Breaking News
Loading...

Penyelewengan Syiah terhadap Konsep Keadilan Islam

Syiahindonesia.com - Di antara nilai terbesar dalam Islam adalah al-‘adl (keadilan), sebuah prinsip agung yang ditegakkan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan diwujudkan secara sempurna oleh Rasulullah ﷺ. Namun, konsep keadilan ini mengalami penyimpangan serius dalam ajaran Syiah Imamiyah. Mereka membangun doktrin keagamaan yang tidak hanya bertentangan dengan syariat, tetapi juga merusak tatanan keadilan yang telah ditetapkan Allah. Penyimpangan ini muncul dalam konsep imamah, takfir sahabat, klaim ma’shum, pembagian hak-hak agama, hingga instrumen politik keagamaan. Artikel ini akan menjelaskan secara detail bagaimana Syiah menyelewengkan konsep keadilan Islam.


1. Keadilan dalam Islam: Prinsip Utama yang Jelas

Islam meletakkan keadilan sebagai pilar utama dalam akidah dan hukum.

Allah berfirman:

﴿إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ﴾
“Sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan dan berbuat kebajikan.”
(QS. An-Nahl: 90)

Dan Allah berfirman:

﴿وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا﴾
“Dan apabila kamu berbicara, maka berlaku adillah.”
(QS. Al-An‘am: 152)

Keadilan dalam Islam bersifat universal, berlaku untuk semua manusia, tidak memandang nasab, kelompok, atau kelas sosial.


2. Syiah Mengganti Keadilan dengan Fanatisme Imamah

Syiah Imamiyah menempatkan imamah sebagai fondasi agama, bahkan lebih tinggi dari risalah kenabian. Mereka meyakini bahwa Imam adalah:

  • ma’shum (tidak mungkin salah),

  • memiliki otoritas mutlak,

  • wakil Tuhan di muka bumi,

  • dan wajib ditaati.

Dengan demikian, konsep keadilan berubah menjadi kepatuhan mutlak pada Imam, bukan pada Al-Qur’an atau sunnah.

Padahal Nabi ﷺ telah bersabda:

«عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي»
“Wajib atas kalian berpegang teguh kepada sunnahku.”
(HR. Abu Dawud)

Keadilan yang seharusnya berpijak pada wahyu berubah menjadi loyalitas buta pada figur tertentu.


3. Menuduh Para Sahabat Murtad: Bentuk Ketidakadilan yang Paling Nyata

Syiah berkeyakinan bahwa hampir semua sahabat—termasuk Abu Bakar, Umar, dan mayoritas Muhajirin-Anshar—telah murtad setelah wafatnya Nabi ﷺ. Ini merupakan puncak kezaliman terhadap generasi terbaik Islam.

Allah memuji mereka dengan sangat jelas:

﴿وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ﴾
“Allah telah ridha terhadap para sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar.”
(QS. At-Taubah: 100)

Bagaimana mungkin Allah ridha kepada mereka, sementara Syiah justru menuduh mereka sebagai pengkhianat?
Ini adalah penyimpangan besar dari prinsip keadilan.


4. Mengkafirkan Muslim Sunni: Keadilan yang Hilang

Banyak ulama besar Syiah mengkafirkan Sunni karena dianggap tidak mengakui imamah. Mereka berpendapat bahwa:

  • Sunni tidak sah ibadahnya,

  • tidak sah nikahnya,

  • tidak sah syahadatnya,

  • bahkan tidak sah jenazahnya dishalatkan oleh Syiah.

Padahal Allah berfirman:

﴿وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَىٰ إِلَيْكُمُ ٱلسَّلَٰمَ لَسْتَ مُؤْمِنًا﴾
“Janganlah kalian mengatakan kepada orang yang memberi salam kepadamu: ‘Engkau bukan seorang beriman.’”
(QS. An-Nisa’: 94)

Syiah justru memutarbalikkan makna iman dengan menjadikannya semata-mata kesetiaan pada Imam.


5. Zina Bernama Mut’ah: Ketidakadilan terhadap Perempuan

Nikah mut’ah adalah bentuk penindasan terhadap perempuan, karena:

  • tidak memberikan nafkah,

  • tidak memberikan hak waris,

  • tidak memberikan perlindungan,

  • dan memperlakukan perempuan seperti objek biologis.

Padahal Islam menegakkan keadilan dalam pernikahan:

﴿وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ﴾
“Pergaulilah mereka (istri-istri kalian) dengan cara yang baik.”
(QS. An-Nisa’: 19)

Mut’ah membatalkan prinsip keadilan dan kehormatan yang diajarkan Islam.


6. Mengklaim Imam sebagai Sumber Pahala dan Azab

Menurut Syiah, pahala dan dosa seseorang sangat tergantung pada kesetiaannya kepada Imam. Bahkan sebagian riwayat Syiah menyatakan:

  • Imam yang menentukan surga atau neraka,

  • Imam mengetahui yang gaib,

  • Imam memberikan syafaat tanpa batas.

Padahal Allah telah menetapkan:

﴿أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ﴾
“Tidak ada seorang pun yang menanggung dosa orang lain.”
(QS. An-Najm: 38)

Menganggap Imam sebagai penentu pahala dan dosa adalah bentuk penyimpangan yang menghancurkan keadilan ilahi.


7. Kezaliman dalam Sejarah: Narasi Palsu untuk Menyalahkan Sunni

Syiah memanipulasi sejarah dengan:

  • memalsukan cerita penyerangan rumah Fatimah,

  • menuduh Umar membakar pintu,

  • menyebarkan kisah-kisah dusta tentang Abu Bakar,

  • menciptakan riwayat untuk membenarkan imamah.

Memalsukan sejarah adalah bentuk kezaliman intelektual yang bertentangan dengan prinsip al-‘adl.


8. Wilayat al-Faqih: Keadilan Diganti dengan Kekuasaan Absolut

Konsep Wilayat al-Faqih di Iran menyatakan bahwa seorang ulama (khomeini) berhak memimpin negara dengan kekuasaan tidak terbatas. Ini menciptakan:

  • kesewenang-wenangan politik,

  • penindasan terhadap rakyat,

  • hilangnya kebebasan,

  • dan penindasan terhadap Sunni.

Keadilan dalam Islam justru menuntut:

  • musyawarah,

  • keadilan sosial,

  • dan tidak boleh otoriter.

Wilayat al-Faqih menyelewengkan semua prinsip tersebut.


9. Kultus Imam Menghancurkan Keadilan Spiritual

Syiah meyakini Imam:

  • tidak bisa salah,

  • tidak bisa lupa,

  • terpelihara dari dosa sejak lahir,

  • memiliki cahaya ilahi,

  • bahkan sebagian Syiah ekstrem memandang mereka setara malaikat.

Konsep ini bertentangan dengan prinsip Islam:

﴿إِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ﴾
“Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
(QS. Al-A‘raf: 31)

Keadilan Islam menjadi tercemar oleh pengkultusan figur manusia.


Kesimpulan: Penyimpangan Konsep Keadilan adalah Akar Masalah Syiah

Penyelewengan Syiah terhadap konsep keadilan Islam meliputi:

  • mengkafirkan sahabat,

  • menuduh Sunni sesat,

  • membenarkan mut’ah,

  • menjadikan Imam sebagai penentu pahala,

  • memalsukan sejarah,

  • mengajarkan kebencian,

  • dan menerapkan kekuasaan absolut.

Semua ini adalah bentuk kezaliman terhadap ajaran Islam yang murni. Oleh karena itu, umat Islam harus waspada agar tidak terpengaruh penyimpangan yang dibangun atas fanatisme, bukan atas keadilan yang ditetapkan Allah.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: