Breaking News
Loading...

Jakarta (Syiahindonesia.com) - Tampaknya gerakan Syiahisasi di Indonesia sudah mulai memperihatinkan. Syiah di Indonesia sudah mulai frontal menunjukan gigi taringnya di depan khalayak ramai.

Baru beberapa hari yang lalu diberitakan tentang tersusupnya paham Syiah di salah satu buku Kurikulum Agama Islam untuk Sekolah Dasar, kini bau Syiah juga tercium di kampus-kampus Negeri tanah air.

Kamis lalu (15/10/14), Kampus UIN Syarif Hidayatullah Ciputat bekerjasama dengan Kedutaan Besar Iran untuk Indonesia menggelar Seminar Nasional yang bertajuk “Dunia Tanpa Kekerasan Perspektif Nahjul Balaghah”, di Auditorium Harun Nasution, Kampus UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan (Tangsel).

Acara tersebut juga merupakan iringan agenda perayaan Ghadir Khum yang jatuh pada tanggal 14 Ooktober lalu. Seminar yang dihadiri oleh ratusan Mahasiswa dari Kampus UIN itu mendatangkan ulama Syiah iran bernama Prof.Dr. Sayyed Monza Monzer dan Dr. Sayed Mufid Husaini serta dua Guru Besar UIN Prof.Dr. Zainun Kamaluddindan Prof.Dr. Sukron Kamil, MA sebagai narasumber.

Dalam pemaparannya, ke empat narasumber berbicara mengenai kedamaian dunia dalam prespektif Nahjul Balaghoh yang merupakan buku referensi primer aliran sesat Syiah. Secara tersirat mereka menyampaikan “dakwah taqorrub” atau dakwah pendekatan kepada kaum muslimin sebagai upaya memahamkan bahwa aliran Syiah adalah salah satu madzhab dalam Islam, dan tidak perlu ada pertikaian antara Ahlus Sunnah dan Syiah lantaran perbedaan dalam keduanya hanyalah bersifat furu’, sedang Islam adalah agama kasih sayang bagi seluruh alam.

“kalau umat islam mau ada perdamaian internal atau yang disebut ukhuwah islamiyah, maka yang diperhatikan bukan titik furu’iyah tetapi titik ushul, itu pasti terjadi perdamaian.” Pungkas Zainun Kamaluddin, salah satu narasumber acara.

Lebih lanjut, Dosen Adab dan Humaniora ini menganggap bahwa rukun Iman dalam Islam adalah hal furu’iyah yang sejatinya tidak perlu diperdebatkan dan menjadi bahan perpecahan, sehingga Syiah dan sunni bisa “bersatu”.

“Orang sering berbeda antara sunni dan Syiah misalnya, nah sebenarnya orang kalau kembali kepada titik ushul yang ada di Quran terutama yang ushul rukun imannya kan sama dalam tiga hal yaitu beriman kepada Allah, beriman kepada hari akhir,  dan beriman kepada nubuwat ..., hanya saja sunni mengambil rukun iman dari hadits nabi yang ketika ditanya apa itu iman, maka nabi menjawab 5 hal itu.” Tambahnya.

Padahal, rukun dalam islam adalah hal prinsip atau ushul, yang kalau salah satu dari rukun itu tidak dikerjakan atau bahkan tidak dipercayai, maka Iman tersebut tidaklah sah.

Selain usaha pendekatan seperti diatas, diungkap juga bahwa Nahjul Balaghoh merupakan salah satu kitab yang di kaji di kampus UIN Syarif Hidayatullah Ciputat di Fakultas Adab dan Humaniora.

Kaum muslimin perlu waspada terhadap gerakan Syiah semacam ini. Dengan halus mereka menyampaikan bahwa mereka adalah teman akrab kaum muslim, namun disisi lain, mereka punya proyek terselubung dalam misi mereka. Lihatlah sejarah! Bagaimana Syiah dengan liciknya membaur dengan kaum muslimin, dan usai mereka punya kekuatan, mereka akan menusuk kaum muslimin dari belakang, sebagaimana sejarah membuktikannya, juga sebagaimana negeri-negeri Arab seperti Irak dan Suriah. Semoga kita termasuk dari orang-orang yang dibukakan matanya oleh Allah akan makar Syiah. Wallohu musta’an. (Nisyi/SyiahIndonesia.com).

0 comments: