Syiahindonesia.com – Sejarah Islam pada masa awal (Al-Ashr Al-Awwal)—khususnya era Rasulullah SAW, Khulafaur Rasyidin, dan para sahabat—merupakan fondasi peradaban Islam yang dipenuhi dengan keteladanan, persaudaraan, dan perjuangan. Namun, di dalam tradisi historiografi dan doktrin teologi Syi'ah Rafidhah, narasi sejarah tersebut mengalami distorsi dan pemutarbalikkan fakta secara masif.
Demi melegitimasi dogma Imamah (hak ilahi kepemimpinan 12 imam) dan Ismah (kemaksuman), para konseptor teologi Syiah harus merekonstruksi ulang sejarah Islam. Narasi sejarah yang semula berisi kisah kebangkitan dan persatuan umat diubah menjadi narasi konspirasi, pengkhianatan, dan perpecahan.
1. Pola Utama Distorsi Sejarah oleh Sekte Syiah
Dalam mengonstruksi narasi sejarah versi mereka, literatur-literatur Syiah (seperti Kitab Sulaim bin Qais, Al-Ihtijaj karya Al-Thabarsi, dan Bihar al-Anwar karya Al-Majlisi) menerapkan beberapa pola distorsi mendasar:
Demonisasi Generasi Sahabat: Menggambarkan mayoritas sahabat Nabi SAW—termasuk Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, serta para istri Nabi seperti Aisyah RA dan Hafshah RA—sebagai kelompok konspirator yang memusuhi Ahlul Bait dan murtad sepeninggal Nabi.
Anonimisasi dan Penghapusan Peran Sahabat: Menghilangkan kontribusi besar para sahabat dalam pembebasan wilayah-wilayah baru (Futuhat Islamiyah), penyusunan Al-Qur'an, dan penegakan hukum Islam, lalu menggantikannya dengan narasi penindasan.
Rekayasa Peristiwa Ilusi (Mitologisasi): Merekayasa peristiwa-peristiwa dramatis yang tidak memiliki sanad sejarah yang sahih, demi memicu emosi, dendam sektarian, dan kebencian kolektif pengikutnya terhadap generasi awal Islam.
2. Studi Kasus Pemutarbalikkan Fakta Sejarah Utama
Berikut adalah beberapa contoh distorsi sejarah paling menonjol yang dipropagandakan oleh sekte Syiah:
A. Dongeng Penyerangan Rumah Fatimah RA
Klaim Syiah: Syiah mengeklaim bahwa setelah wafatnya Nabi SAW, Umar bin Khattab RA memimpin penyerangan dan pembakaran rumah Fatimah Az-Zahra RA untuk memaksa Ali bin Abi Thalib RA berbaiat kepada Abu Bakar RA. Dalam narasi ini, pintu rumah didobrak hingga mendindih Fatimah yang menyebabkan gugurnya janin beliau (Muhsin).
Fakta Sejarah Otentik: Narasi ini adalah rekayasa tanpa sanad yang sahih dan bertentangan dengan akal sehat serta fakta sejarah. Ali bin Abi Thalib RA adalah sosok yang terkenal pemberani (Asadullah); tidak mungkin beliau membendung penyerangan terhadap istrinya sendiri tanpa perlawanan. Hubungan antara Ali dan para Khulafaur Rasyidin sangat harmonis, terbukti dari Ali yang menamai anak-anaknya dengan nama Abu Bakar, Umar, dan Utsman, serta menikahkan putrinya (Umm Kultsum) dengan Umar bin Khattab RA.
B. Tuduhan Perampasan Kepemimpinan (Tragedi Saqifah)
Klaim Syiah: Pengangkatan Abu Bakar RA di Saqifah Bani Sa'idah dituduh sebagai kudeta politik yang terencana untuk merampas hak kekhalifahan Ali RA yang diklaim telah ditetapkan Nabi di Ghadir Khum.
Fakta Sejarah Otentik: Musyawarah di Saqifah dilakukan secara terbuka oleh kaum Anshar dan Muhajirin untuk mencegah kekosongan kepemimpinan. Ali bin Abi Thalib RA sendiri kemudian secara sukarela memberikan baiatnya kepada Abu Bakar RA, Umar RA, dan Utsman RA, serta menjadi penasihat utama (qadi) pada masa pemerintahan mereka.
C. Narasi Hubungan Ahlul Bait dan Sahabat
Klaim Syiah: Menggambarkan hubungan antara Ahlul Bait dan para sahabat lainnya sebagai hubungan permusuhan abadi yang penuh intrik dan kebencian.
Fakta Sejarah Otentik: Al-Qur'an menggambarkan hubungan antar sahabat (termasuk Ali dan para pendahulu) dengan firman-Nya: "Ruhama'u bainahum" (saling berkasih sayang di antara mereka - QS. Al-Fath: 29). Pernikahan silang antar keluarga dan pemberian nama anak-anak Ahlul Bait dengan nama para Sahabat menjadi bukti tak terbantahkan atas eratnya jalinan ikatan persaudaraan di antara mereka.
3. Dampak Bahaya Distorsi Sejarah Islam
Distorsi terhadap sejarah Islam yang dilakukan oleh Syiah memiliki implikasi keagamaan dan sosial yang sangat merusak:
Merusak Kepercayaan terhadap Transmisi Agama: Jika generasi sahabat yang menerima dan menyampaikan Al-Qur'an serta Hadis dicitrakan sebagai para pengkhianat dan penipu, maka secara otomatis keabsahan Al-Qur'an dan Sunnah yang sampai kepada umat hari ini akan dipertanyakan.
Memelihara Dendam dan Perpecahan Sektarian: Narasi sejarah yang berfokus pada kedengkian, penganiayaan, dan "pembantaian" menciptakan psikologi korban (victim mentality) pada pengikut Syiah, yang pada akhirnya melahirkan kebencian abadi terhadap mayoritas umat Islam (Ahlussunnah).
Mengaburkan Kejayaan Peradaban Islam: Dengan mengabaikan penaklukan-penaklukan besar dan penyebaran Islam ke berbagai benua pada era Khulafaur Rasyidin, Syiah mengecilkan makna kejayaan Islam menjadi sekadar konflik kekuasaan internal.
Kesimpulan
Distorsi terhadap sejarah Islam oleh sekte Syiah merupakan konsekuensi tak terhindarkan dari upaya memaksakan doktrin Imamah yang tidak memiliki landasan dalam Al-Qur'an dan Sunnah. Demi mempertahankan dogmatika tersebut, fakta sejarah diubah, keharmonisan sahabat diputarbalikkan, dan mitos-mitos kebencian diciptakan.
Bagi kaum muslimin Ahlussunnah wal Jama'ah, mempelajari sejarah Islam harus berdasarkan metodologi keilmuan yang jujur, sanad yang sahih, serta prasangka baik (husnuzhan) terhadap generasi terbaik umat Islam yang telah dipuji langsung oleh Allah SWT dan Rasul-Nya.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: