Syiahindonesia.com - Dalam historiografi dan teologi sekte Syiah (khususnya Rafidhah), sosok sahabat Nabi, Muawiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu 'Anhu, menempati posisi sebagai salah satu figur yang paling gencar distigma dan dicela. Narasi-narasi historis yang dibangun oleh para sejarawan dan teolog Syiah cenderung menampilkan beliau secara unikel dimensional: sebagai sosok oportunis, perusak tatanan Islam, hingga penentang Ahlul Bait.
Namun, apabila dikaji secara kritis menggunakan kaidah keshahihan riwayat, metodologi kritik sanad (Nqd al-Asanid), serta prinsip moderasi historiografi Islam, narasi kebencian tersebut bertentangan dengan fakta-fakta sejarah yang otentik. Artikel ini membedah berbagai tuduhan dan fitnah yang diarahkan sekte Syiah kepada Muawiyah bin Abi Sufyan RA.
1. Kedudukan Muawiyah bin Abi Sufyan dalam Sejarah Islam
Muawiyah bin Abi Sufyan RA adalah salah satu Sahabat Nabi yang memiliki rekam jejak signifikan dalam perjalanan awal dakwah dan ekspansi Islam.
Keutamaan dan Peran Historis:
Penulis Wahyu (Katib al-Wahy): Beliau diberi amanah oleh Rasulullah SAW untuk mencatat ayat-ayat Al-Qur'an dan surat-surat resmi kenabian.
Gubernur dan Pemimpin Militer: Di masa Kekhalifahan Umar bin Khattab RA dan Utsman bin Affan RA, beliau dipercaya menjadi Gubernur Syam selama kurang lebih 20 tahun dan berhasil menjaga stabilitas serta keamanan wilayah perbatasan dari ancaman Bizantium.
Pionir Angkatan Laut Islam: Beliau memprakarsai pembentukan armada laut Muslim pertama yang berhasil memenangkan Pertempuran Dzat as-Sawari dan meluaskan pengaruh Islam ke wilayah Mediterania.
2. Membedah Fitnah dan Propaganda Syiah
Sekte Syiah mengeksploitasi perselisihan politik (Fitnah Kubra) antara kubu Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA dan kubu Muawiyah bin Abi Sufyan RA untuk membangun doktrin permusuhan abadi.
1. Tuduhan Menolak Kekhalifahan Ali karena Ambisi Kekuasaan
Klaim Syiah: Muawiyah dituduh memberontak (Bughat) murni karena dorongan nafsu politik untuk merebut tahta dari Sayyidina Ali RA.
Fakta Sejarah: Perselisihan antara Ali RA dan Muawiyah RA di Perang Shiffin tidak dipicu oleh perebutan klaim kehalifahan. Muawiyah tidak pernah mengklaim dirinya sebagai khalifah selama Ali masih hidup. Tuntutan utama kubu Syam (Muawiyah) adalah penegakan hukum Qishash terhadap para pembunuh Khalifah Utsman bin Affan RA sebelum membicarakan bai'at politik secara menyeluruh. Ini adalah perbedaan ijtihad politik (Khilaf Ijtihadi), bukan penolakan terhadap keabsahan Islam atau keutamaan Ali RA.
2. Tuduhan Memerintahkan Pelaknatan Ali di Atas Mimbar
Klaim Syiah: Narasi populer Syiah mengeklaim Muawiyah mewajibkan seluruh khatib di era Umayyah untuk mencaci maki Ali bin Abi Thalib di atas mimbar-mimbar shalat Jumat.
Fakta Riwayat: Riwayat-riwayat yang menyebutkan perintah eksplisit dari Muawiyah untuk melaknat Ali di atas mimbar mayoritasnya bersumber dari jalur-jalur perawi bermasalah, pendusta, atau berfaham Syiah ekstrem (seperti Abu Mikhnaf dan Lut bin Yahya). Dalam riwayat yang sahih, terjadi perdebatan atau argumentasi politik, namun tuduhan bahwa beliau menjadikan celaan sebagai ritus resmi syariat adalah fabrikasi sejarah untuk memicu emosi pengikut Syiah.
3. Peristiwa Amul Jama'ah: Pembuktian Rekonsiliasi Ahlul Bait
Bukti paling nyata yang membantah narasi kepalsuan Syiah terkait permusuhan mutlak antara Muawiyah dan Ahlul Bait adalah peristiwa Amul Jama'ah (Tahun Persatuan) pada tahun 41 H.
Konflik Shiffin & Pasca Syahidnya Ali RA
│
▼
Sayyidina Hasan bin Ali RA Menjadi Khalifah
│
▼ (Penyerahan Kekuasaan / Sulh)
Peristiwa Amul Jama'ah (41 H)
│
▼
Muawiyah RA Menjadi Khalifah & Umat Islam Bersatu Kembali
Sayyidina Hasan bin Ali Radhiyallahu 'Anhuma (putra sulung Ali dan cucu Rasulullah SAW) secara sukarela menyerahkan kepemimpinan kekhalifahan kepada Muawiyah bin Abi Sufyan RA demi mencegah pertumpahan darah di antara kaum Muslimin.
Peristiwa rekonsiliasi ini secara langsung membenarkan sabda Rasulullah SAW puluhan tahun sebelumnya:
“Sesungguhnya cucuku ini (Hasan) adalah seorang Sayyid (pemimpin), dan semoga melalui dirinya Allah akan mendamaikan dua kelompok besar dari kaum Muslimin yang berselisih.” (HR. Bukhari).
Jika Muawiyah adalah seorang kafir, murtad, atau musuh abadi Ahlul Bait sebagaimana yang dituduhkan Syiah, niscaya Sayyidina Hasan RA tidak akan pernah menyerahkan urusan kekhalifahan umat Islam kepada beliau.
Tabel Komparasi: Pandangan Historis Terhadap Muawiyah bin Abi Sufyan
Berikut adalah tabel analisis komparatif yang ringkas untuk membedakan antara metodologi sejarah Islam murni dengan narasi teologis Syiah:
| Parameter Tinjauan | Historiografi Islam (Ahlus Sunnah wal Jama'ah) | Narasi dan Propaganda Sekte Syiah |
| Status Keshahabatan | Sahabat Nabi, Penulis Wahyu, dan Pemimpin Khilafah yang Sah. | Dianggap munafik, murtad, dan musuh utama ajaran Islam. |
| Akar Perbedaan dengan Ali RA | Ijtihad politik terkait penegakan hukum atas pembunuh Utsman RA. | Ambisi personal untuk merebut hak Imamah ilahi dari Ali RA. |
| Sikap Sayyidina Hasan RA | Melakukan perdamaian (Sulh) dan menyerahkan kepemimpinan (41 H). | Dianggap terpaksa/taqiyyah karena tekanan militer dan pengkhianatan. |
| Sikap Umat Terhadap Konflik | Menahan diri dari mencela (Kaff al-Lisan) dan mendoakan keridaan. | Menggunakan peristiwa konflik sebagai sarana doktrin pelaknatan. |
4. Sikap Ahlus Sunnah Terhadap Perselisihan Para Sahabat
Ahlus Sunnah wal Jama'ah memiliki metodologi yang jelas dalam menyikapi konflik politik yang terjadi di antara para Sahabat Nabi:
Prinsip Kaff al-Lisan: Menahan lisan dan pikiran dari mencela salah satu di antara para Sahabat. Imam Ahmad bin Hanbal dan Umar bin Abdul Aziz menegaskan bahwa darah yang telah disucikan Allah dari tangan kita, hendaknya disucikan pula lisan kita dari memikirkannya.
Keyakinan Pahala Ijtihad: Para Sahabat yang berselisih berada di antara dua kebaikan: barang siapa yang ijtihadnya benar mendapatkan dua pahala, dan barang siapa yang ijtihadnya keliru mendapatkan satu pahala, sementara niat mereka adalah menegakkan kebaikan.
Kesimpulan
Fitnah dan celaan yang diarahkan sekte Syiah kepada Muawiyah bin Abi Sufyan RA merupakan bagian dari agenda dekonstruksi terhadap sejarah awal Islam. Dengan meruntuhkan kredibilitas para Sahabat yang menjadi perantara sampainya Al-Qur'an dan As-Sunnah, legitimasi syariat Islam itu sendiri ikut terancam.
Bagi umat Islam di Indonesia, memahami sejarah para Sahabat secara adil, ilmiah, dan berlandaskan keshahihan dalil adalah benteng utama. Muawiyah bin Abi Sufyan RA tetaplah seorang Sahabat Nabi, penulis wahyu, dan khalifah yang jasa-jasanya tercatat dalam tinta emas perluasan dakwah Islam.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: