Breaking News
Loading...


 Tarjim : Zulkarnain Elmadury

: ( أَيُّهَا الْمَلِكُ ، كُنَّا قَوْمًا أَهْلَ جَاهِلِيَّةٍ نَعْبُدُ الْأَصْنَامَ ، وَنَأْكُلُ الْمَيْتَةَ ، وَنَأْتِي الْفَوَاحِشَ ، وَنَقْطَعُ الْأَرْحَامَ ، وَنُسِيءُ الْجِوَارَ ، يَأْكُلُ الْقَوِيُّ مِنَّا الضَّعِيفَ ، فَكُنَّا عَلَى ذَلِكَ حَتَّى بَعَثَ اللهُ إِلَيْنَا رَسُولًا مِنَّا ، نَعْرِفُ نَسَبَهُ ، وَصِدْقَهُ ، وَأَمَانَتَهُ ، وَعَفَافَهُ ، فَدَعَانَا إِلَى اللهِ لِنُوَحِّدَهُ ، وَنَعْبُدَهُ ، وَنَخْلَعَ مَا كُنَّا نَعْبُدُ نَحْنُ وَآبَاؤُنَا مِنْ دُونِهِ مِنَ الحِجَارَةِ وَالْأَوْثَانِ ، وَأَمَرَنَا بِصِدْقِ الْحَدِيثِ ، وَأَدَاءِ الْأَمَانَةِ ، وَصِلَةِ الرَّحِمِ ، وَحُسْنِ الْجِوَارِ ، وَالْكَفِّ عَنِ الْمَحَارِمِ ، وَالدِّمَاءِ ، وَنَهَانَا عَنِ الْفَوَاحِشِ ، وَقَوْلِ الزُّورِ ، وَأَكْلِ مَالَ الْيَتِيمِ ، وَقَذْفِ الْمُحْصَنَةِ ، وَأَمَرَنَا أَنْ نَعْبُدَ اللهَ وَحْدَهُ لَا نُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ، وَأَمَرَنَا بِالصَّلاةِ ، وَالزَّكَاةِ ، وَالصِّيَامِ ، قَالَ: فَعَدَّدَ عَلَيْهِ أُمُورَ الْإِسْلامِ ، فَصَدَّقْنَاهُ وَآمَنَّا بِهِ وَاتَّبَعْنَاهُ عَلَى مَا جَاءَ بِهِ ، فَعَبَدْنَا اللهَ وَحْدَهُ ، فَلَمْ نُشْرِكْ بِهِ شَيْئًا ، وَحَرَّمْنَا مَا حَرَّمَ عَلَيْنَا ، وَأَحْلَلْنَا مَا أَحَلَّ لَنَا ) رواه أحمد في " المسند " (3/266) بإسناد حسن .

“Wahai Raja, kami dahulu adalah kaum jahiliyah yang menyembah patung, makan bangkai, melakukan kejelekan, memutus hubungan persaudaraan, berbuat jelek kepada tetangga, yang kuat memakan yang lemah. Begitulah kondisi kami, sampai Allah mengutus kepada kami seorang utusan dari kalangan kami, kami tahu kejujuran, amanah, iffahnya. Dan mengajak kami untuk beribadah kepada Allah dan mengesakan-Nya. Berlepas diri dari apa yang pernah kami dan nenek moyang kami sembah selain-Nya berupa batu dan patung. Beliau memerintahkan kepada kami berkata jujur, menunaikan amanah, menyambung persaudaraan, bertetangga dengan baik, menahan diri dari perbuatan haram, dan menumpahkan darah. Melarang berbuat kejelekan, perkataan bohong, memakan harta anak yatim, menuduh wanita baik-baik. Beliau memerintahkan kepada kamu beribadah kepada Allah saja tidak menyekutukan dengan apapun. Memerintahkan kepada kami shalat, zakat, puasa. Berkata, dengan menyebutkan perkara Islam. Sehingga kami percayai dan kami berikan kepadanya, dan mengikuti apa yang dia bawa. Sehingga kami hanya beribdah kepada Allah saja tanpa menyekutukan-Nya sediktpun, dan mengharamkan apa yang diharamkan kepada kami dan menghalalkan apa yang dihalalkan kepada kami.” (HR. Ahmad dalam Musnad, 3/266 dengan sanad hasan)

أليس من الخذلان أن نجعل تلك الحوادث مثار نزاع وافتراق بيننا اليوم ، وقد كفانا الله عز وجل بلاء تلك الأيام ، وسلَّمنا من الفتنة العظيمة التي وقعت بين الصحابة الكرام رضوان الله عليهم ، وإذا كان أهل السنة يعتقدون الحق مع معسكر علي بن أبي طالب رضي الله عنهم ، فإنهم مع ذلك لا يختارون خندق الذم أو خندق الانتقاص من الأعراض أو الطعن في الدين والعقيدة ، وإنما يدافعون عن حق المحق بالكلمة الطيبة ، ويسألون الله العفو والمغفرة للمخطئ من الصحابة الكرام ، ويحسنون الظن بالجميع ، فقد توفي النبي صلى الله عليه وسلم وهو عنهم راض جميعا ، بل قال الله عز وجل
Bukankah murupakan kehinaan, menjadikan peristiwa yang menjadi sumber pertentangan dan perpecahan di antara kita sekarang, padahal Allah telah selamatkan  kita dari fitnah pada hari itu. Dan kita telah selamat dari fitnah besar yang terjadi diantara pada shahabat nan mulia  radhiallahu anhum. Meskipun ahlus Sunnah meyakini bahwa kebenaran bersama pasukan Ali bin Abu Thalib radhiallahu anhum. Meskipun begitu, kita tidak memilih mencela dan merendakan kehormatan atau mencela agama dan keyakinan. Karena sesungguhnya mereka menjaga kebenaran dengan perkataan yang baik. Mereka memohon kepada Allah maaf dan ampunan kesalahan dari kalanagan para shahabat yang mulia. Serta berbaik sangka kepada semuanya. Dimana Nabi sallallahu alaiahi wa sallam ketika wafat beliau dalam kondisi rela kepada semuanya. Bahkan Allah ta’ala berfirman:

 : ( وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ ) التوبة/100.
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)

وأنت ترى اليوم الكثير من الأحداث العظام التي تقع ولا نتمكن من معرفة حقائق وتفاصيل ما جرى فيها ، رغم وسائل الاتصال الحديثة جدا ، وأساليب التوثيق المتقدمة أيضا ، وكثرة الباحثين والمختصين والدارسين المتعمقين في تلك الأحداث ، ومع ذلك لا نتمكن من الوقوف على حقيقة الحادثة وما جرى فيها ،
Anda dapat melihat sekarang, banyak peristiwa besar terjadi, tapi kita tidak mungkin mengetahui hakekat dan perincian apa yang terjadi di dalamnya. Padahal sarana komunikasi telah modern sekali, sarana pembuktian juga sudah maju, banyak penyidik spesialisasi yang mempelajari secara detaik dalam peristiwa tersebut. Meskipun begitu, kita tidak mungkin mengetahui hakekat peristiwa yang terjadi di dalamnya.

 فكيف هو الحال عند دراسة التاريخ القديم في أحداث الفتنة وتفاصيل ما جرى بين الصحابة الكرام رضوان الله عليهم ، مع ندرة التدوين والتصنيف يومئذ ، وكثرة التشويه والتحريف من قبل الرواة والمصنفين بعد ذلك ، وتشابك الأحداث وتداخلها ، فهل من العقل والحكمة أن نجعل تلك الأيام هواجسنا صباحا ومساء ومدارا لتصنيف الناس واستحلال أعراضهم بل ودمائهم لهذا الطرف أو ذاك .
Bagaimana lagi dengan kondisi ketika mempelajari sejarah lama dalam peristiwa fitnah dan perinciannya yang terjadi di antara para shahabat nan mulia radhiallahu anhum. Sementara pencatatan dan tulisan pada waktu itu masih jarang, sedangkan syubhat dan penyelewangan banyak dilakukan para perawi dan para penulis setelah itu yang saling bertentangan. Apakah masuk akal dan bijak menjadikan hari-hari itu sebagai penghalang kita siang malam, dan sebagai rujukan untuk mengklarifikasi manusia serta menghalalkan kehormatan bahkan darahnya dari satu sisi ini atau lainnya

ثانيا 
رغم ذلك كله نقول جوابا على الحوادث المذكورة في السؤال بكل وضوح ، إنه لم يرد عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال
Kedua:
Meskipun begitu, kami katakan jawaban terkait dengan peristiwa yang disebutkan dalam pertanyaan dengan sangat jelas. Bahwa tidak ada dari Nabi sallallahu alaiahi wa sallam beliau bersabda:

: ( ستخرج الردة أو الكفر من بيتي وأشار إلى بيت عائشة رضي الله عنها )، بل لم يرو ذلك أحد من المحدثين ، ولا يعرف له إسناد ، وكفى بذلك دليلا على بطلانه ورده

“Akan keluar riddah (keluar dari agama) atau kekufuran dari rumahku dan menunjuk ke arah rumah Aisyah radhiallahu anha.”

Bahkan tidak ada seorang pun dari ahli hadits yang meriwayatkan hal itu. Tidak diketahui sanadnya. Bagaimana hal itu sebagai dalil untuk membatalkan apa yang ada,

إلا أن الذي وقع أن بعض الناس ممن امتلأت قلوبهم حقدا وغيظا على أم المؤمنين عائشة رضي الله عنها قاموا بتحريف معاني بعض الروايات الحديثية ، وفهمها فهما مشوَّها ليس له أي حظ من النظر ،

kecuali yang terjadi pada sebagian orang yang hatinya telah penuh dengan kebencian kepada ummul mukminin Aisyah radhiallahunha. Mereka melakukan penyelewengan arti pada sebagian riwayat hadits, pemahamannya tercemar yang tidak terpikirkan sama sekali.

 وكان من تولَّى كِبرَ هذا الإفك مجموعة من كتب الشيعة ، مثل " بحار الأنوار " للمجلسي (31/639 ترقيم الشاملة)، وضامن المدني في كتابه " وقعة الجمل " (ص/46)، وعبدالحسين في كتابه " المراجعات " (ص/424) والتيجاني السماوي في كتابه " فاسألوا أهل الذكر " (ص/105-106)، وكتابه " ثم اهتديت "، وغيرهم.


Yang melakukan kebohongan besar seperti ini adalah sekelompokk buku-buku syiah. Seperti Biharul Anwar karangan Majlisi (31/639 sesuai penomoran maktabah syamilah). Dhomin Al-Madani dalam kitabnya ‘Waq’atul Jamal, (hal. 46). Abdul Husain dalam kitabnya ‘Al-Murajaat, (hal. 424). Tijani As-Samawi dalam kitabnya, ‘Fas’alu ahaldz Dzikri, (Hal. 105-106). Dan kitabnya ‘Tsumma Ihtadaitu’ dan yang lainnya.

0 komentar: