Syiahindonesia.com - Istighatsah secara bahasa berarti meminta pertolongan (al-ghauts) di saat menghadapi kesulitan yang sangat besar atau kondisi darurat. Dalam ajaran Islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan dipahami oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah, istighatsah merupakan bagian dari ibadah dan doa yang hakikatnya hanya boleh ditujukan secara langsung kepada Allah SWT semata (Tauhid ad-Du'a). Allah SWT berfirman:
إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ
" (Ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan (beristighatsah) kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu." (QS. Al-Anfal: 9).
Namun, dalam tradisi dan teologi Syiah Raafidhah / Itsna Asyariyyah (Dua Belas Imam), konsep istighatsah mengalami penyimpangan fatal serta diwarnai oleh berbagai kontradiksi dan ketidakkonsistenan teologis. Mereka membolehkan—bahkan mewajibkan—beristighatsah secara langsung kepada para Imam Ahlul Bait yang telah meninggal dunia dengan lafaz-lafaz seperti "Ya Ali Madad" (Wahai Ali, tolonglah aku) atau "Ya Sahibaz Zaman Agitsni" (Wahai Pemilik Zaman/Imam Mahdi, tolonglah aku).
Berikut adalah bedah tuntas mengenai ketidakkonsistenan, kerancuan logika, dan kontradiksi teologis kelompok Syiah dalam memahami serta mempraktikkan istighatsah:
1. Kontradiksi Antara Pengakuan Tauhid dan Praktik Syirik Du'a
Ulama-ulama Syiah selalu mengklaim bahwa ajaran mereka adalah puncak dari ketauhidan. Namun, klaim ini runtuh ketika dihadapkan pada praktik istighatsah harian mereka.
Bentuk Ketidakkonsistenannya:
Klaim Akademis: Di satu sisi, teolog Syiah menyatakan bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta dan Pengabul doa.
Praktik Lapangan: Di sisi lain, mereka mengajarkan amalan dan doa-doa populer (seperti Doa Tawassul dan Ziyarat Ashura) di mana orang yang berdoa memanggil nama para Imam yang telah wafat untuk melepaskan kesulitan, menyembuhkan penyakit, dan mengampuni dosa.
Memanggil sosok yang sudah meninggal dunia dari jarak jauh untuk meminta hal-hal yang hanya mampu dilakukan oleh Allah SWT (ma la yaqdiru 'alaihi illallah) adalah bentuk penyamaan makhluk dengan Sang Pencipta dalam sifat Kemahamendengaran (As-Sami') dan Kemahakuasaan (Al-Qadir).
2. Kerancuan Antara Tawassul Syar'i dan Istighatsah Kepada Mayit
Untuk membela praktik pemanggilan sosok Imam yang telah wafat, para propagandis Syiah sering membungkus tindakan mereka dengan dalih "Tawassul" (mencari perantara).
Bentuk Ketidakkonsistenannya:
Definisi Tawassul: Tawassul yang diperbolehkan dalam Islam adalah meminta kepada Allah SWT dengan perantara amal saleh, asmaul husna, atau doa orang saleh yang masih hidup dan berada di hadapan kita.
Manipulasi Syiah: Syiah menyamakan antara meminta orang hidup untuk mendoakannya dengan meminta langsung kepada mayit yang berada di dalam kubur. Ketika seseorang berteriak "Ya Ali, sembuhkan penyakitku!", ini bukan lagi menggunakan perantara (wasilah), melainkan menjadikan Ali sebagai tujuan doa itu sendiri. Pembelaan bahwa ini sekadar tawassul adalah kerancuan bahasa dan penipuan logika yang nyata.
3. Ketidakkonsistenan Terkait Status Hamba dan Keilahian (Rububiyyah)
Teologi Syiah terjebak dalam kontradiksi ketika mendudukkan posisi para Imam dalam peristiwa istighatsah.
Bentuk Ketidakkonsistenannya: Apabila ditanya apakah para Imam itu Tuhan, ulama Syiah akan menjawab bahwa para Imam adalah hamba Allah yang biasa. Namun, ketika mempraktikkan istighatsah, mereka meyakini bahwa para Imam:
Mampu mendengar jutaan bisikan manusia di seluruh dunia dalam waktu bersamaan (Kemahamendengaran).
Memiliki wewenang untuk mengatur rezeki, nasib, dan keselamatan hamba (Wilayah Takwiniyyah).
Secara teori mereka menyebut para Imam sebagai "hamba", namun secara praktik dan iktikad mereka memberikan sifat-sifat khusus Keilahian (Rububiyyah) Allah SWT kepada para Imam tersebut.
4. Meminta Pertolongan Kepada Imam yang "Gaib" dan Tidak Fungsional
Puncak ketidakkonsistenan istighatsah Syiah terlihat jelas dalam seruan mereka kepada Imam ke-12 (Muhammad bin Hasan Al-Askari) yang diyakini bersembunyi di dalam gua (Sardab) selama lebih dari 1.100 tahun.
Bentuk Ketidakkonsistenannya: Setiap kali menghadapi musibah atau tekanan politik, penganut Syiah diajarkan untuk menulis surat (riqa') atau berteriak meminta bantuan kepada Imam Mahdi yang gaib. Akal sehat dan syariat menolak konsep ini: bagaimana mungkin seorang manusia yang tidak terlihat, tidak bisa dihubungi, dan tidak pernah memberikan bukti fisik atas keberadaannya selama seribu tahun lebih dijadikan tempat bersandar dan beristighatsah oleh jutaan manusia? Ini adalah bentuk pelarian mistis yang melumpuhkan daya kritis umat.
Kesimpulan
Ketidakkonsistenan kelompok Syiah dalam konsep istighatsah menunjukkan rapuhnya bangunan teologi yang tidak bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah yang sahih. Memalingkan doa dan permohonan pertolongan dari Allah SWT kepada hamba yang telah wafat—seberapa pun tingginya kedudukan mereka—merupakan tindakan yang menodai kemurnian tauhid.
Bagi kaum Muslimin Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Indonesia, tauhid yang lurus mengajarkan kita untuk menetapkan ketergantungan dan permohonan pertolongan mutlak hanya kepada Allah SWT, sebagaimana yang diikrarkan sedikitnya 17 kali dalam sehari:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
"Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan." (QS. Al-Fatihah: 5).
Membentengi umat dari praktik-praktik istighatsah yang menyimpang adalah langkah penting untuk memelihara akidah yang murni di bumi Nusantara.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: