakui PMF sebagai cabang dari angkatan bersenjata bersama dengan angkatan darat, laut dan udara, diketahui menunda pembayaran upah para pekerja sipil dan sektor publik. Malah, Baghdad lebih takut menunda pembayaran upah PMF yang pro-Teheran, seperti yang terjadi pada Februari lalu, insiden-insiden di mana para milisi mencuri dan melakukan perampokan bersenjata.

Iraq sebuah dunia kriminal geng

Hussam Isa, salah satu pemimpin Iraqi Civil Movement di Baghdad, sebuah kelompok aktivis yang berusaha mengembalikan kontrol sipil di negara yang saat ini didominasi oleh milisi-milisi sektarian, mengatakan bahwa sangatlah tidak bisa dibayangkan ketika sarjana berpendidikan mendapat upah lebih rendah daripada milisi-milisi yang tidak berpendidikan.

“Terdapat sebuah perasaan bahwa negara ini dijalankan oleh para milisi,” kata Isa, menambahkan bahwa dia percaya pemerintah terpaksa membayar para milisi Syiah dengan upah yang tinggi karena takut pada mereka.

Seorang penceramah di Universitas Baghdad, Ahmad Hassan, secara terang-terangan mengatakan:

“Aku berpikir untuk berhenti mengajar dan membeli sebuah senapan Kalashnikov sebelum mendaftar ke salah satu milisi. Upahku akan lebih tinggi, dan aku tidak khawatir bahwa seseorang akan menyerang atau merampok kami,” katanya dikutip laman middleeastmonitor, Kamis (12/05/2017)

Akademisi itu melanjutkan: “Sangatlah memalukan mengetahui fakta bahwa kami tidak lagi memiliki tempat di negara di mana para sarjana sedang kelaparan, dan orang bodoh dikaruniai dengan upah.”

Sementara itu, PMF hanya bersikap keras dan mengancam mereka yang berpikir bahwa kelompok tersebut seharusnya tidak menerima upah lebih dari anggota masyarakat lainnya.

“Reaksi terhadap upah Hashd telah dipicu oleh mereka yang memiliki agenda dan tidak menginginkan kebaikan bagi Iraq,” Fadhil Al-Hassani, ulama Syiah dan komandan PMF, mengatakan.

Dia menambahkan: “Kami akan memotong lidah siapapun yang berbicara melawan mereka (milisi Syiah, red), meskipun mereka berada di media atau berbicara dari platform milik kelompok sipil dan sekular.”

Tokoh Syiah itu memuji Hashd dengan mengatakan, “Bisa dikatakan bahwa unit-unit Hashd saat ini merupakan kelas terbaik di masyarakat, dan tidak ada yang menyamai mereka dalam bentuk kebaikan mereka (pada Iraq).” Hidayatullah.com

0 komentar: