Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - “Keawaman masyarakat tersebut sengaja dimanfaatkan oleh kalangan Syiah untuk menggelar ritual Asyuro. Bahkan mereka mendatangkan massa dari berbagai daerah, di antaranya Jakarta, Bogor dan Sukabumi,” tutur Ustaz Roinul Balad.

Ratusan penganut Syiah dari berbagai daerah di Jawa Barat, setiap tahunnya melaksanakan kegiatan 10 Muharram atau dikenal dengan Hari Asyuro. Dalam kegiatan tersebut, mereka melakukan ratapan atas meninggalnya Husein putra Ali bin Abi Tholib di sebuah kota bernama Karbala.

Sebelum tanggal 10 Muharram, mereka mengadakan kegiatan yang disebut dengan pra Asyuro. Ketua Pembela Ahlus Sunnah (PAS) Jawa Barat Ustaz Roinul Balad memprotes acara tersebut karena dianggap menyimpang dari ajaran Islam dan membahayakan akidah umat Islam.

“Jadi memang di Bandung ini pusatnya ajaran Syiah. Mereka terkonsentrasi pada lembaga besar yaitu Al Muthahari dan Al Mukaromah. Di dalamnya, mereka mengagung-agungkan Husein, Ali dan menjelaskan tentang ajaran Syiah,” kata Roinul Balad saat dihubungi Warta Pilihan, Kamis (28/9).

Awalnya, jelas Roin, masyarakat diundang untuk memperingati perayaan bulan Muharam, namun ketika tiba di lokasi acaranya berbeda. Bahkan dalam suratnya, mereka turut mengundang Lurah dan Pak Kapolres. Padahal tidak demikian.

“Keawaman masyarakat tersebut sengaja dimanfaatkan oleh kalangan Syiah untuk menggelar ritual Asyuro. Bahkan mereka mendatangkan massa dari berbagai daerah, di antaranya Jakarta, Bogor dan Sukabumi,” imbuh dia.

Rencananya, simpul Roin, aliran Syiah tetap akan mengadakan perayaan Asyura pada tanggal 10 Muharam besok bertepatan pulang Jumat (29/9) dengan jumlah yang lebih besar.

“Kita sudah koordinasi dengan ulama dan tokoh setempat, mereka (para ulama dan tokoh) tetap Istiqamah dan tegas menolak Syiah. Kita sudah berkoordinasi dengan Kapolrestabes Bandung untuk melarang kegiatan pada 10 Muharram,” pungkasnya.

Pengamat Syiah Ustaz Farid Ahmad Okbah secara terpisah menuturkan,   Syiah selalu bergerak dengan senyap dan  menampilkan taqiyahnya. Ketika mereka kecil, mereka tidak melakukan perlawanan dan penentangan tetapi ketika mereka sudah besar bukan hanya penentangan tetapi mereka melakukan kudeta.

“Sama seperti di Yaman dan apa yang terjadi di Indonesia. Awalnya mereka mendirikan sekolah, Yayasan, mengadakan kegiatan sosial, tetapi ternyata anak mudanya dilatih militer kemudian mereka melakukan pemberontakan kepada negaranya,” tegas Farid kepada Warta Pilihan, Kamis (28/9).

Lebih jauh, tambah Farid, hakikat Syiah ini untuk mereka berkuasa. Pertama dengan cara kudeta, kedua dengan cara Syiahisasi masyarakat. Sehingga mereka mempunyai kemampuan untuk menguasai negara. Di Bahrain, mereka didorong untuk kudeta walaupun akhirnya gagal, tetapi di Yaman mereka berhasil.

“Sebab itu, jangan beri mereka peluang. Kalau tahu macan itu akan menerkam Anda, maka jangan pelihara macan di rumah Anda. Dan Buktinya adalah sudah 20 kali Syiah dan Sunni clash di Indonesia, yang terbesar yaitu di Sampang dan mereka menyerang tempatnya Arifin Ilham di Bogor,” tandasnya.

Dalam kehidupan yang begitu menusuk fitnah dan cobaan, Farid Okbah menyarankan umat Islam untuk mengetahui mana yang hak dan yang batil. Syiah ini, katanya, seperti kelelawar, keluar di kegelapan. Annasindonesia.com

0 komentar: