Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Jika dikalkulasikan, besar kemungkinan umat Islam yang mengalami pelanggaran HAM terbanyak dibanding umat agama lain. Dari mulai kriminalisasi terhadap orang-orang yang mengamalkan ajaran Islam, diskriminasi terhadap ajarannya itu sendiri, bahkan penghilangan nyawa bagi penganut agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wasallam ini.

Entah berapa muslimah yang hidup di negeri-negeri Barat menerima bogem mentah karena mengenakan hijab. Berapa banyak pemuda yang sholat di jalanan karena dilarang beribadah di masjid. Tak jarang, masjid justru dilempari dengan kepala babi, diwarnai vandalisme dan berbagai teror lainnya.

Di Palestina, umat Islam setiap hari harus bergelut dengan tentara zionis Israel untuk mempertahankan tanah kehormatan mereka, Al-Quds. Tempat tegaknya Masjid Al-Aqsha yang menjadi kiblat pertama dan tempat Nabi melakukan isra mi’raj.

Apa yang dialami oleh umat Islam di Palestina, seluruh dunia mengutuk atas penjajahan tersebut. Berbagai kecaman dilontarkan kepada negara-negara yang anti terhadap Israel. Tak terkecuali Indonesia, selalu memberikan respon yang cepat jika muncul kearoganan Israel dan anteknya terhadap rakyat muslim Palestina.

Presiden Joko Widodo dengan gerak cepat memberikan tanggapan ketika Amerika dengan sepihak ingin merubah ibu kota Israel di Al-Quds. Ia juga menegaskan bahwa Indonesia mengecam kebijakan tersebut.

“Indonesia mengecam keras pengakuan sepihak AS terhadap Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan meminta AS mempertimbangkan kembali keputusan tersebut,” kata Jokowi.
BACA JUGA  Menghitung Mayat di Ghouta Pun Kalah Cepat dari Serangan Bom Assad

Sementara itu, Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi dengan gagah selalu menyuarakan bahwa Indonesia selalu ingin menjadi yang terdepan dalam membela kemerdekaan Palestina. Bahkan, ia mengatakan bahwa Palestina selalu mempengaruhi kebijakan luar negeri Indonesia.

“Palestina selalu ada di sini, di jantung hati foreign policy Indonesia,” ujar Retno sambil menunjuk dadanya dalam diskusi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Namun, lain cerita bila penderitaan itu menimpa umat Islam di Suriah. Kecaman yang ditunggu tak kunjung datang. Kutukan yang didambakan tak bersenandung dengan lantang. Gendang telinga kita tak merasakan getaran dari sebuah ucapan keprihatinan. Yang terjadi justru sebaliknya, orang yang ingin mengirim bantuan kemanusiaan dicekal, dianggap ingin bergabung dengan kelompok radikal.

Pemerintah sudah selayaknya menyikapi berbagai tragedi kemanusiaan yang menimpa umat Islam dengan adil. Apakah sebuah foto bergambar seorang anak kecil di Ghouta Timur, dengan lumuran darah yang membasahi rambut tidak mengusik hati mereka? Ghouta yang sedang memerah darah semestinya mampu menggerakkan lisan dan tangan para pejabat Indonesia untuk membantu umat Islam di sana. Bukankan slogan “segala bentuk penjajahan harus dihapuskan” kerap digemakan? Jika Palestina berada di hati pemerintah Indonesia, Suriah di mana?

Kita sebagai umat Islam di negara muslim terbesar ini juga tidak harus menunggu komando dari para pejabat untuk membantu sesama. Kita harus sadari bahwa mereka yang terkena bom, reruntuhan bangunan adalah saudara kita. Sudah seringkali terngiang di telinga, bahwa umat Islam adalah laksana satu tubuh.

Tulisan ini bukan berarti untuk memecah belah perhatian kaum muslimin terhadap saudaranya yang terkena musibah. Tetap kita harus memiliki rasa untuk membantu ketika melihat kaum muslimin di manapun berada yang sedang mengalami kezaliman. Namun, yang perlu kita ingat jangan ada fanatisme bantuan, yakni hanya membantu umat Islam di daerah tertentu tanpa memperhatikan yang lain. Kiblat.net

0 komentar: