Breaking News
Loading...







"Ya Allah .. Berilah salawat kepada Muhammad, dan kepada Istri-istrinya dan keturunannya, sebagaimana Engkau bersalawat kepada keluarga Ibrahim. Dan berilah berkah kepada Muhammad, dan kepada istri-istrinya dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Terpuji lagi Maha Pemurah" . [Sahih Muslim] 
 Oleh Zulkarnain El-Madury

Lelucon Syiah yang paling potensial mengundang tawa ketika  membanding-bandingkan antara Fatimah dan Aisyah [ sebagai Ibu kaum Mukminin]. Dalam benak Syiah yang biasa mendramatiser mereka yang ditokohkan para pinoner Syiah, sekelas Khadijah dan Fatimah, bagi Syiah adalah segalanya. Sedangkan lawannya dibuat sedemikian rendah seolah tak punya kelebihan, bahkan sengaja dicari cacat celanya untuk membuktikan kalau Syiah adalah yang paling benar. 

Padahal dari aksi aksi dramatiser Syiah tak lebih dari sebuah lawakan saja yang tak bermakna, hanya karena mereka sangat galaunya berbagai cara ditempuh mereka untuk mengurangi rasa stressnya. Para ulama ulama besar, jaman para imam suni meletakkan sendi sendi aqidah Ahlussunah, asal tahu sudah tau kekafiran Syiah, mereka tak mau tahu apa yang dilakukan Syiah. Karena bagi sunni hal itu tidak terlalu penting. Beda Sunni, kitab kitab Syiah saja memang sengaja meributkan kedudukan Imam Ali, tanpa terperosoka pada skandal kebencian yang dilakukan rahbar atau para rahib Syiah sebagai Mualim atau Nakoda Syiah yang menebar kebencian simana mana. 

Fokusnya mulai dari Shahabat Nabi hingga para istri istri Nabi digiring dalam pembicaraan penoh dosa dan fitnah. Pertama memasarkan fitnah berkepanjangan terkait para sahabat dan Istri Nabi, yang tertuduh sebagai murtadin dan pelaku kejahatan terencana dalam merebut kekuasaan Ali [?] yang dibuat seperti dinasti monarkhisme, dalam hal ini adalah Imamiyah yang menempatkan keyakinan Muslim menurut Syiah harus berdasarkan mata rantai darah Rasulullah tidak berlaku pada orang lain yang tidak sekerabat. 

Tetapi kemudian anehnya meskipun mengurucut pada ahlul bait berdasarkan Aliran, dominasi berdarah Persia mengungguli keluarga Hasan. Dan untuk legalitas kontruksi khilafah imamiyah dibuat hadits hadits yang lahir dari kandungan para rahib Syiah, bahwa seolah Nabi hanya mewariskan kapling terbanyak kepada keluarga Husein. Ciri khasnya lainnya adalah Husein dan fatimah dua sosok yang paling berkibar dimata Persia. Bahkan kitabpun semua bersumber dari Husein atau Abu Abdillah, sebuah keyakinan Syiah yang paling mencerminkan Kitabpun harus berdinasti dari Husein dan tidak berlaku bagian keluarga rasulullah dari keturunan Hasan. 

Soal Fatimah misalnya, memang kitab kitab sunni menyebutkan sebagai Sayyidatun Nisa’ fil Jannah. Fatimah adalah penghulu atau pemimpin wanita Surga. Dengan melupakan kemulyaan istri Nabi, bahkan sengaja seolah istri istri Nabi, mereka rendahkan sedemikian rupa, guna menunjukkan kepada umat kalau Nabi beristrikan manusia lacur, artinya secara tidak langsung akan menyebut nabi tidak terpimpin wahyu dalam mencari Istri, tetapi mengikuti hawa nafsu setan, itu yang muncul dalam otak para rahbar Syiah. Itulah sebabnya mereka merumuskan penghancuran kehormatakan istri istri Nabi sebagai tertuduh. 

Padahal bukan mereka tidak tahu bahwa tuduhan mereka akan berimplikasi pada Nabi, sebagai rasul yang menurut alQuran tidak mengikuti hawa nafsu. Bahwa semua wahyu dan sunnah Nabi itu adalah ketentuan Allah. Lalu muncul feeling anak anak sesat dari para Syiah penyesat umat itu yang berani menyimpulkan Nabi tidak selektif, Nabi tidak makshum lagi, karena bisa tidur dengan siapa saja dari istri istri terkutuknya, itu pikiran gelap Syiah. 

Kemudian diangkat setinggi-tingginya kalau Fatimah wanita termulya, sayangnya mereka tidak punya dalil untuk mengangkat Syahrubanu termulya, sehingga terpaksa merancang cerita sumbang dengan merekayasa tafsir terhadap hadits hadits Sunni yang menyatakan Fatimah Penghulu Wanita Di surga. Padahal teks Alquran yang Maha Mulya keluar dari firman firman Allah menyebut istri istri rasulullah ummahatul Mukminin :
Allah Ta’ala berfirman,

{النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ وَأُولُو الأرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ إِلا أَنْ تَفْعَلُوا إِلَى أَوْلِيَائِكُمْ مَعْرُوفًا كَانَ ذَلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا  }

Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewaris) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah). [al Ahzab : 6 ]

Dalam ayat itu menyebutkan :

1.      Nabi lebih utama bagi orang orang mukmin
2.      Istri Istrinya adalah ibu Suri , adalah Ibu bagi orang mukmin

Dalam semua aturan agama, sumber sandaran semua hukum dan kegiatan yang bersifat Islam harus bersumber dari risalah Rasulullah, termasuk Quran dan sunnah. Kemudian istrinya perannya sama halnya dengan Ibu Negara atau Ibu Presiden, memiliki kedudukan tertinggi dan terpandang dalam Islam. Dalam adat bernegara, biasa dalam aktor kepemimpinan yang bisa hadir dan bernilai sangat terhormat. Bukan anaknya yang disuruh menyambut tamu tamu Negara, selain Presiden sudah pasti adalah Istri Presiden. Artinya kalau disebut ummahatul mukminin, sudah jelas anaknya akan terhormat juga. Mengikuti keluarganya, meskipun seperti Fatimah bukan anak langsung dari istri istri Nabi yang terdepan sesudah Nabi.

Kalau Fatimah adalah Sayyidatul Nisa’ [ Penghulu Wanita ] apalakah lebih tinggi kedudukannya dari istri istri nabi. Al Quran adalah hukum awal menetapkan hukum, hadits adalah hukum kedua. Secara kedudukannya, alQuran tertinggi sebelum Sunah. Artinya penobatan Istri Istri Nabi sebagai Ummahtul Mukminin, bukan saja sebagai Ibu suri umat islam didunia, tetapi juga Ibu Suri kaum mukmin di Surga, sedangkan Fatimah kemulyaannya jelas tidak lebih tinggi dari Ummahatul Mukminin , karena Khadijah dan istri istri yang lainnya lebih berhak atas Fatimah yang berada dalam naungan Ummahatul Mukminin.

Telah diriwayatkan dari Ubay ibnu Ka'b dan Ibnu Abbas r.a. bahwa keduanya membaca ayat ini dengan bacaan berikut:
"النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ وَهُوَ أَبٌ لَهُمْ"
Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin daripada mereka sendiri, dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka —dan Nabi adalah bapak mereka—.

Itu posisi Nabi sendiri sebagai ayahanda kaum mukmin dan Istrinya sebagai Ibunya. Ini sangat membedakan kedudukan Fatimah dan Aisyah dalam pandangan Quran, bagaimanapun Ibu itu lebih mulya dari seorang anak. Dalam hadits lain Aisyah tidak mau disebut Ummahatul Mukminat, karena tahkim kalimat itu bersifat khusus pada perempuan. Sedangkan mukmini mencakup segalanya [laki laki dan perempuan]. [ Bersambung ]









0 komentar: