Breaking News
Loading...

Pasukan Iran (Isna photo)
Serangan Arab Saudi dan Koalisi Teluk atas pemberontak Syiah Houthi Yaman mendapat perhatian serius dari Iran. Negara syiah itu mengancam Arab Saudi agar segera menghentikan aksinya. Jika tidak, Iran akan turun tangan.

“Serangan udara yang dikomandani Arab Saudi harus segera dihentikan, karena hal itu bertentangan dengan kedaulatan negara Yaman. Kami akan melakukan apapun yang kami bisa untuk mengendalikan krisis di Yaman,” kata Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif Zarif seperti dikutip Reuters, Kamis (26/3/2015).

Sebelum mengeluarkan ancaman, Iran telah mengecam dan mengutuk serangan tersebut. Mereka menyebut kekuatan militer tidak dapat menyelesaikan masalah di Yaman.

Seperti diketahui, Arab Saudi dan Koalisi Teluk menyerang pemberontak Syiah Houthi yang telah enam bulan menguasai San’aa dan sejumlah wilayah di Yaman. Houthi adalah kelompok militan Syiah Zaidi yang beroperasi di Yaman. Syiah Zaidi merupakan salah satu cabang dari Syiah Imamiyah Iran. Meskipun bukan mayoritas, Syiah Zaidi pernah berkuasa di Yaman selama hampir 1000 tahun hingga tahun 1962.

Berdalih melawan penindasan pemerintah, Syiah Houthi pertama kali melancarkan pemberontakan pada tahun 2004 di Saada. Houthi mendapatkan momentum besar pada 2011 saat Arab Spring memasuki Yaman dan membuat rakyat menggulingkan Presiden Ali Abdullah Saleh. Houthi bergabung bersama rakyat Yaman dalam gerakan tersebut sehingga memperoleh penerimaan politik di Yaman. Namun mereka segera memisahkan diri dari kekuatan politik yang menggulingkan Presiden Ali Abdullah Saleh dan kembali melakukan aksi militer.

Pemberontakan besar dilakukan Houthi pada 2013 seiring dengan kepemilikan senjata-senjata baru yang jauh lebih canggih. Pada Januari 2014, militan Houthi melakukan serangan lebih jauh ke selatan dan berhasil mengalahkan salah satu formasi suku utama, Federasi Hashid, sebelum mencapai Arhab, dan suku lain yang hanya tinggal berjarak 50km dari San’aa. Akhirnya mereka juga berhasil menguasai ibu kota Yaman pada Trimester ketiga 2014.

Presiden sah Yaman Abdurrab Mansur Hadi meminta dukungan PBB yang kemudian memerintahkan Houthi menarik diri. Namun Houthi justru menentang putusan itu. Akhirnya Arab Saudi dan Koalisi Teluk menggunakan kekuatannya untuk memukul mundur pemberontak Houthi. Sedangkan Iran yang seideologi dengan Houthi memberikan dukungan kepada pemberontak tersebut. (Ibnu K/bersamadakwah/syiahindonesia.com)

0 comments: