Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Ribuan orang menunjukkan dukungan secara online untuk bayi berusia dua bulan yang kehilangan ibunya saat pasukan rezim Syiah Suriah membom daerah pejuang Suriah di Ghouta Timur yang mereka kepung.

Karim berumur satu bulan saat dia dan ibunya terperangkap dalam sebuah serangan di sebuah pasar di Ghouta Timur pada bulan November.

Serangan tersebut membunuh ibunya dan membuatnya kehilangan satu mata dan tempurung kepalanya menderita akibat retak parah.

Banyak orang di dunia – termasuk duta besar Inggris untuk PBB, Matthew Rycroft, kelompok Helm Putih Suriah dan anak-anak yang tinggal di daerah pinggiran yang terkepung – memasang foto mereka dengan mata kiri tertutup dalam solidaritas dengan Karim di bawah hashtag #SolidarityWithKarim.

Pesan dalam bahasa Arab, Inggris, dan Turki dengan ungkapan “#BabyKarim saya melihat Anda (#BabyKarim I see you),” dan “#Pengepungan EasternGhouta akan berakhir (#EasternGhouta siege must end)” telah banyak dibagikan di Twitter.

Abu Muhammad, ayah Karim, menggambarkan kehidupan dalam pengepungan sebagai “mimpi buruk” dan mengatakan bahwa Karim membutuhkan perawatan terus-menerus.

Dia mengatakan kepada Anadolu Agency, Selasa (19/12/2017) bahwa pengepungan membuat hidup sulit baginya dan kelima anaknya.

“Hidup terkepung adalah mimpi buruk. Sangat sulit untuk menemukan pekerjaan yang layak dalam keadaan seperti ini,” kata Abu Muhammed.

“Karim membutuhkan perawatan terus-menerus, dia kehilangan satu mata, dia memiliki tengkorak yang retak. Situasi yang memburuk terlihat jelas di Ghouta Timur.”

Ghouta Timur adalah benteng terakhir yang dipegang pejuang Suriah di Sekitar Damaskus dan telah menghadapi pemboman berbulan-bulan dari pesawat rezim Syiah Assad dan agresor Rusia.

Pengepungan, yang dimulai pada tahun 2013, telah merampas makanan, bahan bakar, dan obat-obatan.

Situasi tersebut terus memburuk dengan ucapan PBB pada bulan November bahwa jumlah anak dengan gizi buruk di daerah yang terkepung merupakan “tingkat tertinggi yang tercatat di negara ini sejak perang enam tahun dimulai.”

UNICEF mengatakan bahwa survei mereka pada bulan November di Ghouta Timur menunjukkan 12 persen anak balita menderita gizi buruk akut.

Palang Merah pada hari Senin (18/12/2017) mengatakan bahwa situasi di sana telah mencapai titik kritis karena bantuan terus dibatasi secara ketat.

“Seperti yang sering terjadi di Suriah selama enam tahun terakhir, rakyat biasalah yang sekali lagi terjebak dalam situasi di mana kehidupan menjadi tidak mungkin,” kata Robert Mardini, direktur Palang Merah Timur Tengah.

“Tidak ada keuntungan militer atau politik yang boleh membenarkan jumlah penderitaan ini, baik di Ghouta Timur atau tempat lain di Suriah,” tambahnya.

Christos Stylianides, Komisioner Eropa untuk Bantuan Kemanusiaan dan Manajemen Krisis, menyerukan mempercepat pengiriman medis ke wilayah tersebut dan mempercepat evakuasi, mencatat bahwa situasi di Ghouta Timur memburuk dengan cepat.

Stylianides mengatakan dalam sebuah pernyataan tertulis bahwa selama beberapa pekan terakhir, situasi di daerah kantong yang terkepung telah memburuk dengan cepat.

“400.000 penduduknya menghadapi tantangan kematian, karena ada banyak kekurangan kebutuhan  dasar termasuk makanan, bahan bakar, dan obat-obatan.”

Dia menambahkan bahwa situasinya menyebabkan malnutrisi parah, keadaan darurat medis dan peningkatan risiko penyakit.

“Sekitar 500 orang, termasuk 137 anak-anak, memerlukan evakuasi medis segera,” katanya. Jurnalislam.com

0 komentar: