Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Pasukan rezim Suriah dan sekutunya bergerak maju dalam serangan gencar dari udara untuk mendapatkan wilayah di provinsi Idlib barat laut, daerah oposisi terbesar yang tersisa di negara itu.

Dorongan tersebut telah memaksa ribuan warga sipil untuk melarikan diri ke perbatasan Turki dalam kondisi musim dingin yang membeku, demikian diungkapkan oleh sejumlah organisasi kemanusiaan sebagaimana dilansir Aljazeera, Senin (8/1/18).

Target utama operasi tersebut adalah pangkalan udara Abu Zuhour di tepi tenggara Idlib, sebuah provinsi yang dikuasai oleh Hay’at Tahrir al-Sham (HTS), satu kelompok yang sebelumnya bernama Jabhah Fath Syam (JFS) dan Jabhah Nushrah (JN) yang berafiliasi kepada Al-Qaidah.

Pada Ahad (7/1/2108), sebuah kelompok pemantau, Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) yang berbasis di Inggris, melaporkan bahwa pasukan yang setia kepada rezim Basyar Asad telah “menguasai kota Sinjar”, sekitar 20 km dari pangkalan udara Abu Zuhour.

Pasukan pro-rezim juga ingin mengamankan jalan Damaskus-Aleppo yang melintasi Idlib, dimana jalan tersebut dikuasai pejuang oposisi sejak 2015.

Didukung oleh milisi dari Iran dan kekuatan udara Rusia, pasukan Asad sejak akhir Oktober 2017 lalu merebut kembali wilayah yang dikuasai oposisi di Idlib dan juga menyita puluhan desa di bagian utara provinsi Hama di dekatnya.

Idlib seharusnya menjadi salah satu zona de-eskalasi (zona bebas konflik) sejak tahun lalu sesuai kesepakatan yang didukung Rusia, Iran dan Turki.

Kesepakatan zona de-eskalasi tersebut ditujukan untuk menghentikan pertempuran dan memberikan rasa aman kepada warga sipil di empat wilayah tersebut: provinsi Idlib, Ghouta Timur, provinsi Homs utara dan selatan negara tersebut.

Namun, rezim Asad dan sekutunya, Rusia dan Iran, tidak mematuhi kesepakatan dan terus melancarkan serangan di semua area yang termasuk dalam kesepakatan tersebut, selain wilayah selatan.

Seiring pertempuran yang terus berlanjut, kelompok hak asasi manusia telah menyatakan keprihatinannya bahwa serangan rezim ke Idlib dapat menyebabkan kerusakan besar-besaran dan mengungsinya penduduk dari wilayah tersebut.

Rezim Asad didukung Rusia dan Iran kembali mengintensifkan serangan udaranya untuk bergerak lebih maju merebut wilayah/provinsi Idlib yang saat ini dikuasai oleh pejuang Suriah

Abdusselam El Sherif, juru bicara IHH, sebuah kelompok kemanusiaan Turki, mengatakan bahwa dorongan perang tersebut telah memberi dampak signifikan pada warga sipil. Kepada Aljazeera di provinsi Kilis Turki, dekat perbatasan Suriah, El Sherif mengatakan bahwa 23.775 keluarga—lebih dari 100.000 orang—telah melarikan diri dari selatan Idlib dan Hama timur minggu ini karena serangan yang dahsyat.

“Mayoritas dari mereka telah sampai di perbatasan Suriah-Turki,” katanya.

“Mereka didistribusikan di banyak kamp,” di mana ada “kebutuhan besar” untuk makanan dan pakaian, ujar El Sherif.

Menurut PBB, Idlib adalah rumah bagi sekitar 2,6 juta orang Suriah, termasuk banyak pengungsi Suriah yang telah melarikan diri dari pertempuran di tempat lain, masuk ke provinsi ini. Salam-online.com

0 komentar: