Syiahindonesia.com - Dalam teologi Islam, Keadilan Ilahi ('Adl) merupakan salah satu prinsip agung yang menegaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha Adil, tidak pernah menzalimi hamba-Nya, serta menetapkan segala sesuatu dalam syariat dan takdir dengan penuh hikmah.
Namun, dalam konstruksi teologi sekte Syiah—khususnya Syiah Dua Belas Imam (Itsna Asyariyah)—konsep Keadilan Ilahi tidak dibiarkan murni sesuai tuntunan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Sekte ini mengadopsi kerangka berpikir rasionalis ekstrem (yang dipengaruhi paham Mu'tazilah) lalu menggabungkannya dengan doktrin Imamah. Hasilnya adalah pendistorsian makna Keadilan Ilahi yang justru melahirkan kontradiksi teologis tajam dan mencederai keagungan Tauhid.
1. Distorsi Utama: Mengikat Keadilan Ilahi dengan Doktrin Imamah
Perbedaan paling mendasar antara Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Sunni) dan Syiah dalam memahami Keadilan Ilahi terletak pada tolok ukur pengaplikasian keadilan tersebut:
Sunni: Keadilan Allah Berjalan Sesuai Hikmah dan Syariat-Nya: Bagi Ahlus Sunnah, Allah Maha Adil dalam membalas kebaikan dengan pahala dan kemaksiatan dengan dosa. Keadilan-Nya terpancar dari Al-Qur'an, keutusan para Nabi, serta ketetapan hukum-Nya tanpa ada paksaan dari luar diri-Nya.
Syiah: Keadilan Allah Batal Tanpa Pengangkatan Imam: Dalam teologi Syiah, Keadilan Ilahi dianggap cacat atau tidak sempurna jika Allah tidak menunjuk sosok Imam yang ma'shum (bebas dosa) untuk memimpin manusia setelah wafatnya Rasulullah ﷺ. Syiah secara tidak langsung "mengharuskan" Allah (Ijab 'alallah) untuk menetapkan 12 Imam sebagai konsekuensi dari sifat Keadilan-Nya.
2. Bentuk-Bentuk Distorsi Teologis dalam Doktrin Syiah
Penyimpangan pemaknaan Keadilan Ilahi oleh Syiah melahirkan beberapa konsekuensi teologis yang sangat bermasalah:
A. Doktrin Bada' (Mencemarkan Sifat Mahatahu Allah)
Untuk menutupi kegagalan ramalan atau penetapan nama Imam yang ternyata meninggal sebelum sempat menjabat, ulama Syiah menciptakan doktrin Bada'. Doktrin ini menyatakan bahwa Allah bisa "mengubah pikiran-Nya" atau baru mengetahui sesuatu setelah peristiwa terjadi. Klaim ini jelas bertentangan dengan Keadilan dan Sifat Mahatahu Allah ('Ilmullah), karena menggambarkan Tuhan seolah-olah mengalami ketidaktahuan atau kekhilafan.
B. Ketidakadilan Vonis Kafir atas Mayoritas Sahabat dan Umat Islam
Atas nama Keadilan Ilahi yang dipaksakan pada doktrin Imamah, Syiah memvonis murtad dan mengkafirkan mayoritas Sahabat Nabi r.a. (seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman r.a.) serta seluruh umat Islam yang tidak mengimani kepemimpinan 12 Imam.
Secara akal sehat dan syariat, memvonis jahat dan mengutuk generasi terbaik yang dipuji langsung oleh Allah dalam Al-Qur'an (QS. At-Taubah: 100) justru merupakan bentuk ketidakadilan terbesar yang dituduhkan kepada Allah dan Rasul-Nya.
C. Doktrin Raj'ah (Dendam Sejarah yang Diberi Label Keadilan)
Syiah meyakini doktrin Raj'ah, yaitu bangkitnya kembali para Musuh Syiah (khususnya para Sahabat dan Istri Nabi r.a.) di akhir zaman untuk dihukum dan disiksa secara fisik oleh Imam Mahdi versi Syiah sebelum hari kiamat. Menjadikan siksaan dan dendam sektarian sebagai bentuk "penegakan keadilan Ilahi" merupakan distorsi moral yang jauh dari sifat Maha Pengasih dan Maha Adil Allah SWT.
3. Matriks Perbandingan Konsep Keadilan Ilahi: Sunni vs Syiah
Untuk melihat ketidaksesuaian antara pemahaman yang lurus dengan konstruksi teologi Syiah, berikut tabel komparasinya:
4. Implikasi Pemikiran Ijab 'alallah (Memaksa Kehendak Allah)
Konstruksi pemikiran Syiah yang mewajibkan Allah melakukan hal tertentu atas nama "keadilan" meletakkan akal manusia di atas kekuasaan Ilahi.
Para ulama Ahlus Sunnah telah membantah pemahaman ini dengan menegaskan bahwa Allah adalah Rabbul 'Alamin (Tuhan Semesta Alam) yang Maha Berkehendak Bebas. Allah tidak boleh diatur, diwajibkan, atau didikte oleh logika ciptaan-Nya. Menyatakan bahwa Allah "wajib" mengutus Imam agar dianggap adil adalah bentuk kelanggar batas tatakrama (adab) seorang hamba kepada Sang Pencipta.
Kesimpulan
Distorsi terhadap konsep Keadilan Ilahi dalam teologi Syiah merupakan dampak langsung dari pemaksaan doktrin Imamah ke dalam pilar-pilar utama akidah Islam. Demi melegitimasi kepemimpinan para Imam, Syiah tega mengorbankan kesucian Sifat-Sifat Allah, memvonis sesat mayoritas generasi Sahabat, serta mempabrikasi doktrin-doktrin yang sarat dendam sektarian.
Bagi Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Keadilan Ilahi dipahami secara murni sebagaimana yang diajarkan oleh Al-Qur'an dan Rasulullah ﷺ: Allah Maha Adil dalam setiap takdir-Nya, Maha Bijaksana dalam hukum-Nya, dan tidak pernah menzalimi hamba-hamba-Nya. Memahami penyimpangan ini penting untuk menjaga keutuhan akidah Tauhid dari penyusupan paham sektarian yang merusak.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: