Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com, Beirut- Pada hari Ahad (01/10) ribuan orang Lebanon dari segala usia berkumpul dalam sebuah prosesi Syiah dalam rangka mengenang atau lebih tepatnya meratap atas wafatnya Hussein bin Ali Radhiyallahuanhuma , yaitu cucu Rasulullah Muhammad SAW. Dalam tradisi agama Syiah, ritual tersebut terkait dengan peristiwa Karbala.

Sebuah pamflet besar terpampang berisi tulisan yang menceritakan kembali peristiwa tahun 680 tersebut. Di jalanan terlihat orang-orang ramai berkerumun memakai kostum hitam dan mengenakan ikat kepala bertuliskan nama Hussein dan Zainab.

Dalam keyakinan agama Syiah, peristiwa ini merupakan momen yang sangat mengaduk-aduk perasaan. Sejumlah orang meraung-raung menangis, sementara beberapa lainnya memukul-mukul kepala mereka dengan pedang hingga keluar darah.

“Ambil gambar saya!” kata Ali sambil berlari menuju sekelompok wartawan dengan kepala bagian depan berdarah-darah. “Saya ingin melukai diri sendiri dan berdarah karena saya cinta Hussein. Saya melakukan ini setiap tahun, (karena) saya ingin merasakan sakit yang dirasakan Hussein,” kata pelajar berusia 19 tahun tersebut yang berasal dari selatan Beirut.

Alih-alih membuat para juru foto itu bersimpati, wajah Ali yang berdarah-darah itu malah membuat mereka penasaran, mengingat banyak sekte Syiah lainnya yang belum tentu sepakat dengan tindakan melukai diri sendiri.

“Ini sekedar pertunjukan/atraksi,” kata Ali Awad (26 tahun) yang bekerja sebagai desain grafis mengomentari tindakan Ali si pelajar. Atraksi “self-injury” ini dikoordinasikan oleh Partai Politik Amal dan diselenggarakan setiap tahun. “Ini tidak mewakili tentang Asyura yang sebenarnya, (karena) bisa menularkan penyakit jika menggunakan pedang yang sama,” kata Ali Awad yang mengaku tidak pernah ikut acara kontroversial tersebut. Tradisi ini disebut “tatbir”, dan sering mengundang perpecahan.

Pada tahun 1994, Pemimpin Tertinggi Syiah Ali Khamenei membuat keputusan yang melarang aksi menyiksa diri dan menggambarkannya sebagai “bertentangan dengan agama”. Kendati demikian, sejumlah komunitas Syiah di Iraq, Bahrain, dan sedikit orang Syiah di Turki masih melestarikan festival berdarah tersebut.

Demikian juga di Lebanon, dalam beberapa kesempatan pemimpin Syiah Hizbullah Hassan Nasrallah dengan tegas menentang festival “tatbir”. Sejumlah kecil jalanan di Beirut dalam parade Hizbullah memang tidak ada aksi “menumpahkan darah”, gantinya mereka meletakkan tangan di atas dada dengan diikuti gerakan-gerakan ritmis tertentu sambil meneriakkan yel-yel.

“Kami di sini tidak pernah berdarah-darah seperti itu. Itu bertentangan dengan agama. Allah tidak memerintahkan, Hussein juga tidak memerintahkan, dan Hizbullah melarang aksi seperti itu,” kata Hussein, pejabat teras Syiah Hizbullah.

Untuk peringatan Asyura, Hizbullah mendorong para pendukung & simpatisannya untuk mendonasikan darah mereka dalam program amal ketimbang dibuang begitu saja. “Setiap tahun, saya mendonasikan darah saya ke lembaga atau rumah sakit yang memerlukan. Dan faktanya, banyak orang yang kemudian mengikuti,” klaim Hussein dengan percaya diri.

Tren Baru Darah Asyura

Konon peringatan Asyura sudah berubah menjadi hari donor darah di sebagian besar wilayah Lebanon. Dua organisasi non-pemerintah, yaitu Donner Sang Compter dan Who is Hussein adalah LSM yang mengorganisir penyaluran darah di Haret Hreik, Lebanon selatan. Tahun 2017 ini mereka mencatat rekor baru menerima 300 unit kantong darah hanya dalam beberapa jam.

“Setiap tahun kami menerima donasi dengan jumlah yang lebih besar,” kata Nour Bazzi, presiden Donner Sang Compter di Hreik. “Masyarakat sangat responsif,” imbuhnya. Kantong darah itu akan dikirim ke rumah sakit Universitas Amerika di Beirut (AUBMC) yang banyak menangani kasus penyakit kanker. Banyak pasien terutama anak-anak memiliki kebutuhan yang tinggi akan transfusi darah.

“Kami memanfaatkan momentum Asyura karena di hari itu ada suasana yang sangat emosional bagi banyak orang. Mereka ingin memberi, dan di rumah sakit ada kebutuhan riil akan suplai darah,” kata Hala Smain petugas rumah sakit AUBMC.

Di Lebanon tidak ada pusat bank darah. Jadi kalau ada pasien yang membutuhkan, biasanya mereka bergantung pada keluarga & kerabat mereka. Dalam beberapa kasus, darah harus dibeli dari pasar gelap. Selama ini, organisasi Palang Merah, sejumlah rumah sakit, dan LSM-LSM bekerja untuk mendorong masyarakat berdonor darah.

“Saya ingin mengubah imej orang terhadap agama saya. Media selalu menggambarkan adanya wajah-wajah yang sengaja dilukai di hari Asyura, tetapi ada sisi lain di balik peristiwa itu,” kata Ghadir Hamadi seorang pelajar penganut Syiah berusia 20 tahun. “Ada dua aliran di hari Asyura. Sebagian orang ingin menumpahkan darah mereka di jalan, sebagian lain ingin mendonasikan untuk amal,” katanya.

Mahmoud Zeineddine, seorang pria 29 tahun yang telah mendonorkan darahnya selama lima tahun terakhir mengatakan, “Hussein memberikan darahnya untuk kita, itu yang harus kita hormati. Tugas kita sekarang adalah membuat darah kita menjadi bermanfaat, bukan malah membuangnya di jalanan”, pungkasnya. Kiblat

0 komentar: