Breaking News
Loading...

Syiah dan Konsep Ziarah Kubur yang Berlebihan

Syiahindonesia.com - Ziarah kubur pada dasarnya merupakan amalan yang disyariatkan dalam Islam untuk mengingatkan manusia akan kematian, alam akhirat, serta mendoakan kebaikan bagi orang-orang beriman yang telah mendahului. Rasulullah SAW bersabda: "Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, maka (sekarang) berziarahlah, karena sesungguhnya ziarah kubur dapat mengingatkan kalian pada akhirat." (HR. Muslim).

Namun, dalam teologi dan praktik keagamaan kelompok Syiah Raafidhah / Itsna Asyariyyah (Dua Belas Imam), ziarah kubur telah mengalami pergeseran makna dan penyimpangan yang sangat jauh. Dari yang mulanya sarana tadzkiratul maut (mengingat kematian), ziarah kubur diubah menjadi ritual utama yang sarat dengan pengkultusan individu (ghuluw), praktik penyimpangan tauhid, dan pengutamaan pemakaman para imam melebihi tempat-tempat suci yang ditetapkan Allah SWT.

Berikut adalah beberapa bentuk penyimpangan dan konsep ziarah kubur yang berlebihan dalam ajaran Syiah:

1. Menyamakan dan Mengunggulkan Makna Ziarah Makam Imam Melebihi Ibadah Haji

Dalam Islam, Mekkah (Ka'bah) dan Madinah (Masjid Nabawi) adalah dua kota suci utama dengan keutamaan ibadah tertinggi. Namun, dalam kitab-kitab rujukan utama Syiah seperti Tahdzib al-Ahkam dan Kamil az-Ziyarat, terdapat riwayat-riwayat ekstrem yang membandingkan pahala ziarah ke makam para imam—khususnya makam Sayyidina Husein di Karbala—dengan ibadah haji.

Bentuk Penyimpangannya: Ulama dan penceramah Syiah menyebarkan doktrin bahwa berziarah ke Karbala pada hari Asyura atau Arba'in pahalanya menyamai puluhan bahkan ratusan kali ibadah haji dan umrah yang diterima (hajjah mabruurah). Menyamakan apalagi mengunggulkan tanah Karbala atau Najaf melebihi Baitullah di Makkah Al-Mukarramah adalah bentuk penodaan terhadap kesucian syariat Islam yang disepakati seluruh kaum Muslimin.

2. Praktik Istighatsah dan Memohon Kepada Ahli Kubur (Syirik Fi Ad-Du'a)

Ziarah kubur yang disyariatkan dalam Islam bertujuan mendoakan si mayit agar diampuni dosanya oleh Allah SWT. Sebaliknya, dalam tradisi ziarah Syiah, si mayit (para imam) dijadikan pihak yang diseru dan dimintai pertolongan secara langsung.

Bentuk Penyimpangannya: Para peziarah Syiah diajarkan membaca bacaan ziarah yang memuat ungkapan-ungkapan memohon rezeki, penyembuhan penyakit, kelapangan hidup, dan keselamatan dari siksa neraka langsung kepada para imam yang dimakamkan. Meminta sesuatu yang hanya mampu dikabulkan oleh Allah SWT kepada manusia yang telah meninggal dunia—sekalipun ia seorang wali atau Ahlul Bait—merupakan bentuk perbuatan syirik besar (syirik akbar) dalam berdoa.

3. Ritual Fisik Berlebihan: Sujud ke Arah Kubur dan Thathbir

Di area makam-makam para imam Syiah di Iran dan Irak (seperti Najaf, Karbala, Masyhad, dan Samarra), tampak jelas ritual-ritual fisik yang melanggar batasan syariat Islam.

Bentuk Penyimpangannya:

  • Sujud dan Ruku' ke Makam: Banyak peziarah Syiah yang tersungkur sujud dan mencium ambang pintu serta kubah makam para imam sebagai bentuk pengagungan. Padahal, sujud ibadah maupun sujud penghormatan kepada makhluk hukumnya terlarang keras dalam Islam.

  • Ritual Melukai Diri (Thathbir / Lathmiyyat): Saat berziarah pada momen peringatan Asyura, sebagian penganut Syiah melakukan aksi melukai kepala dengan senjata tajam, memukul dada hingga berdarah-darah, dan meratap secara histeris. Praktik ini bertentangan dengan larangan Nabi SAW terhadap perilaku meratap (niyahah) dan menyakiti diri sendiri.

4. Meyakini Debu dan Tanah Kuburan (Turbah) Memiliki Keberkahan Gaib

Salah satu bentuk kebiasaan berlebihan peziarah Syiah adalah pengagungan terhadap tanah atau debu di sekitar makam para imam, khususnya Turbah Karbala (debu Karbala).

Bentuk Penyimpangannya: Kelompok Syiah meyakini bahwa tanah Karbala memiliki khasiat gaib, dapat menyembuhkan berbagai penyakit, serta mendatangkan perlindungan. Mereka memadatkan tanah tersebut menjadi lempengan kecil (Khak-e Shifa / Turbah) dan menjadikannya sebagai alas tempat sujud saat shalat. Menganggap tanah tempat pemakaman memiliki kekuatan supranatural merupakan bentuk pengkultusan materi yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW maupun Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA.

Kesimpulan

Konsep ziarah kubur dalam Syiah telah bergeser dari sunnah Nabi yang penuh ketundukan menjadi sarana pengkultusan individu (ghuluw) yang membahayakan akidah. Ketika makam manusia dijadikan tempat memohon pertolongan gaib, diposisikan lebih mulia dari Ka'bah, dan disertai ritual meratap serta melukai diri, maka kemurnian tauhid telah ternoda oleh tradisi sektarian.

Bagi kaum Muslimin Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Indonesia, ziarah kubur harus tetap dijaga sesuai tuntunan Rasulullah SAW: dilakukan dengan adab yang benar, mendoakan para pendahulu, serta menjadikannya sebagai pengingat akan batas akhir kehidupan di dunia menuju alam akhirat, tanpa harus terjerumus ke dalam praktik-praktik ekstrem yang dilarang agama.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: