Syiahindonesia.com – Sebagai kitab suci utama umat Islam, Al-Qur'an merupakan sumber hukum dan akidah tertinggi yang bersifat mutlak. Setiap kelompok atau mazhab dalam Islam selalu berusaha menyandarkan doktrin keagamaannya pada ayat-ayat Al-Qur'an. Namun, dalam tradisi teologi Syi'ah Rafidhah, upaya melegitimasi dogma-dogma pokok—seperti Imamah (kepemimpinan 12 imam maksum) dan Ismah (kemaksuman)—menghadapi kendala mendasar: ketiadaan satu pun ayat Al-Qur'an yang secara eksplisit (sharih) menyebutkan nama atau doktrin tersebut.
Untuk mengatasi ketiadaan dalil eksplisit ini, para mullah dan mufasir Syiah menggunakan metode penafsiran yang menyimpang, yaitu memotong ayat dari konteks historisnya (Asbabun Nuzul), mengabaikan struktur bahasa Arab (siyaq al-kalam), serta memaksakan takwil batiniah yang spekulatif. Artikel ini membongkar beberapa contoh utama penggunaan dan manipulasi ayat Al-Qur'an di luar konteksnya oleh sekte Syiah.
1. Modus Operandi Penyelewengan Ayat Al-Qur'an
Dalam literatur tafsir Syiah (seperti Tafsir Al-Qummi, Tafsir Al-Ayyashi, dan Tafsir Al-Burhan), terdapat pola yang konsisten dalam memelintir makna Al-Qur'an:
Eksploitasi Ayat Mutasyabihat: Mengabaikan ayat-ayat muhkamat (jelas dan tegas) lalu fokus pada ayat-ayat yang bermakna umum atau kiasan untuk ditafsirkan secara liar.
Tafsir Batiniah Tanpa Batas: Menyatakan bahwa setiap huruf atau kata umum dalam Al-Qur'an—seperti "Petunjuk", "Cahaya", "Tali Allah", atau "Bintang"—secara khusus merujuk pada Ali bin Abi Thalib RA atau para imam Syiah.
Memutus Korelasi Konteks Kalimat (Siyaq): Mengambil potongan kalimat di tengah-tengah ayat, lalu menafsirkannya dengan makna yang bertolak belakang dengan kalimat sebelum dan sesudahnya.
2. Studi Kasus Pemelintiran Ayat Al-Qur'an
Berikut adalah beberapa ayat Al-Qur'an yang paling sering digunakan oleh sekte Syiah di luar konteksnya demi mendukung dogma mereka:
A. Ayat Wilayah (Surah Al-Ma'idah: 55)
"Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan salat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (ruku')."
Klaim Syiah: Syiah mengeklaim ayat ini turun khusus berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib RA yang memberikan cincinnya kepada seorang peminta-minta saat sedang ruku' dalam salat. Mereka menggunakan kata Wali (penolong/pemimpin) dalam ayat ini sebagai dalil pengangkatan Ali sebagai penguasa politik mutlak setelah Nabi.
Bantahan Konteks:
Aspek Bahasa: Kalimat alladhina amanu (orang-orang yang beriman) berbentuk jamak (plural), bukan tunggal. Memaksakan konteksnya hanya untuk satu individu (Ali) merusak kaidah tata bahasa Arab.
Aspek Konteks Kalimat (Siyaq): Ayat ini berada dalam rangkaian larangan menjadikan kaum Yahudi dan Nasrani sebagai penolong/pemimpin (ayat 51-54). Maka kata Wali di sini bermakna loyalitas, pertolongan, dan persaudaraan sesama muslim (muwalat), bukan kepemimpinan politik atau kekuasaan teokratis.
B. Ayat Tathhir (Surah Al-Ahzab: 33)
"Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlulbait dan menyucikan kamu sesuci-sucinya."
Klaim Syiah: Mereka memotong bagian ayat ini untuk membuktikan bahwa Ahlul Bait bersifat maksum (terjaga dari segala dosa) dan mengeklaim bahwa istilah Ahlul Bait dalam ayat ini hanya terbatas pada "Ashab al-Kisa" (Nabi, Ali, Fatimah, Hasan, dan Husein), serta mengeluarkan istri-istri Nabi dari konteksnya.
Bantahan Konteks:
Konteks Utama Ayah: Seluruh rangkaian Surah Al-Ahzab ayat 28 hingga 34 secara tegas dan eksplisit berbicara tentang istri-istri Nabi SAW (Ya Nisa'an-Nabi).
Makna Iradah (Kehendak): Kehendak Allah (Iradah) dalam ayat ini bersifat Iradah Syar'iyyah (perintah untuk bersuci dan menjauhi dosa), bukan Iradah Kauniyyah yang serta-merta menjadikan seseorang maksum tanpa dosa secara otomatis.
C. Ayat Ulil Amri (Surah An-Nisa': 59)
"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu..."
Klaim Syiah: Syiah menafsirkan Ulil Amri hanya terbatas pada 12 imam maksum mereka. Karena perintah taat bersifat mutlak, maka Ulil Amri menurut mereka wajib seorang yang maksum.
Bantahan Konteks:
Lanjutan Ayat yang Diabaikan: Sambungan ayat tersebut secara tegas menyatakan: "Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnah)..."
Akal Sehat: Jika Ulil Amri adalah imam yang maksum, tidak mungkin ada kemungkinan "berbeda pendapat" dengan mereka, dan penentu perselisihan seharusnya dikembalikan kepada "Imam Maksum", bukan dikembalikan kepada Al-Qur'an dan Sunnah. Ini membuktikan bahwa Ulil Amri adalah umara (pemerintah) dan ulama biasa yang tidak maksum.
3. Dampak Bahaya Pemelintiran Al-Qur'an
Praktek menafsirkan ayat Al-Qur'an di luar konteksnya demi kepentingan mazhab memiliki dampak yang sangat merusak:
Mengabaikan Otentisitas Bahasa Arab: Bahasa Al-Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab yang jelas (Lisanan 'Arabiyyan Mubinan). Mengabaikan kaidah bahasa demi takwil batiniah merusak kejelasan kitab suci.
Membuka Pintu Manipulasi Agama: Jika setiap kelompok bebas mengambil potongan ayat dan menafsirkan maknanya secara subjektif tanpa terikat konteks dan sejarah turunnya, Al-Qur'an dapat dijadikan alat legitimasi bagi berbagai paham sesat.
Menciptakan Keraguan terhadap Kitab Suci: Ketika masyarakat melihat Al-Qur'an dipaksakan untuk mendukung doktrin-doktrin yang kontradiktif dengan kenyataan, timbul skeptisisme terhadap kebenaran teks suci itu sendiri.
Kesimpulan
Upaya sekte Syiah dalam menggunakan ayat-ayat Al-Qur'an di luar konteksnya merupakan konsekuensi logis dari ketiadaan dalil eksplisit tentang doktrin Imamah dalam Islam. Demi membangun narasi teologis mereka, konteks kalimat, kaidah bahasa Arab, dan Asbabun Nuzul dikorbankan.
Bagi kaum muslimin Ahlussunnah wal Jama'ah, Al-Qur'an harus dipahami secara utuh, jujur, dan obyektif dengan merujuk pada pemahaman para sahabat dan tabi'in serta kaidah-kaidah bahasa Arab yang baku. Menjaga kemurnian tafsir Al-Qur'an dari takwil-takwil liar adalah kewajiban ilmiah untuk memelihara keutuhan ajaran Islam.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: