Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com, Makassar-- Ketua Komisi Hukum MUI Pusat, Prof Mohammad Bahrun, menceritakan, pasca reformasil tahun 1998, dunia pendidikan Islam di Indonesia ditandai dengan munculnya fenomena model pendidikan versi aliran Syiah.

Dalam konteks ini, Syiah di Nusantara disebut-sebut punya kaitan sejarah tersendiri.

Menurut Prof Bahrun, sebagian riwayat Syiah pernah berkuasa di Aceh, yaitu Kerajaan Perlakz. Namun kekuasaan itu terbukti sudah punah, dan pengaruhnya bisa dikata tidak tersisa.

"Sejak dulu pendidikan aqidah Syiah kontradiktif dengan anutan mayoritas ummat Ahlussunah wal Jamaah," ujarnya di Aula Fakultas Kedokteran UMI, Ahad (21/1/2018).

Akan tetapi setelah itu, secara intensif kebangkitan Syiah pasca Revolusi Iran  tahun 1979 pengaruhnya mulai masuk ke Indonesia melalui buku-buku, yang juga kemudian segera diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia secara besar-besaran.

Empat buku-buku doktrin dan ideologi aliran Syiah yang menumental dan paling menggemparkan adalah “Dialog Sunnah-Syiah” (yang diterjemahkan dari judul aslinya “Muraj a` at” 5 karya Abdul Husain Al Musawy), dipelopori oleh Penerbit Mizan, yang pemiliknya dekat dengan Kedubes Iran.

"Selain buku tersebut, juga ada buku-buku seperti Saqifah: Awal Perseilisihan umat, `Akhirnya Kutemukan Kebenaran` dan masih ada lagi yang dianggap berhasil mendekonstruksi Sunni di Nusantara," katanya.

Menyusul kemudian buku-buku pendidikan Syiah yang lain, yang intinya mendekonstruksi model pendidikan Sunni. Melancarkan kritik terhadap metode tafsir Alqur`an yang disepakati jumhur ulama, serta mengkonstruksi jalur hadits di luar mainstream para muhadditsin.

Sembari melakukan diskualifikasi terhadap para sahabat dekat Rasulullah. Penolakan terhadap hadits -hadits Ahlussunnah ini dalam kenyataannya dilakukan secara tidak konsisten dan terkesan double standard atau standar ganda.

Selanjutnya, meriwayatkan keutamaan-keutamaan Ali dapat diterima, sedangkan yang meriwayatkan pembesar sahabat lain ditolak, hingga memberi kesan seakan perawi hadist ini benar dan salah.

"Artinya benar bila mengabarkan tentang fadha`il Ali, sebaliknya salah jika menginformasikan keutamaan pembesar sahabat lain terutama Abubakar as-Shiddiq dan Umar bin Khatthab," paparnya. Harianamanah.com

0 komentar: