Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com, Sanaa – Koalisi pimpinan Saudi dan pemberontak Syiah Hutsi menghambat pengiriman bantuan ke Yaman. Demikian menurut pernyataan Amnesty International, Jumat (22/06/2018).

Amnesty International melakukan penelitian antara Desember 2017 dan Juni 2018, termasuk mewawancarai 12 pekerja bantuan, 8 tenaga medis dan 5 aktivis komunitas lokal di ibukota Sanaa, kota pelabuhan strategis Hudaydah dan kota terkepung Taiz. Lembaga itu menemukan bahwa Koalisi dan pemberontak menyulitkan organisasi bantuan untuk memberikan bantuan segera di Yaman.

“Meskipun pengumuman koalisi pada 22 November bahwa mereka telah mencabut blokade pelabuhan, hal itu terus membatasi atau sangat menunda impor komersial. Penyalahgunaan rezim pemeriksaan di bawah Resolusi Dewan Keamanan PBB 2216 telah menyebabkan penundaan yang berlebihan dan ketidakpastian yang telah berfungsi untuk menghalangi pengiriman barang-barang penting dan bantuan kemanusiaan,” dewan pengarah Amnesty.

“Tindakan ini bentuk pengabaian seruan Dewan Keamanan PBB untuk pembukaan penuh dan berkelanjutan dari semua pelabuhan Yaman, termasuk Hudaydah dan Saleef,” tambahnya.

Kapal Terpaksa Menunggu 120 Jam

Amnesty menemukan bahwa kapal yang melakukan perjalanan ke pelabuhan Yaman dipaksa oleh Koalisi Saudi untuk menunggu sekitar 120 jam pada bulan Maret dan 74 jam pada bulan April. Koalisi yang dipimpin Saudi telah memantau Laut Merah dan Bab El-Mandeb sejak tahun lalu untuk mencegat transfer senjata Iran ke Hutsi melalui pelabuhan Hudaydah.

“Pihak Hutsi secara de facto telah menghambat pengiriman bantuan kemanusiaan di negara tersebut. Mereka telah memberlakukan pembatasan yang berlebihan dan sewenang-wenang pada pergerakan staf dan bantuan,” kata seorang pekerja bantuan kemanusiaan.

“Bagian yang paling sulit adalah mendapatkan bantuan dari gudang begitu berada di Yaman,” katanya. “Orang-orang Hutsi menempatkan proses birokrasi pada organisasi bantuan, menunda bantuan penting bagi Yaman di seluruh negeri.”

Amnesty International juga menemukan bahwa beberapa organisasi bantuan dipaksa untuk membayar pemberontak Hutsi untuk bisa melalui jalur Yaman. Kiblat.net

0 komentar: