Breaking News
Loading...

Illustrasi imperium persia
Oleh: Muhammad Singgih Pamungkas

Syiahindonesia.com - Pasca kekalahan telak persia di hadapan kaum muslimin, tidak ada pilihan lain bagi orang orang persia kecuali menyerah dan masuk islam. Namun ternyata tidak banyak dari mereka yang bagus keislamannya. Sebagian besar  masuk islam karena terpaksa, bahkan sebagian dari mereka masuk islam dengan rencana membuat makar dan menusuk islam dari dalam.

Pembunuhan umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu[1]

Orang orang persia begitu paham, bahwa tokoh utama di balik kehancuran kerajaan mereka adalah Amirul Mu’minin Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu. Mereka pun -bekerjasama dengan orang romawi dan yahudi- berencana untuk membunuh Amirul Mu’minin Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu.

Untuk melancarkan rencananya, orang orang persia selalu berusaha untuk bisa tinggal di kota madinah, tempat keberadaan Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu. Awalnya Khalifah selalu menolak karena tidak suka dengan keberadaan orang persia dan romawi yang tinggal di madinah. Namun mereka selalu mencari cara dan berusaha keras untuk bisa tinggal di madinah, hingga akhirnya ada sebagian dari orang orang persia dan romawi yang di izinkan untuk bisa tinggal di madinah.

Diantara mereka yang diizinkan tinggal di madinah adalah Hurmuzan salah satu mantan komandan perang persia yang terkenal. Juga Fairuz atau yang lebih dikenal dengan julukan Abu Lu’luah Al Majusi. Abu Lu’luah pada asalnya merupakan salah satu tawanan perang kaum muslimin yang dijadikan budak oleh Mughiroh bin Syu’bah Radhiyallahu ‘Anhu. Dikarenakan kemahirannya dalam berbagai bidang, Mughiroh bin Syu’bah Radhiyallahu ‘Anhu meminta izin kepada Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu untuk mengizinkannya supaya dia bisa tinggal di Madinah. Tentu dengan harapan kaum muslimin mendapatkan banyak manfaat dari kemahirannya. Karena alasan ini maka Khalifah pun memberikan Izin kepadanya untuk tinggal di Madinah. Namun ternyata, justru Abu Lulu’ah inilah yang nantinya menjadi tokoh utama pembunuhan Khalifah.

Setelah mereka di izinkan untuk tinggal di madinah, mereka pun tinggal menunggu waktu untuk menjalankan rencana mereka, membunuh Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu. Hingga pada tahun 23 Hijriyah, pada saat sholat subuh terjadilah pembunuhan Khalifah oleh Abu Lu’lu’ah Al Majusi.

Ketika itu baru saja Khalifah Umar bin Khattab bertakbir, hingga tiba tiba Abu Lu’lu’ah menusukkan belati bermata dua ke tubuh beliau. Kemudian tidak cukup disitu, dia pun menyerang para sahabat yang lain dengan belati tersebut hingga tertusuk tiga belas sahabat dan meninggal tujuh diantaranya. Ketika para sahabat akhirnya berhasil menangkapnya, Abu Lu’luah pun menusukan belati tersebut ke tubuhnya sendiri, dan dia pun mati bunuh diri.

Adapun Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu, ketika tertusuk langsung mengambil tangan Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘Anhu untuk menggantikan beliau menjadi imam sholat. dan setelah sholat diselesaikan dengan ringan, Khalifah pun meminta kepada Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘Anhum untuk melihat siapa yang telah membunuhnya. Setelah ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma melihatnya, beliaupun segera kembali dan mengabarkan kepada Khalifah bahwa yang membunuhnya adalah Abu Lu’luah al Majusi. Khalifah Umar pun berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan kematianku di tangan seorang yang sujud kepada Allah”

Kemudian Khalifah Umar Radhiyallahu ‘Anhu di bawa ke rumah dan diberi minum. Namun ternyata, setiap kali air diminum langsung keluar lagi melalui luka tusukannya. Maka beliau pun mengetahui bahwa ajal beliau sudah dekat. Orang orang pun mendatangi beliau dan memberikan pujian yang baik kepada beliau. Adapun beliau setelah mengetahui ajalnya sudah semakin dekat, meminta kepada para sahabat untuk dihitung hutang hutangnya dan segera dilunasi. Beliaupun juga meminta izin kepada Ummul Mu’minin Aisyah Radhiyallahu ‘Anha untuk diperbolehkan dikuburkan di samping kuburan Rosulullah Shallalllahu Alaihi Wasallam dan Abu Bakar Radhiyallahu Anhu, maka beliaupun di izinkan.

Selain Abu Lu’luah, para sahabat pun mengetahui siapa saja dalang pembunuh khaliafah. Yaitu melalui kesaksian seorang sahabat Abdurrahman bin Abi Bakar Radhiyallahu ‘Anhu. Pagi hari sebelum pembunuhan Khalifah, Abdurrahman melihat Abu Lu’lu’ah, Hurmuzan, dan Jafinah seorang nashroni sedang berunding dengan berbisik bisik. Yang ketika mereka tiba tiba melihat Abdurrahman terjatuh dari mereka belati yang memiliki dua mata. Maka setelah apa  yang terjadi dengan Khalifah,  para sahabat pun menindak mereka semua.

Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu dan Abu Lu’luah Al Majusi di mata Syiah

Setelah meninggalnya Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu, ternyata orang orang syiah majusi belum juga berhenti memerangi beliau. Hingga saat ini kita masih saja menyaksikan kebiasaan mereka mencela dan menghina Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu.

Bahkan kalau kita membaca kitab kitab mereka, kita akan menemukan banyak sekali hujatan kepada dan pengkafiran kepada para sahabat nabi secara umum dan khusunya kepada Abu Bakar dan Umar bin Khattab Radhiyallahu Anhum Ajma’in. Sebagai contoh, disebutkan dalam Roudhotul Kafi[2], “Dua orang tersebut (yaitu Abu Bakar dan Umar bin Khattab Rodhiyallahu ‘Anhuma) meninggalkan dunia dan belum bertaubat serta tidak mengingat apa yang telah mereka lakukan terhadap Amirul Mu’minin (Ali Bin Abi Thalib) –(yaitu berupa merampas kekuasaan menurut mereka), maka bagi mereka berdua laknat Allah, malaikat, dan semua orang”[3]

Disisi lain, kita justru menyaksikan bagaimana mereka bagitu bersimpati kepada pembunuh Khalifah Umar bin Khattab, yaitu Abu Lu’luah. Bahkan mereka memberikan gelar kepadanya sebagai As Syahid (seorang yang mati syahid) dan Baba Syuja’ud Din (tokoh pemberani). Merekapun menjadikan kuburannya -yang bertempat di kota Kasyan negara Iran- sebagai tempat ibadah yang dikeramatkan.[4]

Fakta bahwa orang orang syiah begitu membenci Amirul Mu’minin Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu dan justru membela Abu Lu’luah seorang majusi menambah keyakinan kita bahwa Syiah bukan bagian dari agama Islam. Namun merupakan sempalan dari agama majusi yang menyusup dalam tubuh umat islam.

Bersambung insya Allah…..

 [1] Lihat Wa Jaa’a Daurul Majus hal. 73-75, Tarikh Khulafaur Rosyidin, hal. 257-259
[2] Roudhotul Kaafi merupakan bagian dari kitab Al Kaafi karya Al Kulaini, merupakan salah satu kitab pokok ajaran syiah.
[3] Roudhotul Kaafi (12/323), dinukil dari Mas’alatut Taqrib, Dr. Nasir Al Kifari, Cet. 10,  Dar Thayibah (2/365)
[4] Bisa dilihat foto kuburannya di http://alburhan.com/main/articles.aspx?article_no=2224

Penullis adalah Mahasiswa Fakultas Dakwah wa Ushuluddin, Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia.

(nisyi/syiahindonesia.com)

0 comments: