Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Luthfi Bashori “Masuk angin” dalam bahasa pergaulan di jaman Now, adalah julukan bagi seseorang yang mudah terpengaruh oleh rayuan maut dari kalangan berduit, terutama terkait dengan urusan dukung mendukung tokoh yang sedang mencalonkan diri pada pesta demokrasi pilkada/pilgub/pilpres atau yang mempunyai kepentingan lain yang semisalnya.

Contohnya ada seorang figur panutan masyarakat yang selama ini dikenal jauh dari dunia politik, lantas mendapat kunjungan dan bantuan dana dari salah seorang kandidat di pilkada yang dikenal tidak bersih dalam berpolitik, tiba-tiba sang figur panutan tersebut ikut mengkampanyekan si kandidat, maka masyarakat pun akan berkomentar, “Waah… sekarang sang figur sudah ‘masuk angin’ gara-gara dapat kunjungan maut”

Ayah saya, KH. Bashori Alwi, saat ini usianya 93 tahun, termasuk tokoh ulama NU yang teguh pendirian dan tidak mudah ‘masuk angin’.

Beliau selalu berani mengatakan TIDAK terhadap hal-hal yang bertentangan dengan aqidah Aswaja.

Misalnya, pada saat tahun 1995 Gusdur berceramah di masjid Ampel Surabaya dengan mengatakan, “NU adalah Syiah Kultular dan Khomeini adalah Waliyullah,” maka ayah saya menolak ucapan Gusdur itu, bahkan hingga terjadi dialog antara ayah saya dengan Gusdur di Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo, terkait ucapan Gusdur tersebut, dan saat itu ayah saya pun menerbitkan buku kecil berjudul DIALOG GENGGONG.

Isi buku Dialog Genggong adalah transkrip dari perdebatan antara ayah saya dengan Gusdur, dan tampak sekali keteguhan ayah saya dalam penolakan terhadap Syiah, walaupun mendapat argumentasi dari Gusdur yang menurutnya, “NU itu adalah Syi’ah Kultural minus Imamah,” demikian kata Gusdur.

Hingga kini jika klik googel, maka masih dapat ditemukan beberapa akun yang memuat peristiwa Dialog Genggong ini.

Sejak peristiwa Dialog Genggong itu, maka ayah saya memutuskan diri menjadi warga NU yang Non Gusdurian.

Bahkan, sejak itulah ayah saya semakin giat mengajak masyarakat khususnya warga NU untuk menolak Syiah, termasuk beliau mengaji membaca buku Tsaurah Iraniniyah yang isinya menerangkan tentang kesesatan Syiah, baik di Masjid Jami’ Malang, Jami’ Pandaan dan di berbagai tempat lainnya.

Demikian juga saat mendengar ceramah Said Aqil Siradj yang viral hingga kini di youtube dalam sambutannya di acara Asyura versi Syiah, dimana isi ceramah Said Aqil Siradj itu memuji-muji ajaran Syiah, maka ayah saya tetap teguh pendirian menolak Syiah, walaupun harus berseberangan dengan Ketua Umum PBNU hingga saat ini.

Bahkan ayah saya juga menolak disertasi karya Said Aqil Siradj, karena berisi takfir terhadap sejumlah ulama Salaf Aswaja serta beberapa tulisan Said Aqil Siradj yang condong berfaham Syiah.

Penolakan ayah saya terhadap pemahaman Said Aqil Siradj ini juga banyak ditulis oleh akun-akun di dunia maya, dan sangat mudah untuk dicari.

Ayah saya juga menolak pemahaman bengkok dari pemikiran dan perilaku sejumlah tokoh-tokoh liberal, yang kerap tampil di depan publik, seperti saat marak diadakan Doa Bersama Lintas Agama di berbagai daerah.

Bahkan hampir setiap tahun di saat menjelang perayaan Natal kaum Nasrani, maka ayah saya secara istiqamah tidak segan-segan berkhathbah Jumat di berbagai masjid besar dengan berfatwa, ‘Umat Islam haram hukumnya mengucapkan Selamat Natal’

Saat beberapa tokoh pesantren ramai-ramai menerima kunjungan politik Hary Tanoe, maka ayah saya perintah kepada pengurus Pesantren Ilmu Alquran, yaitu pesantren yang beliau dirikan, agar memasang banner ukuran besar bertuliskan, “Pesantren Ilmu Alquran Tidak Menerima Kunjungan Hary Tanoe.”

Dalam beberapa buku karya ayah saya, beliau juga rajin menolak pemahaman kaum Wahabi yang sering menuduh bid’ah terhadap amaliyah warga Aswaja seperti kegiatan Tahlilan, Tawassul, Maulid Nabi, dll.

Di saat mayoritas keluarga besar Bani Bashori sedang kumpul di hari Raya Idul Fithri, th 1436/2015, termasuk juga dihadiri oleh beberapa dewan guru senior, kecuali beberapa orang yang tidak hadir, maka ayah saya berwasiat agar semua keluarga besar Pesantren Ilmu Alquran menjaga dan melestarikan Pesantren Ilmu Alquran sebagai pesantren Ahlus Sunnah wal jamaah yang tidak dicampuraduk dengan ajaran Liberal, Syiah dan Wahhabi.

Wasiat ayah saya ini, hingga kini diabadikan oleh pihak pengurus sebagai monumen yang ditempel pada dinding Pesantren Ilmu Alquran Singosari Malang.

Sebagai salah satu keluarga besar Pesantren Ilmu Alquran, maka saya pun selalu berdoa memohon kepada Allah agar dapat menjalankan wasiat mulia dari ayah saya tersebut.

Saya teringat sebuah syair yang mengatakan:

بِأَبِهِ اقْتَدَى عَدِيٌّ في الكَرَمْ * وَمَنْ يُشابِهُ أَبَاهُ فَما ظَلَمْ

(Shahabat) Adi telah meniru sifat ayahnya dalam kemuliaan (kehormatan), maka barang siapa yang mengikuti jejak ayahnya (dalam kebaikan) ia tidak akan tersesat.(KH.Luthfi Bashori) Wajahbatam.id

0 komentar: