Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com, Jakarta – Ketua Umum Organisasi Syiah Ikatan Ahlul Bait Indonesia (IJABI), Jalaluddin Rahmat menuding bahwa Ahlussunnah selalu mendistribusikan ujaran kebencian. Hal ini disampaikannya dalam peringatan hari besar Syiah, Ghadir Khum yang digelar di Aula Rujab komplek perum DPR-RI Kalibata pada Jumat (31/08/2018).

Dalam kesempatan itu, Jalal menyebut bahwa ada usaha menghilangkan jejak sejarah Ali bin Abi Thalib. Dia juga menuding Ahlussunnah menyembunyikan kekayaan perbendaharaan Islam yang digerakkan oleh fanatisme kelompok.

Kemudian, Jalal juga menyebut umat Islam selain pengikut Ahlul Bait (Syiah) selalu menyebarkan ujaran kebencian sepanjang sejarah.

“Sampai sekarang ujaran kebencian itu tidak terhenti,” ujar Jalal.

Ahlussunnah, kata dia, selalu mencaci-maki Ali bin Abi Thalib di mimbar-mimbar. Dia menyebut ini terjadi semenjak zaman khalifah Muawwiyah berkuasa.

“Muawwiyah itu memerintahkan 70.000 mimbar masjid di bawah kekuasaannya untuk melaknat Ali bin Abi Thalib,” imbuhnya.

Selain itu, Jalal juga menuduh jika sebuah pemerintahan dikuasai oleh Ahlussunnah, maka jabatan akan diberikan kepada yang paling kerasai Ali.

Terkait celaan Muawiyah terhadap sahabat Ali bin Abi Thalib, para ulama tafsir dan hadits panggilan hal itu sebuah kemustahilan. Sebagaimana perkataan ahli tafsir Imam Al-Qurtubi.

“Jauh (yaitu belajar) Mu’awiyah menyatakan laknat dan celaan terhadapnya (Ali Radhiyallahu anhu), karena Mu’awiyah memilki sifat berakal, beragama, santun, dan akhlak yang baik. Mereka yang melaporkannya tentang hal itu (celaaan dan laknat terhadap sahabat Ali Radhiyallahu anhu), kebanyakan adalah dusta, tidak shahîh, ”katanya dalam kitab Al-Mufhim, 6/278.

Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya Al-Bidayah wan-Nihayah juga berkata, “Ini tidak shahîh dari mereka, semoga Allah meridhai mereka.”  Kiblat.net

0 komentar: