Breaking News
Loading...

Kunjungan Grand Syekh Al Azhar ke MUI Pusat, Jakarta.
Syiahindonesia.com - Grand Syekh Al Azhar Prof. Dr. Syekh Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb mengatakan bahwa umat Islam yang berakidah Ahlussunah bersaudara dengan umat Islam dari golongan Syiah.

“Sunny dan syiah adalah saudara,” terang Syekh Ath-Thayyeb saat dimintai pandangannya oleh Dirjen Bimas Islam Machasin terkait permasalahan Sunny dan Syiah saat melakukan pertemuan di kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI), Jakarta, Senin (22/2/2016). Hadir dalam kesempatan ini, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin serta sejumlah ulama dan tokoh cendekiawan muslim.

Menurut Syekh Ath-Thayyeb, Islam mempunyai definisi yang jelas. Yaitu, bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, menegakkan salat, berpuasa, berzakat, dan beribadah haji bagi yang mampu. “Mereka yang melaksanakan lima hal pokok ini maka dia muslim. Kecuali mereka yang mendustakan,” tegasnya.

Grand Syekh menilai bahwa tidak ada masalah prinsip yang menyebabkan kaum Syiah keluar dari Islam. Bahkan, banyak ajaran Syiah yang dekat dengan pemahaman Sunny. Perbedaan antara Sunny dan Syiah dalam pandangan Syekh Thayyeb hanya pada masalah imamiah.

“Syiah mengatakan imamiah bagian dari Ushuluddin, kita mengatakan sebagai masalah furu’,” terangnya, dikutip dari laman Kemenag.

Tampak jelas, kehadiran Grand Syeikh Al Azhar at Thayyeb selama 6 hari di Indonesia kian memperkuat propaganda sesat Syiah. Padahal para imam mazhab dan ulama Islam, membenci dan mencerca sahabat Nabi saja, sudah cukup alasan untuk mengafirkan Syiah.

“Kalau kita membaca kitab-kitab Syiah yang lama, mereka secara umum menghormati para sahabat,” tambahnya lagi.

Sebab meragukan kemuliaan para sahabat Nabi Saw sama artinya dengan meragukan firman Allah Swt yang memosisikan mereka pada derajat tinggi, sebagaimana firman-Nya:

” Orang-orang yang lebih dahulu masuk Islam dari golongan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dalam berbuat kebajikan, maka Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada-Nya. Allah menyiapkan surga bagi mereka. Di bawah surga mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Demikian itulah keberuntungan yang besar bagi penghuni surga.” (QS At-Taubah (9) : 100)

Inilah sebagian pernyataan para Imam mazhab dan ulama Islam tentang kekafiran Syiah, sekaligus membantah pernyataan Grand Syeikh Al Azhar Syeikh at Thayyeb:

Imam Malik bin Anas (wafat th 179 H)

Al-Khallal meriwayatkan dari Abu Bakar Al-Marwazi, katanya: Saya mendengar Abu Abdullah berkata, bahwa Imam Malik berkata: “Orang yang mencela sahabat-sahabat Nabi, maka ia tidak termasuk dalam golongan Islam.” (Al-Khallal/As-Sunnah, 2-557)

Imam As-Syafi’i (wafat 204 H)

“Saya tidak pernah melihat seorangpun dari para pengikut hawa nafsu yang paling banyak berdusta dalam dakwahnya dan yang paling banyak bersaksi palsu dari pada syiah Rafidhah (Syiah Iran dan Indonesia -pen) (Diriwayatbkan Ibnu Battah dalam Ibanah As-Sugra vol, 2/545).

Imam Ahmad bin Hanbal (wafat th 241 H)

Al-Khallal meriwayatkan dari Abu Bakar Al-Marwazi, ia berkata: “Saya bertanya kepada Abu Abdullah tentang orang yang mencela Abu Bakar, Umar dan Aisyah? Jawabnya, saya berpendapat bahwa dia bukan orang Islam.” (Al-Khallal/As-Sunnah, 2-557)

Al-Khallal juga berkata: Abdul Malik bin Abdul Hamid menceritakan kepadaku, katanya: “Saya mendengar Abu Abdullah berkata: “Barangsiapa mencela sahabat Nabi, maka kami khawatir dia keluar dari Islam, tanpa disadari.” (Al-Khallmal/As-Sunnah, 2-558)

Beliau (Al-Khallal) juga berkata:

“Abdullah bin Ahmad bin Hanbal bercerita pada kami, katanya: “Saya bertanya kepada ayahku perihal seorang yang mencela salah seorang dari sahabat Nabi SAW. Maka beliau menjawab: “Saya berpendapat ia bukan orang Islam.” (Al-Khallal/As-Sunnah, 2-558)

Imam Al-Bukhari:

Iman Bukhari berkata: “Bagi saya sama saja, apakah aku shalat di belakang Imam yang beraliran Jahm atau Rafidhah (Syiah) atau aku shalat di belakang Imam Yahudi atau Nasrani. Dan seorang Muslim tidak boleh memberi salam pada mereka, dan tidak bole
mengunjungi mereka ketika sakit juga tidak boleh kawin dengan perempuan mereka dan tidak menjadikan mereka sebagai saksi, begitu pula tidak makan hewan yang disembelih oleh mereka.” (Imam Bukhari/Kholqu Af’alil ‘Ibad, halaman 125)

Bagi muslim yang menggunakan akal sehat, bukan akal sesat, cukuplah testimoni para imam ini sebagai hujjah, disamping hujjah lainnya, untuk menyatakan bahwa “Syiah Bukan Islam”.

Wallahu a’lam bish shawab!

Penulis: Irfan S. Awwas

(arrahmah.com)

0 comments: