Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Diskusi Interaktif Syaikh Al-Arifi dengan seorang penganut Syi'ah Ja'fariyah dari Arizona Amerkia. Diskusi ini pada dasarnya adalah acara televisi yang dibawakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdurrahman Al-Arifi, seorang ulama' dari Saudi Arabia. Diskusi ini berawal tatkana Nashir menghubungi Syaikh Arfi dan memperotes fatwa ulama dari Masjidil Haram dan juga apa yang pernah dia dengar dari perkataan Syiakh Yusuf Al-Qordlowi. Diskusi ini telah kami terjemahkan dari Bahasa Arab, dan selamat membaca.


Syaikh Arifi : Nashir siapa anakmu yang paling besar?

Nashir (Arizona) : Namanya Kholid

Syaikh Arifi : Jadi anda Abu Kholid?

Nashir (Arizona) : Iya

Syaikh Arifi : Nashir, bolehkan aku bertanya kepadamu lima pertanyaan?

Nashir (Arizona) : Silahkan

Syaikh Arifi : Apakah engkau meyakini bahwa Al-Qur'an itu sempurna, atau kurang?

Nashir (Arizona) : Sempurna

Syaikh Arifi : Sempurna? bagus, kemudian apakah engkau meyakini bahwa sahabat murtad setelah meninggalnya Rasulullah?

Nashir (Arizona) : Tidak, saya tidak meyakini keyakinan ini.

Syaikh Arifi : Bagus, jadi engkau meyakini bahwa semua sahabat itu mukmin?

Nashir (Arizona) : Inysa Allah

Syaikh Arifi : Tidak, jangan katakan insya Allah, tapi pasti, adapun insya Allah itu digunakan untuk tahqiq (bisa jadi bisa tidak). Tadi Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair seluruhnya adalah orang yang beriman kepada Allah?

Nashir (Arizona) : Iya

Syaikh Arifi : Bagus, kemudian apakah engkau meyakini bahwa Aisyah itu suci dan dia bersih dari tuduhan-tuduhan keji?

Nashir (Arizona) : Iya, itu pasti tidak boleh

Syaikh Arifi : Bagus, Abu Kholid! saya akan melanjutkan dua pertanyaan lagi, tinggal dua, apakah engkau meyakini bahwa tidak ada yang mengetahui perkara ghoib kecuali Allah?

Nashir (Arizona) : Iya Allah

Syaikh Arifi : Maksudnya apakah hanya Allah saja yang mengetahui perkara ghoib? tidak ada satupun yang mengetahui perkara ghoib kecuali Allah, tidak pula wali tidak pula imam, tidak ada yang mengetahui perkara ghoib kecuali Allah, apakah engkau meyakini dengan keyakinnan ini? atau mungkin engkau meyakini bahwa ada beberapa orang yang mengetahui perkara ghoib, misalkan engkau meyakini bahwa Ali mengetahui perkara ghoib?

Nashir (Arizona) : Aku meyakini bahwa Allah, rasul dan imam-imam ahli bait mengetahuinya, karena mereka mendapatkan ilmu dari Rasulullah.

Syaikh Arifi : Jawab pertanyaanku, apakah imam-imam ahlu bait mengetahui perkara ghoib? mengetahui apa yang akan terjadi besok?

Nashir (Arizona) : Iya saya meyakini itu

Syaikh Arifi : Jadi engkau meyakini bahwa Ali mengetahui apa yang akan terjadi besok atau lusa?

Nashir (Arizona) : Iya

Syaikh Arifi : Dan juga meyakini bahwa Ja'far Shodiq mengetahui apa yang akan terjadi besok atau lusa?

Nashir (Arizona) : Iya, saya meyakini itu

Syaikh Arifi : Baik jadi anda meyakini itu. kemudian apa anda meyakini bahwa Mahdi akan keluar di akhir zaman dan mengeluarkan Abu Bakar dan Umar dari kuburnya dan menyalib mereka berdua?

Nashir (Arizona) : Tidak, aku tidak meyakini itu.

Syaikh Arifi : Jadi anda tidak meyakini hal ini?

Nashir (Arizona) : Akan tetapi aku meyakini bahwa Mahdi akan menegakkan keadilan.

Syaikh Arifi : Bagus, dia akan menegakkan keadilan diantara umat ini

Nashir (Arizona) : Iya

Syaikh Arifi : Namun tidak meyakini bahwa Mahdi akan mengeluarkan Abu Bakar, Umar, Utsman dan menyalibkan karena telah merebut kekhilafahan (dari Ali), seperti itu?

Nashir (Arizona) : Aku tidak meyakini seperti itu Syaikh, tapi aku meyakini bahwa dia akan menegakkan keadilan, dan akan berbuat seperti yang diperbuat kakeknya, Rasulullah.

Syaikh Arifi : Bagus, adapun apa yang kau katakan bahwa ada yang mengetahui perkara ghoib selain Allah, maka Allah berfirman dalam surat   :

قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

"katakanlah (Muhammad) 'Tidak ada sesuatupun di langit da di bumi yang mengetahui perkara yang ghoib, kecuali Allah…" (Qs. An-Naml :65)

عالم الغيب فلا يظهر على غيبه أحدا

"Dia Mengetahui yang ghoib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapapun tentang yang ghoib itu". (Qs. Al-Jin : 26)


Jadi kita tidak boleh meyakini bahwa ada manusia yang mengatahui perkara ghoib selain Allah, karena jika tidak maka sama dengan mengambil sifat Allah untuk dirinya. Anda masih bersama kami Abu Kholid? Jadi tidak boleh meyakini adanya manusia yang mengetahui perkara ghoib. Dan saya terkejut dan heran bahwa anda meyakini Al-Qur'an itu sempurna, karena ada sebagian orang (Syi"ah) meyakini bahwa Al-Qur'an ini kurang, dan ayat wilayah ada yang dikurangi, dan begitu juga meyakini.

ألم نشرح لك صدرك * ووضعنا عنك ظهرك * "وجعلنا علياً صهرك"

"Bukankah kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)?.(1) Dan kami pun telah menurunkan bebanmu darimu.(2) Dan menjadikan Ali sebagai menantumu". (Qs. Asy-Syarh :1-2, tambahan huruf tebal tidak ada dalam Al-Qur'an dan hanya rekayasa ulama' Syi'ah)

Mereka meyakini bahwa kata ini "وجعلنا علياً صهرك" ini dihapus dari alquran, sedangkan Allah berfirman :

انا نحن نزلنا القرآن وانا له لحافظون

"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan pasti Kami (pula) yang menjaganya" (Qs. Al-Hijr : 9)

Kalau meyakini bahwa Al-Qur'an ada yg dikurangi, maka sama dengan mengatakan "tidak, Allah tidak menjaganya, bahkan Al-Qur'an dipermainkan ditambah serta dikurangi.

Maka anda wahai Abu Kholid meyakini bahwa Al-Qur'an sempurna, dan para sahabat mereka adalah orang yang beriman dan berislam, dan meyakini bahwa tidak ada yang mengetahui perkara ghoib selain Allah, benar kita mencintai imam-imam ahli bait, menyanjungnya, dan aku jika bertemu dengan sahabat serta kawan-kawan ulama' dari ahli bait, maka aku sangat senang dan mencintainya sebagaimana aku diperintahkan

قُل لَّا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ .

"Katakanlah :'Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun (atas seruanku), kecuali kasih saying dalam kekeluargaan'…" (Qs. Asy-Syuro :23)

Dan oleh karena itu Nabi mewasiatkan untuk berbuat baik kepda ahlu baitnya, maka kami mencintai mereka dan menyanjungnya, anda masih bersama kami Abu Kholid?

Nashir (Arizona) : Iya, iya

Syaikh Arifi : Oke, jadi kita mencintainya namun kita dilarang untuk menjadikan derajatnya diatas derajat manusia (menjadi derajat yg hampir menyerupai ketuhanan) seperti apa yang dilakukan nasrani kepada Isa, menjadikan Isa anak Allah, begitu juga kita tidak boleh meyakini bahwa ahlu bait mengetahui perkara ghoib sebagaimana Allah. Ini tidak boleh.

Nashir (Arizona) : Maaf Syaikh, maaf aku memotongm perkataanmu.

Syaikh Arifi : Silahkan

Nashir (Arizona) : Akan tetapi Rasulullah tatkala ada orang datang dan bertanya, maka Rasul mengetahui perkara ghoib karena rasul datang utusan kepadanya membawa wahyu, maka rasul menjawab pertanyaan mereka yang datang dan bertanya. Lha terus kalau seperti ini bagaimana Rasul kok bisa mengetahui perkara ghoib?

Syaikh Arifi : Ini namanya bukan perkara ghoib Abu Kholid, ini adalah wahyu yang datang dari langit. sekarang aku bertanya, tatkala muslimin di perang Uhud, tidakkah disana terbunuh singga Allah, Hamzah bin Abdul Mutholib?

Nashir (Arizona) : Iya

Syaikh Arifi : Bukankah Nabi juga terluka, keluar darah dan kehilangan 70 sahabatnya?

Nashir (Arizona) : Iya

Syaikh Arifi : Jika benar Rasul mengetahui perkara ghoib, akankah Rasul tetap akan berperang padahal dia tahu dia akan terkalahkan? ini (terjadi) karena nabi tidak mengetahui perkara ghoib. tidakkah Nabi suatu ketika diracuni oleh wanita Yahudi yang memberikan daging kambing beracun kepada Nabi? sehingga Nabi sakit dan satu dari sahabatnya meninggal. jika nabi mengetahui perkara ghoib apakah masuk akal jika dia memakan makanan beracun itu dan membiarkan sahabatnya mati sebab racun?. hal ini terjadi karena nabi tidak mengetahui perkara ghoib, sebagaimana sabda beliau dan apa yag difirmankan Allah

وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ

"Sekiranya aku mengetahui yang ghoib, niscaya aku akan berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya, dan tidak akan ditimpa bahaya…" (Qs. Al-A'raf :188)


Sekarang kita ingat tatkala Nabi ditanya beberapa masalah atau kejadian kejadian, Nabi berkata "aku tidak tahu, sampai nanti datangnya wahyu dari Jibril." Yang aku maksud wahai Abu Kholid, aku berterimakasih kepadamu atas lapangnya dadamu, wawasan keilmuanmu dan semangatmu dalam kebaikan. Aku mengingatkanmu wahai Abu Kholid karena aku mencintaimu dan aku merasakan ketulusanmu, keyakinanmu mengenai Nabi dan keyakinanmu menganai ahlul bait nabi serta pengesaanmu terhadap Allah dalam rububiyah (ketuhanan) maupun asma' wa sifat-Nya, dari keridhoan terhadap para sahabat radliyallahu anhum. Ali menikahkan anaknya ummu kultsum dengan umar dan melahirkan seorang anak laki-laki dan perempuan, dan Ali memberi nama anak-anaknya dengan nama Abu Bakar dan Umar dan ikut terbunuh bersama Husain, begitu juga Husain terbunuh bersama anaknya yang bernama Umar dan Abu Bakar. mereka hidup berbesan dan saling mencintai, kemudian kita akan mengatakan "tidak, mereka mengambil kekhilafan dari ini dan ini?" . Tidak wahai Abu Kholid, mari kita satukan hati kita sebagaimana hati mereka dahulu bersatu satu sama lain, mari kita saling mencintai di atas Al-Qur'an dan sunnah, dan di atas kecintaan terhadap para sahabat semuanya, dan mengetahui kedudukan mereka. Demi Allah jika mereka sekarang berada di antara kita maka akan kita dapati antara Ali dan Abu Bakar dan Umar dan Utsman dan Thalhah dan Zubair dan Hasan dan Husain saling berlemah lembut dan bersatu hati mereka saling mencintai sebagaimana dahulu mereka di saat Rasulullah hidup.

(qadisiyah)

0 komentar: