Syiahindonesia.com - Kisah perjalanan Nabi Musa AS bersama hamba yang saleh, Nabi Khidir AS, sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur'an (QS. Al-Kahfi: 60–82), merupakan salah satu narasi syari terpenting mengenai hakikat ilmu, hikmah ilahi, serta kewajiban adab seorang penuntut ilmu. Bagi Ahlus Sunnah wal Jamaah, kisah ini mengajarkan batas-batas syariat (zhahir) dan hikmah takdir (bathin) yang semata-mata berjalan atas perintah dan wahyu Allah SWT.
Namun, di dalam literatur dan tafsir teologi Syiah Itsna Asyariyyah (Imam Dua Belas), kisah agung ini mengalami pemelintiran allegoris (Tafsir Bathiini) dan distorsi makna yang mendasar. Mereka menggunakan kisah Nabi Musa dan Khidir bukan untuk mengambil pelajaran moral dan tauhid, melainkan untuk melegitimasi doktrin Imamah, doktrin kemaksuman tak terbatas para Imam mereka, serta pengkerdilan derajat kenabian di bawah otoritas para Imam.
Berikut adalah pilar-pilar distorsi teologis Syiah terhadap kisah Nabi Musa dan Khidir:
1. Pengkerdilan Derajat Kenabian (Ulul Azmi) di Bawah Derajat para Imam
Distorsi paling berbahaya yang dibangun oleh ulama-ulama Syiah dari kisah ini adalah membangun hierarki bahwa hamba yang memiliki "ilmu bathin" (seperti Khidir) memiliki kedudukan teologis lebih tinggi daripada seorang Nabi dan Rasul pengemban syariat (Ulul Azmi) seperti Nabi Musa AS.
Pemelintiran Analogi: Dalam kitab-kitab tafsir Syiah (seperti Tafsir Al-Qummi dan Tafsir Al-Ayyashi), kisah Nabi Musa yang berguru kepada Khidir dijadikan analogi untuk menyatakan bahwa para Nabi sekalipun membutuhkan ilmu dari "sosok pemilik ilmu ilahi" (yang mereka identikkan dengan para Imam Syiah).
Bantahan Tegas Akidah Islam: Dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, para Nabi dan Rasul—khususnya kelompok Ulul Azmi (Nabi Muhammad, Ibrahim, Musa, Isa, Nuh 'alaihimussalam)—adalah derajat manusia tertinggi di muka bumi. Menggunakan kisah Khidir untuk merendahkan martabat risalah Nabi Musa demi mengangkat kedudukan para Imam merupakan bentuk penyimpangan akidah yang merusak hierarki keagamaan yang ditetapkan Allah.
2. Melegitimasi Doktrin Taqiyyah dan Tindakan Menyelisihi Syariat
Dalam Al-Qur'an, tindakan Khidir AS yang terkesan "melanggar" hukum zhahir (seperti melubangi perahu dan membunuh seorang anak) pada akhirnya dijelaskan secara tegas bahwa seluruh tindakan tersebut bukanlah atas kemauan pribadinya, melainkan atas perintah wahyu langsung dari Allah SWT:
“...dan bukanlah aku melakukannya menurut kemauanku sendiri.” (QS. Al-Kahfi: 82)
Pemelintiran Syiah:
Para propagandis Syiah memanipulasi tindakan "rahasia" Khidir ini untuk melegitimasi praktik Taqiyyah (kepura-puraan) dan tindakan hukum kontradiktif yang dikeluarkan oleh para Imam mereka.
Mereka mengklaim bahwa sebagaimana Khidir boleh melakukan hal yang secara zhahir tampak salah karena memiliki "ilmu rahasia", maka para Imam Syiah juga berhak mengeluarkan hukum atau fatwa yang membatalkan syariat zhahir atas dasar "ilmu bathin".
Intelektualisasi ini sangat merusak keutuhan syariat, karena membuka pintu bagi perusakan hukum Islam (Ibaahah) atas dalil klaim "hikmah tersembunyi" yang tidak dapat diuji oleh syariat Al-Qur'an dan As-Sunnah.
3. Eksploitasi Mitos Keghaiban Khidir untuk Melegitimasi Mitos Imam ke-12
Isu keghaiban (Ghaibah) dan usia panjang Nabi Khidir AS dieksploitasi secara masif oleh ulama Syiah untuk menutupi kecacatan teologis mengenai keberadaan Imam ke-12 mereka (Muhammad bin al-Hasan al-Askari) yang diklaim bersembunyi di dalam gua (Sardab) selama lebih dari 1.100 tahun.
Membangun Analogi Palsu: Ketika ditanya mengenai bukti historis dan rasionalitas Imam ke-12 yang bersembunyi ribuan tahun tanpa wujud fisik, para da'i Syiah sering berdalih: "Jika Allah mampu memperpanjang umur Khidir dan menyembunyikannya, mengapa Allah tidak mampu melakukan hal yang sama pada Imam Mahdi kami?"
Pembongkaran Analogi: Analogi ini adalah bentuk perancuan (Tadlis). Keberadaan Nabi Khidir AS diakui langsung melalui nas Al-Qur'an dan As-Sunnah yang otentik. Sebaliknya, keberadaan Imam ke-12 Syiah sama sekali tidak memiliki pijakan nas wahyu maupun bukti sejarah (tarikh) bahwa ia pernah lahir ke dunia. Menggunakan keberadaan Khidir untuk membuktikan sosok fiktif adalah bentuk kerancuan berpikir.
4. Tafsir Bathiini (Allegoris Ekstrem) yang Mencabut Ayat dari Maknanya
Dalam kitab-kitab rujukan Syiah (seperti Bihar al-Anwar karya Al-Majlisi), ayat-ayat dalam QS. Al-Kahfi mengenai Musa dan Khidir didekonstruksi melalui Tafsir Bathiini yang tidak berlandaskan kaidah bahasa Arab maupun sanad ilmu tafsir:
Mereka mengklaim secara sepihak bahwa "ilmu" yang dipelajari Musa dari Khidir adalah pengetahuan tentang Wilayah (kepemimpinan) para Imam Syiah di akhir zaman.
"Perahu" yang dilubangi disimbolkan sebagai bentuk campur tangan terhadap hak kekhalifahan Sayyidina Ali, dan "anak muda" yang dibunuh disimbolkan sebagai figur para Sahabat Nabi.
Penerapan Tafsir Bathiini ini murni merupakan rekayasa teologis untuk memaksakan ideologi sektarian ke dalam firman Allah SWT, seraya membuang pelajaran moral dan hukum syar'i yang terkandung di dalam teks Al-Qur'an.
Kesimpulan
Distorsi Syiah terhadap kisah Nabi Musa dan Khidir merupakan bukti nyata bagaimana metode Tafsir Bathiini dan fanatisme sektarian sanggup merusak makna otentik Al-Qur'an. Mereka mengorbankan kedudukan mulia seorang Rasul Ulul Azmi demi mengangkat para Imam mereka ke derajat ketuhanan yang sarat mitologi.
Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini kisah Nabi Musa dan Khidir sesuai dengan apa yang diturunkan dalam Al-Qur'an: sebuah pelajaran tentang kerendahan hati dalam menuntut ilmu, pengakuan atas keterbatasan akal manusia di hadapan takdir Allah, serta penegasan bahwa seluruh tindakan para nabi senantiasa terikat oleh wahyu ilahi.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: