Syiahindonesia.com - Dalam panggung sejarah Islam, Khulafaur Rasyidin kedua, Sayyidina Umar bin Khattab RA, mengukir tinta emas sebagai figur pembaharu, pemimpin yang adil, serta ksatria yang sangat ditakuti oleh musuh-musuh Islam. Di bawah kepemimpinannya, wilayah Islam meluas secara signifikan, menumbangkan dua imperium raksasa pada zamannya, yaitu Persia dan Romawi. Rasulullah SAW bahkan memberi beliau julukan Al-Faruq (pembeda antara kebenaran dan kebatilan) serta menegaskan bahwa setan akan memilih jalan lain jika bertemu dengan Umar.
Namun, di dalam teologi dan literatur sejarah Syiah Itsna Asyariyyah (Dua Belas Imam), Sayyidina Umar bin Khattab justru diposisikan sebagai musuh utama dan figur yang paling dibenci. Pembongkaran Imperium Majusi Persia oleh pasukan Muslim di bawah komando Sayyidina Umar meninggalkan dendam sejarah yang amat mendalam di kalangan ideolog Syiah. Demi meruntuhkan keagungan Umar, berbagai narasi miring, kedustaan, dan fitnah keji diproduksi secara sistematis di dalam kitab-kitab induk mereka.
Berikut adalah beberapa fitnah utama yang dilayangkan kelompok Syiah terhadap Sayyidina Umar bin Khattab RA:
1. Fitnah "Tragedi Pendobrakan Pintu Rumah Fatimah"
Fitnah yang paling sering didengungkan oleh para penceramah Syiah untuk menyulut emosi dan kemarahan pengikutnya adalah dongeng penyerangan rumah putri Nabi, Fatimah Az-Zahra RA. Mereka menuduh bahwa Sayyidina Umar memimpin sepasukan orang untuk membakar dan mendobrak pintu rumah Fatimah demi memaksa Sayyidina Ali membaiat Abu Bakar.
Dalam narasi melodramatis Syiah, pendobrakan tersebut diklaim membuat pintu rumah menjepit tubuh Fatimah hingga tulang rusuknya patah dan janin dalam kandungannya (yang mereka beri nama Muhsin) gugur, hingga akhirnya menjadi penyebab wafatnya Fatimah.
Bantahan dan Realitas Sejarah: Kisah ini adalah dongeng fiktif yang sama sekali tidak memiliki sanad sahih dan bertentangan dengan akal sehat maupun hukum adat ksatria Arab. Sayyidina Ali bin Abi Thalib dikenal sebagai ksatria perkasa dengan julukan Asadullah (Singa Allah). Sangat tidak masuk akal jika ada pihak yang mendobrak rumahnya dan menganiaya istrinya di depan mata, sementara Sayyidina Ali hanya diam tanpa memberikan perlawanan.
Fakta sejarah justru mencatat keharmonisan yang luar biasa antara keluarga Ali dan Umar. Sebagai bukti cinta dan ikatan kekeluargaan yang erat, Sayyidina Ali menikahkan putri kandungnya (buah cintanya dengan Fatimah Az-Zahra), yaitu Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib, dengan Sayyidina Umar bin Khattab. Mana mungkin seorang ayah menyerahkan putri tercintanya untuk dinikahi oleh orang yang dituduh mematahkan tulang rusuk istrinya hingga gugur kandungan? Pernikahan ini menjadi bukti otentik yang menghancurkan dongeng fitnah tersebut.
2. Tuduhan Merampas Hak Kekhalifahan dan "Tragedi Kamis"
Syiah menuduh Sayyidina Umar sebagai dalang utama konspirasi politik di Saqifah Bani Sa'idah yang diklaim "merampas" hak kepemimpinan Ali bin Abi Thalib. Beliau juga dituduh menghalangi Rasulullah SAW saat hendak menuliskan wasiat kepemimpinan menjelang wafatnya dalam peristiwa yang mereka sebut sebagai Raziytul Khamis (Musibah Hari Kamis).
Bantahan dan Realitas Sejarah: Musyawarah di Saqifah Bani Sa'idah berawal dari inisiatif kaum Anshar demi mencegah kekosongan kekuasaan yang rawan memicu perpecahan. Sayyidina Umar dan Abu Bakar hadir untuk menjaga persatuan. Penunjukan Abu Bakar didasarkan pada pertimbangan matang bahwa beliau adalah sahabat paling utama yang ditunjuk langsung oleh Nabi untuk menggantikan beliau menjadi imam shalat sewaktu sakit.
Mengenai peristiwa hari Kamis, Sayyidina Umar bertindak atas dasar rasa kasihan (syafats) melihat Rasulullah SAW yang sedang menderita demam sangat tinggi. Umar tidak ingin memberatkan Nabi yang sedang payah, karena hukum-hukum agama dan Al-Qur'an sudah sempurna diturunkan ("Cukuplah bagi kita Kitabullah"). Perkataan Umar ini disetujui oleh mayoritas sahabat yang hadir saat itu.
3. Fitnah Pembatalan Hukum Agama (Bid'ah Umar)
Literatur Syiah kerap menuduh Sayyidina Umar sebagai sosok yang berani mengubah-ubah syariat Islam. Beliau dituduh membuat bid'ah dengan mengharamkan Nikah Mut'ah (kawin kontrak), menghentikan pembagian zakat bagi muallaf tertentu, dan mengintroduksi pelaksanaan shalat Tarawih secara berjamaah.
Bantahan dan Realitas Sejarah: Kebijakan-kebijakan Sayyidina Umar selalu berdasarkan pemahaman yang mendalam terhadap maqashid syariah (tujuan syariat) dan Sunnah Nabi:
Nikah Mut'ah: Diharamkan secara permanen oleh Rasulullah SAW sendiri pada Perang Khaibar dan Fathu Makkah, bukan oleh Umar. Umar hanya menegaskan kembali larangan Nabi tersebut secara tegas di masa pemerintahannya.
Shalat Tarawih: Rasulullah SAW pernah melaksanakan shalat malam di bulan Ramadan secara berjamaah beberapa malam, sebelum akhirnya meninggalkannya karena khawatir diwajibkan atas umat. Umar hanya menghidupkan kembali Sunnah tersebut ketika kekhawatiran itu sudah tidak ada pasca-wafatnya Nabi.
4. Pengagungan Terhadap Abu Lu'lu'ah al-Majusi (Pembunuh Umar)
Puncak kebencian teologi Syiah terhadap Sayyidina Umar terlihat dari bagaimana mereka merespons wafatnya beliau. Sayyidina Umar gugur ditikam secara keji saat sedang memimpin shalat Subuh oleh seorang penganut Majusi bernama Fairuz (yang dikenal sebagai Abu Lu'lu'ah al-Majusi).
Bantahan dan Realitas Sejarah: Bukannya mengutuk pembunuh seorang Khalifah yang sah dan sahabat agung Nabi, tradisi Syiah justru mengagungkan Abu Lu'lu'ah al-Majusi. Di kota Kashan, Iran, dibangun sebuah bangunan megah yang diklaim sebagai makam Abu Lu'lu'ah, yang sering dijadikan tempat ziarah dan perayaan. Mereka menyematkan gelar Baba Syuja'uddin (Bapak Keberanian Agama) kepada pembunuh berdarah dingin ini dan merayakan hari pembunuhan Umar sebagai hari raya. Fenomena ini menunjukkan betapa dendam kesumat imperium Persia Majusi yang ditumbangkan Umar berkelindan erat dengan teologi Syiah.
Kesimpulan
Berbagai fitnah yang dilayangkan oleh kelompok Syiah terhadap Sayyidina Umar bin Khattab RA merupakan wujud distorsi sejarah yang lahir dari fanatisme sektarian dan dendam politik masa lalu. Menyerang sosok Umar—pahlawan yang meruntuhkan kekuasaan Majusi dan memperluas panji Islam—pada hakikatnya adalah upaya merobohkan salah satu pilar penyangga utama peradaban Islam.
Bagi kaum Muslimin Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Indonesia, mencintai dan memuliakan Sayyidina Umar bin Khattab RA, sebagaimana memuliakan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan seluruh Sahabat Nabi, adalah bagian tak terpisahkan dari akidah yang lurus. Membentengi diri dari dongeng-dongeng fitnah Syiah adalah kewajiban ilmiah demi menjaga kehormatan para pembela risalah Nabi Muhammad SAW.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: