Syiahindonesia.com - Dalam susunan keutamaan umat Islam (Ahlus Sunnah wal Jama’ah), Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq RA menempati kedudukan tertinggi sebagai manusia terbaik setelah para Nabi dan Rasul. Beliau adalah sahabat karib Rasulullah SAW sejak masa jahiliah, orang dewasa pertama yang memeluk Islam, serta sosok yang menginfakkan seluruh hartanya demi perjuangan dakwah. Keutamaan beliau diabadikan langsung oleh Allah SWT di dalam Al-Qur'an sebagai sahabat Nabi di dalam Gua Tsur ("tsaniyasnaini iz huma fil ghar" - QS. At-Taubah: 40).
Namun, dalam kacamata teologi Syiah Itsna Asyariyyah (Dua Belas Imam), Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq justru ditempatkan pada posisi yang sangat kontra. Demi menegakkan bangunan doktrin Imamah (keyakinan bahwa kepemimpinan ilahi sepenuhnya milik Ali bin Abi Thalib dan keturunannya), para teolog Syiah mengonstruksi berbagai tuduhan, distorsi sejarah, dan fitnah keji terhadap manusia paling mulia di kalangan Sahabat ini.
Berikut adalah beberapa narasi fitnah utama yang diembuskan kelompok Syiah terhadap Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq RA:
1. Tuduhan Merampas Kekhilafahan (Ghashab) dan Melawan Wasiat Nabi
Fitnah paling sentral yang diarahkan kepada Sayyidina Abu Bakar adalah tuduhan bahwa beliau melakukan kudeta politik pasca-wafatnya Rasulullah SAW. Syiah mengeklaim bahwa Nabi SAW telah menunjuk Sayyidina Ali secara eksplisit di Ghadir Khum sebagai penerus kekhalifahan. Oleh karena itu, terpilihnya Abu Bakar dalam peristiwa Saqifah Bani Sa'idah dituduh sebagai konspirasi jahat untuk merampas hak kekhalifahan yang sah.
Bantahan dan Realitas Sejarah: Peristiwa di Saqifah Bani Sa'idah bukanlah konspirasi merebut kekuasaan, melainkan inisiatif darurat kaum Anshar untuk mendiskusikan kepemimpinan Madinah agar tidak terjadi kekosongan kekuasaan yang berpotensi memicu perpecahan. Terpilihnya Sayyidina Abu Bakar berlangsung secara adil melalui musyawarah mufakat (syura).
Alasan keutamaan beliau sangat jelas: Rasulullah SAW sendiri yang menunjuk Abu Bakar sebagai pengganti beliau untuk menjadi imam shalat jamaah sebanyak 17 kali sewaktu Nabi sedang sakit parah sebelum wafatnya. Pengangkatan dalam urusan agama (imamah fish-shalah) ini dipahami oleh para Sahabat—termasuk Sayyidina Ali bin Abi Thalib—sebagai petunjuk jelas untuk mengangkat beliau dalam urusan dunia/pemerintahan (imamah fil-siyasah). Sayyidina Ali pun membaiat Abu Bakar secara sukarela dan menjadi penasihat utama beliau selama masa kekhalifahannya.
2. Fitnah Menzalimi Fatimah Az-Zahra Terkait Tanah Fadak
Para penceramah Syiah sering menggunakan narasi Sengketa Tanah Fadak untuk menyulut emosi dan kemarahan umat terhadap Sayyidina Abu Bakar. Beliau dituduh secara zalim merampas tanah warisan Fatimah Az-Zahra (putri Nabi) dan menyebabkan Fatimah murka hingga akhir hayatnya.
Bantahan dan Realitas Sejarah: Keputusan Sayyidina Abu Bakar untuk tidak menyerahkan tanah Fadak sebagai milik pribadi Fatimah berpatokan langsung pada sabda Rasulullah SAW sendiri:
"Kami (para Nabi) tidak mewariskan. Apa yang kami tinggalkan adalah sedekah." (HR. Bukhari & Muslim).
Abu Bakar bertindak sebagai kepala negara yang amanah dalam menjalankan ketetapan hukum Nabi SAW, bukan karena kebencian pribadi. Beliau menegaskan bahwa seluruh kebutuhan hidup keluarga Nabi (Ahlul Bait) tetap akan ditanggung sepenuhnya oleh Baitul Mal sebagaimana di masa Nabi.
Bukti paling otentik bahwa keputusan Abu Bakar ini benar secara syariat adalah tindakan Sayyidina Ali bin Abi Thalib sendiri sewaktu beliau menjadi Khalifah di kemudian hari. Sayyidina Ali tidak mengubah status tanah Fadak menjadi milik warisan keluarganya, melainkan tetap mengelolanya sebagai harta sedekah/Baitul Mal persis seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar, Umar, dan Utsman.
3. Tuduhan Murtad dan Menciptakan Kejahatan Pertama dalam Islam
Dalam kitab-kitab rujukan utama Syiah seperti Al-Kafi dan Bihar al-Anwar, Sayyidina Abu Bakar bersama Sayyidina Umar dijuluki sebagai Sanamay Quraish (Dua Berhala Quraisy). Mereka dituduh telah murtad dari Islam segera setelah Nabi wafat dan dianggap sebagai sumber dari seluruh penyimpangan dan kejahatan yang terjadi di muka bumi.
Bantahan dan Realitas Sejarah: Tuduhan murtad ini membatalkan puluhan ayat Al-Qur'an yang memuji ketulusan iman kaum Muhajirin dan janji surga bagi mereka (seperti QS. At-Taubah: 100 dan QS. Al-Fath: 18). Secara historis, jutaan umat Islam justru berutang jasa kepada Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Ketika Nabi SAW wafat dan sebagian suku Arab murtad serta enggan membayar zakat, Sayyidina Abu Bakar dengan keteguhan imannya memimpin Perang Riddah untuk menyelamatkan pilar-pilar Islam dari kehancuran. Tanpa ketegasan Abu Bakar dalam menumpas nabi-nabi palsu dan mengumpulkan mushaf Al-Qur'an, ajaran Islam tidak akan sampai secara utuh kepada kita hari ini.
4. Pengabaian terhadap Silsilah Kekeluargaan dan Nama Keturunan Ahlul Bait
Untuk memelihara kebohongan bahwa terjadi permusuhan abadi antara Abu Bakar dan keluarga Nabi, para ideolog Syiah menyembunyikan kenyataan sejarah mengenai eratnya hubungan kekeluargaan di antara mereka.
Bantahan dan Realitas Sejarah: Sayyidina Abu Bakar adalah mertua Rasulullah SAW melalui pernikahan Nabi dengan Sayyidah Aisyah ash-Shiddiqah. Hubungan cinta dan kecintaan Ahlul Bait terhadap Abu Bakar diabadikan dalam penamaan anak-anak mereka. Sayyidina Ali bin Abi Thalib menamai salah satu putranya dengan nama Abu Bakar bin Ali (yang gugur sebagai syahid mendampingi saudaranya, Imam Husain, di Karbala).
Demikian pula para Imam Ahlul Bait berikutnya, seperti Imam Hasan, Imam Ali Zainal Abidin, dan Imam Ja'far ash-Shadiq, menamai anak-anak mereka dengan nama Abu Bakar. Bahkan, Imam Ja'far ash-Shadiq (Imam ke-6 Syiah) secara bangga pernah bersabda: "Abu Bakar melahirkanku dua kali" (Waladani Abu Bakr marratain), karena jalur ibunya (Ummu Farwah) tersambung kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq dari dua jalur.
Kesimpulan
Berbagai tuduhan dan fitnah yang dilayangkan oleh kelompok Syiah terhadap Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq RA merupakan bentuk manipulasi sejarah demi mempertahankan doktrin sektarian. Menyerang karakter Abu Bakar—sahabat yang diverifikasi keimanannya oleh Allah dan Rasul-Nya—pada hakikatnya adalah usaha untuk meragukan mata rantai pertama penyampaian risalah Islam.
Bagi kaum Muslimin Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Indonesia, mencintai Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq RA beserta seluruh Sahabat dan Ahlul Bait adalah satu kesatuan akidah yang tidak terpisahkan. Membentengi diri dengan literasi sejarah yang sahih merupakan langkah penting agar kita tidak terperdaya oleh narasi kebencian yang merusak kehormatan para pembela awal agama Islam.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: