Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Jatuhnya Aleppo Timur, yang diikuti sebuah kesepakatan gencatan senjata oleh Turki-Rusia telah diberlakukan di Suriah. Meskipun rezim Assad dan sekutunya masih terus melakukan beberapa pelanggaran. Namun demikian, gencatan senjata setidaknya menjadi tanda awal berakhirnya konflik sejak 2011 lalu.

Bashar Assad memang telah menyampaikan pesannya kepada media, bahwa pemilihan umum dapat menggesernya untuk meninggalkan posisinya sebagai presiden. Namun, kompromi itu tidak mungkin terjadi dalam situasi seperti ini. Sejarah dan perkembangan di lapangan telah menunjukkan hal itu.

Pertama, perlu diingat bahwa Assad pernah menolak untuk meninggalkan posisinya ketika pasukan oposisi sepakat untuk bersatu dalam sebuah pemerintahan pada tahun 2012-2013. Waktu itu, lebih dari setengah Suriah berada dalam kontrol mereka. Pasukan Rezim pun telah didesak ke wilayah yang kecil, di Damaskus, Latakia dan Tartus.

Melihat kondisi ini, Assad kemudian melakukan manuver dengan mengintensifkan serangan melalui udara, yang akhirnya dibantu oleh Rusia dengan dalih memerangi kelompok Negara Islam (ISIS). Dengan dukungan militer Rusia juga Iran, Assad kembali mendapatkan kontrol di Aleppo, lalu memaksa oposisi untuk datang ke meja perundingan dengan diawali gencatan senjata. Sementara itu, rezim Assad masih menikmati dukungan penuh dari Rusia dan Iran.

Di sisi lain, Turki yang berada di pihak oposisi dan terlibat perundingan, tengah disibukkan operasi pembersihan wilayah perbatasan dari unsur-unsur milisi Kurdi dan ISIS. Kondisi semacam ini dapat dimanfaatkan oleh Assad, sehingga ia bersikeras untuk tidak turun dari posisinya.

Mungkin ada rumor bahwa “pemerintahan damai” akan dibentuk dari Rezim dan oposisi. Namun, Assad mungkin akan melibatkan banyak orang dari keluarga, kelompok atau suku tertentu yang setia kepada Rezimnya untuk mengisi pemerintahan tersebut. Sehingga pembagian kekuasaan terjadi berdasarkan historis dan kesukuan, bukan berdasarkan politik.

Selanjutnya, kelompok-kelompok oposisi sendiri kurang dalam hal persatuan. Oposisi telah terpecah-pecah sepanjang perjalanan konflik. Tentara Pembebasan Suriah (FSA) sebagian besar bersedia untuk berjuang bersama Turki melawan ISIS dan Kurdi PYD. Sedangkan Ahrar Syam terbagi menjadi dua, satu sisi bersedia untuk tetap pro-Turki dan lainnya bersikap sebaliknya. Sementara itu, ada satu kelompok besar dari oposisi dianggap radikal, yakni Jabhah Fath Syam, yang akhirnya dikecualikan dalam perjanjian gencatan senjata.

Assad sendiri telah terlanjur jumawa karena telah mengambil Aleppo dan mendorong oposisi ke Idlib. Atas dasar ini, sangat kecil kemungkinan Assad akan mengundurkan diri. Sekalipun Assad menunjuk orang lain untuk menggantikan posisinya, itu tetap tidak mungkin. Jika Assad memiliki niat membuat Suriah berjalan secara demokratis, atau berbagi kekuasaan dengan kelompok-kelompok lain, ia pasti akan melakukannya sejak awal perang. (kiblat)

0 komentar: