Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com, BALIKPAPAN - Sebanyak 152 warga negara asing (WNA) dari berbagai kewarganegaraan yang ditahan di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Balikpapan, Jumat (20/4) malam hingga Sabtu (21/4) dini hari mengamuk dan merusak berbagai fasilitas yang ada di rudenim.

Suasana Rudenim Balikpapan yang berada di Jalan Sosial, Lamaru, Balikpapan Timur sempat mencekam. Aksi yang dilakukan pada WNA tersebut sudah dimulai sejak sore hari. Awalnya mereka hanya melakukan protes menuntut agar diperbolehkan keluar, dan minta segera dipindahkan ke luar Balikpapan.

Beberapa WNA membawa poster bertuliskan "Saya bukan Tahanan", "Kami Manusia, Kami Mau Bebas".

Para WNA tersebut ada yang sudah menghuni rudenim sejak 2014 dan selama itu diperlakukan sebagai tahanan yang dianggapnya tidak adil. Poster-poster protes itu ditempel juga ditembok kamar.


Kebanyakan pengungsi itu menyebut ingin melanjutkan ke Australia, berimigrasi dan menetap di Negeri Kanguru itu. "Namun, sekarang sudah empat tahun saya di Indonesia," kata Abdullah.

Untuk menguasai keadaan, Polres Balikpapan mengerahkan 180 personel dari berbagai kesatuan polisi dibantu TNI, termasuk Satpol PP dan relawan Palang Merah Indonesia (PMI) serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Menurut Kapolres AKBP Wiwin, keributan dan amukan tersebut untuk menarik perhatian umum akan kondisi para tahanan tersebut. Aksi perusakan adalah sebagai unjuk rasa.

Dari mediasi pihak terkait, terutama Imigrasi, melibatkan Kapolres dan International Organization for Migration (IOM) Balikpapan, diketahui keinginan para WNA tersebut.

Adapun tuntutan mereka antara lain ingin dibebaskan keluar masuk rumah detensi, artinya juga tidak diperlakukan sebagai tahanan. Negoisasi, pihak Imigrasi dan IOM. Aspirasi dari mereka akan ditampung. Secepatnya akan dipindahkan secara bertahap. Bisa ke Medan, Surabaya atau tempat lain," sambungnya. Tribunnews.com

0 komentar: