Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Irak telah menyatakan keprihatinannya atas pernyataan seorang pejabat Emirat yang mengklaim pasukan paramiliter yang didominasi Syiah telah menerima dana dari Qatar.

Juru bicara kementerian luar negeri Irak Ahmed Mahjoub pada hari Rabu (21/3/2018) mempertanyakan validitas tuduhan yang dibuat oleh Menteri Urusan Luar Negeri Uni Emirat Arab Anwar Gargash tersebut.

“Pernyataan ini muncul sebagai hambatan pada saat Irak sedang berusaha memperkuat hubungan dengan UEA,” kata Mahjoob, lansir Aljazeera.
Presiden Perancis Serukan Pembubaran Pasukan Syiah Irak, Al Maliki Berang

“Mereka menjadi perhatian karena kemungkinan membina dan mengembangkan hubungan,” katanya kepada kantor berita Rusia Sputnik.

Dalam sebuah posting Twitter pada hari Senin, Gargash menuduh pemerintah Qatar membiayai berbagai kelompok “teroris” hingga $ 1 milyar, beberapa diantaranya yaitu Pasukan Mobilisasi Populer Irak, gerakan Syiah Hezbollah yang berbasis di Libanon, dan Jabhah Nusrah, yang sekarang dikenal sebagai Hayat Tahrir al-Sham.

Itu adalah tuduhan terbaru yang dikeluarkan oleh UEA melawan Qatar.

UEA – bersama dengan Arab Saudi, Bahrain, dan Mesir – memutuskan hubungan diplomatik dengan Doha pada Juni tahun lalu dan menjatuhkan blokade udara, laut, dan darat, sambil menuduh Qatar mendukung “ekstremisme” dan mengembangkan hubungan dengan Iran – saingan regional mereka.

Qatar membantah keras tuduhan tersebut.

Ahmed Saeed al-Rumaihi, kepala kantor media Qatar untuk kementerian luar negeri, menggambarkan tuduhan Gargash sebagai “tidak berdasar” dan dibuat tanpa bukti. Komentar itu hanya “mempromosikan kebohongan”, Rumaihi menambahkan.

Sekitar 60 faksi membentuk Pasukan Mobilisasi Populer Irak (Popular Mobilisation Forces-PMF, juga dikenal sebagai Popular Mobilisation Unit-PMU) – sebuah payung kelompok bersenjata bersama-sama dengan pemimpin etnis dan suku Irak.

40 divisi PMF – terdiri lebih dari 60.000 pejuang – memainkan peran kunci dalam perang melawan kwlompok Islamic State (IS), yang merebut banyak wilayah Irak pada tahun 2014, tetapi sekarang telah dikalahkan. Jurnalilam.com

0 komentar: