Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Bulan Ramadhan adalah bulan shiyam (berpuasa) dan qiyam (shalat malam) sebagaimana yang tersebut dalam hadis Nabi yang terkenal. Dua ibadah ini adalah ibadah yang menonjol di bulan ramadhan yang dilaksanakan oleh seluruh kaum Muslimin sedunia. Namun anehnya ada sekelompok manusia yang nyeleneh, berpuasa namun ketika berbuka ditunda-tunda dan tidak melaksanakan shalat tarwih berjamaah bersama kaum Muslimin.

Mereka itulah orang Syiah, mengaku mencintai Rasulullah namun menyelisihi cara beribadah Rasulullah saw.
Dalam buku "40 Masalah Syiah", dikatakan,

“Di sini jelas Al-Qur’an berkata: …..Mulai makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Bukan sampai maghrib. Apalagi maghrib yang dimaksud adalah maghrib yang masih terang.

Bila kita berbuka sebelum waktunya walau semenit saja, puasa kita batal. Maka demi kehati-hatian, kita sebaiknya menyempurnakan puasa kita dengan menambahkan kira-kira 15 menit setelah azan maghrib.

Azan margib adalah panggilan untuk shalat maghrib BUKAN untuk berbuka puasa”

(Emilia Renita Az, Editor: Jalaluddin Rakhmat, hal 187-188)

Kalau kita menelisik jauh dan ingin membandingkan, maka cara orang Syiah mendefinisikan malam  mirip dengan orang Majusi di Persia, agama penyembah matahari yang menganggap malam masuk ketika bintang sudah mulai kelihatan dan bukan ketika matahari terbenam.

Tuntunan Rasulullah dalam berbuka puasa
Di antara adab berpuasa yang disunahkan adalah segera berbuka puasa jika sudah dapat dipastikan terbenanmnya matahari berdasarkan informasi orang yang terpercaya melalui pengumuman azan atau hal lainnya.

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الفِطْرَ»

Dari Sahl bin Sa’d bahwa Rasulullah saw bersabda, “Manusia terus berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa”
(Muttafaq alaih)

Di antara tanda kebaikan itu masih bersemayam dalam diri kita, khususnya ketika puasa, menurut hadis dan tuntunan Rasulullah di atas adalah menyegerakan berbuka, dan tidak menunda-nundanya sampai 15 menit, menurut penjelasan orang Syiah di atas, ini jelas menyelisihi tuntunan Rasulullah saw.

Dalam hadis qudsi disebutkan oleh Nabi saw bahwa Allah berfirman:
إِنَّ أَحَبَّ عِبَادِي إِلَيَّ، أَعْجَلُهُمْ فِطْرًا

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku yang paling Aku sukai adalah yang bersegera berbuka puasa” (HR. Ahmad dan Tirmidzi), sebaliknya, bisa saja kecintaan Allah itu hilang jika menunda-nunda buka puasa.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: «كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَى رُطَبَاتٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَتُمَيْرَاتٌ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تُمَيْرَاتٌ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ»

Dari Anas bin Malik, ia berkata, Nabi saw berbuka puasa dengan menyantap beberapa ruthab SEBELUM melaksanakan shalat (maghrib). Jika tidak ada ruthab, beliau berbuka dengan tamr. Jika tidak ada tamr, beliau meminum beberapa teguk air. (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi)

Tiga hadis di atas sangat jelas dan gamblang menyebutkan tuntunan Rasulullah dalam berbuka puasa yaitu bersegera dan dilaksanakan sebelum shalat maghrib.

Adapun ayat di atas yang menyebutkan batas menahan makan dan minum sampai malam, dan yang dimaksud malam oleh orang Syiah adalah bukan maghrib, padahal kita semua tahu magrib adalah pertanda awal malam, dan terbenamnya matahari adalah tanda dimulainnya waktu malam.

Ini penjelasan ringkas mengenai cara orang Syiah dalam berbuka puasa yang menyelisihi manhaj dan tuntunan Rasulullah saw.

Adapun tentang shalat tarwih berjamaah yang dianggap bid’ah oleh orang Syiah, bisa dilihat bahasannya di sini. Mudah-mudahan bermanfaat. (lppimakassar)

0 komentar: