Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Hampir sepekan serangan militer rezim Bashar al Assad dan sekutunya yang nyaris tanpa henti membombardir wilayah Ghouta Timur dalam sepekan terakhir menambah jumlah korban tewas hingga Ahad pagi sudah melebih 520 orang demikian data dari kelompok Medecins Sans Frontieres (MSF) atau dikenal Dokter Lintas-Batas.

Jumlah korban tewas di Ghouta yang terkepung melonjak melampaui imajinasi. Menurut MSF, banyak korban adalah wanita dan anak-anak. Perempuan dan anak-anak mewakili 58 persen orang yang terluka dan 48 persen dari korban tewas yang tercatat.

Relawan kemanusiaan melaporkan, begitu gencarnya pengeboman tanpa henti sampat mereka tak mampu menghitung jenazah korban.

Tidak banyak media bisa mengakses langsung menjelaskan kepastian korban dan kondisi sesungguhnya. Satu-satunya laporan datang dari para relawan dan masyarakat yang menjadi korban melalui media sosial, yang menggambarkan kondisi Ghouta Timur laksana ‘neraka’.

Dewan Keamanan PBB menyepakati gencatan senjata selama 30 hari di Ghouta padad. Namun Rusia tetap meneruskan bom ke pemukiman penduduk.

Koresponden Orient News,  melaporkan, pesawat-pesawat tempur Rusia dan Rezim Bashar menjatuhkan bom di kantong-kantong pertanian padat penduduk di sebelah timur ibu kota, benteng terakhir oposisi di dekat Damaskus selama tujuh hari berturut-turut.

Milisi rejim juga menjatuhkan Bom Fosfor yang dilarang secara internasional, menyebabkan kebakaran rumah dan melukai warga sipil, menurut koresponden Orient dan video yang diterbitkan aktivis lokal.

Muhammad Najem, seorang remaja berusia 15 tahun dari daerah kantong kelompok oposisi di Ghouta Timur yang hancur, melaporkan melalui akun menggunakan media sosial dan berbagi video tentang pemboman harian, dan kekurangan makanan dan medis. Dengan ratusan warga sipil yang terbunuh minggu ini saja, posting terbaru Muhammad telah meminta masyarakat internasional untuk mengambil tindakan. “Bashar, Putin dan Khomeini  membunuh masa kecil kami, ” katanya.

Akun @SiegeWatch juga melaporkan hujan Bom Gentong terjadi Kampung Al-Shaifuniya di Ghouta yang dikepung.

Sejak semalam, beredar beberapa potongan video dari Ghouta begaimana anak-anak sedang berlindung dari bom yang dihujankan oleh pesawat-pesawat Bashar Assad dan Vladimir Putin. Mereka yang ketakutian sambil terus membaca Surat Al-Falaq dan Surat An-Nas.

Sebuah video dari Syria Charity secara viral beredar, di mana seorang anak suriah dengan menggunakan kerudung coklat menangis dan mempertanyakan dunia internasional.

Seorang gadis Suriah (yang tidak disebutkan namanya) menjelaskan apa yang terjadi di Ghoutah dari salah satu tempat berlindung.

“Dunia macam apa ini? Menyiapkan makanan untuk kita saja tidak bisa. Setiap hari kami ditembaki pesawat-pesawat tempur. Kita keluar ditembaki, keluar ditembaki. Mereka memaksa kita mengungsi dari rumah.

Dari minggu lalu begitu saja keadaan kita. Setiap hari dibom, pagi-pagi diserang. Demi Allah Basyar itu terlaknat! Kita lelah begini terus. Kita tak punya apa-apa. Tidak ada makanan, bahkan airpun tak ada.

Kita hanya bisa tidur disini, diatas tanah. Hingga punggung ini terasa nyeri.

Kita tak bisa apa-apa. Mengambil bantal dari rumah saja tidak bisa. Sampai terpaksa tidur di atas tanah. Mereka akan menembaki dengan pesawat-pesawatnya kalau kita keluar. Demi Allah Basyar itu sungguh terlaknat!,” ujarnya sambil menangis, sementara di belakangnya ada puluhan anak-anak lain tengah ketakutan.

Ghouta adalah kawasan subur dan pusat pertanian. Kota seluas 370 km persegi ini memiliki populasi 2011 sebanyak 1,2 juta orang. Saat ini populasinya sekitar 300 ribu, banyak di antaranya pengungsi dari kawasan lain Suriah. Ghouta termasuk basis pejuang pembebasan Suriah yang telah dikepung rezim keji sejak 2012.

Berjarak hanya 13 km di timur laut Damaskus,  kawasan Bumi Syam ini disebut oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi sallam dalam beberapa hadits sahih  Abu Dawud, At-Tirmidzi adalah tempat berkumpulnya  kaum Muslimin terbaik suatu saat nanti. Hidayatullah.com

0 komentar: