Breaking News
Loading...


Syiahindonesia.com - Sejumlah saksi mata berpandangan bahwa kecelakaan tragis di Mina terjadi karena ada jemaah haji dalam jumlah besar berkumpul di Jalan 204 di waktu bersamaan.

Hal itu menimbulkan kepanikan yang menyebabkan para korban mati lemas saat mereka berusaha melarikan diri dari kerumunan yang terjadi secara tiba-tiba itu.

Seorang jemaah haji bernama Abdulmunim Al-Safwan mengatakan bahwa sebagian besar korban meninggal adalah orang tua yang berjalan dengan anak-anak mereka. Mereka tak mampu meninggalkan anak-anak mereka di belakang, sehingga mereka bergerak maju dengan cepat dan berdesakan dalam kerumunan, sebuah pekerjaan yang tak mungkin dilakukan.

Penuturan-penuturan dari sejumlah saksi mata mengungkapkan bahwa kerumunan yang berujung pada terinjak-injaknya para jemaah terjadi saat sekelompok jemaah dari Iran yang melintas dari Jalan Souq Al-Arab berbalik arah dan menolak kembali.

Sebagaimana dilansir situs Sabq, mereka mengabaikan arahan dari petugas. Situs itu juga mengutip pernyatan seorang petugas yang mengatakan bahwa, “para peziarah Iran tidak mendengarkan arahan, mengabaikannya dan menghadang kami. Mereka meneriakkan slogan-slogan sebelum insiden terjadi.”

Wakil menteri luar negeri Iran menyatakan bahwa pemerintah Saudi sebagai penyelenggara harus bertanggung jawab atas insiden tersebut. Sejumlah pejabat Iran menyatakan bahwa sebanyak 41 jamaah asal Iran meninggal dalam kejadian itu, dan 60 orang lainnya mengalami luka-luka.

Dalam sejumlah kasus, orang-orang Iran menggunakan kesempatan haji untuk mempromosikan apa yang mereka sebut sebagai revolusi kepada jamaah haji yang lain. Orang-orang Iran berusaha mengubah kesempatan haji sebagai ajang politik mereka, memanfaatkan sejumlah jamaahnya untuk bentrok dengan jamaah lain dan juga petugas keamanan.

Situs itu juga mengungkapkan bahwa baru-baru ini seorang pemimpin kelompok Syiah Hautsi Muhammad Al-Maqaleh menulis pesan di laman Facebooknya.

“Dalam musim haji tahun ini akan ada insiden yang belum pernah disaksikan dalam sejarah. Majulah wahai hamba Allah sebelum musim ini usai, sehingga engkau akan dinobatkan pada hari orang-orang menetap di bukit Arafah,” tulis Al-Maqaleh.

Sejumlah jemaah haji Iran juga pernah menggelar aksi protes yang berujung pada bentrokan berdarah pada musim haji tahun 1987. Setelah itu, Iran diboikot pada musim haji tahun 1988 hingga 1990. Setelahnya, barulah jemaah asal Iran kembali diperbolehkan datang untuk berhaji.

Pada tahun 1987, jamaah asal Iran terlibat dalam kerusuhan dan protes politik. Mereka membawa potret pemimpin mereka Ruhullah Khomeini dan meneriakkan slogan-slogan revolusi Iran serta mengutuk Amerika dan Israel. Mereka juga melakukan penghadangan di jalan-jalan.

Jamaah asal Iran juga pernah berusaha menyerang Masjidil Haram di Mekkah dan memicu bentrokan antara para jamaah dengan petugas keamanan. Insiden terowongan Al-Muaisim menjadi salah satu insiden paling berbahaya yang melibatkan jamaah asal Iran. (kiblat.net/syiahindonesia.com)

0 comments: