Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com, Riyadh - Pasukan keamanan Arab Saudi menyerbu sekelompok pria bersenjata Syiah di Awamiya, sebelah timur negara, mengakibatkan lusinan bangunan hancur dan ribuan warga setempat mengungsi.

Penyerbuan itu dilakukan setelah pasukan keamanan menjelaskan para pria bersenjata tersebut bertanggung jawab  atas serangan mematikan terhadap polisi di kota berpenuduk 30 ribu orang itu tiga bulan lalu.

Sejumlah jurnalis yang diajak pemerintah melakukan kunjungan ke Kota Awamiya, Rabu, 9 Agustus 2017, menyaksikan gedung-gedung rusak parah akibat adu senjata antara pasukan bersenjata dengan mereka.

Para wartawan yang dikawal oleh pasukan khusus naik kendaraan lapis baja melihat jala-jalan hancur ketika akan memasuki zona adu senjata di kota tersebut.

"Tidak ada  pertempuran selama kunjungan wartawan ke Kota Awamiya, meskipun warga setempat mengatakan masih ada suara ledakan," Al Jazeera melaporkan, Kamis, 10 Agustus 2017.

Pemerintah Arab Saudi tidak menyebut jumlah korban tewas akibat baku tembak ini, namun perwakilan Kementerian Dalam Negeri melaporkan sedikitnya 8 polisi dan 4 tentara tewas sejak operasi militer berlangsung.

Sedangkan warga Kota Awamiya menyebut setidaknya 9 warga sipil tewas akibat kekerasan yang dilakukan otoritas Arab Saudi pada pekan lalu dan lebih dari 20 ribu penduduk mengungsi ke kota dan desa tetangga.

Angka berbeda dilaporkan aktivis Syiah yang 5 pejuang dan 23 warga sipil tewas selama pertempuran. Di antara korban tewas adalah seorang bocah tiga tahun yang meninggal pada Rabu lalu setelah tertembak di mobil oleh kendaraan militer pada Juni lalu.

Perwakilan kementerian Arab Saudi menyebut wilayah ini telah kosong sejak enam bulan lalu, dan hanya dihuni oleh milisi Syiah. Agar dapat memerangi milisi Syiah, pemerintah harus menunggu seluruh warga sipil mengosongkan wilayah tersebut.

Esam Abdullatef Almulla, Wali Kota Awamiya menyebut pemerintah memberi kompensasi sebesar 800 juta Riyal kepada penduduk sebelum menghancurkan 80 dari 488 rumah di bagian kota tua Musawara.

Dia menepis kekhawatiran pakar PBB pada April lalu yang menyebut penghancuran bangunan di wilayah berusia 400 tahun akan menghancurkan warisan budaya Awamiya, Arab Saudi. "Mayoritas warga sudah sepakat," ujar Almulla. Sumber: Tempo

0 komentar: